Aku Bukan Pilihan

1683 Kata
Turnamen voli kemarin dimenangkan oleh tim dari sekolah anak pantai. Hari ini mereka akan bertanding kembali melawan tim sekolah anak lapangan. Setiap sekolah memiliki pendukung yang tak kalah semangatnya dengan para pemain. Terlihat dua kubu saling memberi support di sana. Zidhiana berdiri di kumpulan anak pantai bersama Rasty dan Rifai. Sorak-sorai bergemuruh ria memenuhi lapangan. Begitupun juga dengan Bram, dia hadir mendukung tim pemain dari sekolahnya. Dari kejauhan ia menangkap bayangan Zidhiana. Tanpa membuang waktu lagi, spontan ia melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu. “Ehm ...,” Bram berdehem. Saat ini ia telah di samping Rasty. Gadis itu terkesiap melihat Bram. Namun, sahabatnya itu masih belum menyadari kedatangannya. Muncul ide usil Rasty untuk mengerjai Zidhiana. Dia meminta pria itu untuk berdiri menggantikan dirinya di tempatnya saat ini. Sekarang Bram berada tepat di posisi belakang Zidhiana. Dia hanya santai mengikuti tontonan pertandingan tanpa bersorak heboh seperti lainnya. Sambil memperhatikan gerak gerik gadis itu di depannya. “Oper bolanya, bang!” Seru Zidhiana. Menyemangati kakak kelasnya yang bertanding. Merasa kurang lengkap tanpa Rasty di sampingnya, ia langsung menangkap tangan di belakanganya yang sedang terlipat di d**a tanpa melihatnya. Lalu ia menarik menggunakan tangan kirinya agar sang pemilik tangan itu berdiri bersebelahan dengannya. “Sini donk Ras, nggak seru kalo di belakangku,” ujarnya. Tatapannya masih memandang keseruan pertandingan. Bram dan Rasty hanya menahan tawa bersama. “Narik sapa Zi, aku kan di sebelah sini,” godanya. Sahabatnya kini berdiri di sebelah kanannya. Mata Zidhiana membulat sempurna. “Laah, itu tangannya sapa Ras?” bisiknya kikuk. Dia menggigit bibir bawahnya. Perasaannya kini mulai tak karuan melihat reaksi kekehan sahabatnya itu. Dengan keberanian yang tersisa membuatnya memutarkan pandangannya 180 derajat. Dia tersenyum canggung melihat Bram ada di sampingnya. Wajahnya sedikit menekuk karena jengah. Pria itu menyapanya. Di sana ada beberapa temannya bingung memandang Bram. Hanya beberapa saja yang tahu hubungan mereka. Lalu Zidhiana menarik tangan Bram menuju ke belakang meninggalkan kerumunan suporter. “Ya ampun Bram, kamu koq malah di sini. Sekarang tim sekolah kita lagi bertanding looh. Nanti apa kata temen-temenmu?” cecarnya. “Kan mereka yang bertanding, kita ya tetep netral, kan?” jawabnya dengan santai. “Iya Bram, tapi kan-- Pembicaraannya terputus karena pria pujaan hatinya itu langsung menggandengnya untuk bergabung ke tempat mereka menonton tadi. Rasty masih di sana bersama yang lainnya. Pak Suryo pun juga hadir di antara mereka. “Wah bawa suporter baru, Zi?” ledek Pak Suryo. Terkekeh melihatnya yang tengah jengah. “Ra popo yo, Pak (nggak papa ya pak),” sahutnya dengan tersenyum simpul. Bram juga ikut tertawa renyah melihat gelagat gadis itu. Kali ini Zidhiana tidak seperti sebelumnya. Dia merasa canggung bersorak-sorai membara seperti yang lainnya. Alasannya adalah karena jaim (jaga image) di depan Bram. Hingga acara pertandingan selesai, pria itu masih menemaninya di sana. Kedua kalinya tim sekolah anak pantai menyabet kemenangan. Hari ini mereka telah mengalahkan tim voli dari anak lapangan dengan score yang hampir imbang. Mereka berselebrasi bersama menyambut kemenangan sore ini. Gadis itu terlupa akan niatnya untuk menjaga jarak dengan Bram. Karena kesibukannya akhir-akhir ini, dia belum sempat berbicara langsung kepada pria pujaan hatinya itu. Namun, ia tidak bisa menolak menjauhi Bram karena hatinya masih mencintainya. Dddrrtt.. Drrrtt.. Dias menelponnya. Apa mungkin dia juga ada di sini, bathinnya. “Bentar ya Bram, aku angkat telpon dulu,” pintanya. Dia langsung mengangkat panggilan masuk di ponselnya tanpa menjauhinya agar tanpa rasa curiga di benak Bram. Zidhiana : Hallo ... Dias : Masih di lapangan nonton bareng dia, Zi? Zidhiana : Ya gimana A'? Dengan siapa ... Rasty maksudnya? Dias : Bukan tapi cowok itu-- Zidhiana : Hallo A' nggak denger nih, suaranya putus-putus. Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Tut.. Dia sengaja mematikan sambungan ponselnya. Lalu merotasikan bola matanya malas menanggapi sikap Dias yang terlalu posesif. Alasan Dias menelponnya karena Jody si biang kerok melihat mereka bersama saat menonton pertandingan tadi. Sudah tidak diragukan lagi bahwa Jody memanglah si cowok gentong somplak, umpatnya dalam hati. Bram mengernyitkan kening melihatnya mendengkus kesal. Tapi dia tahu kalau yang menelpon tadi adalah Dias. Pria itu selalu menjaga perasaannya tanpa menanyakan lebih. Dia merasa menang saat ini, melihat gelagat Zidhiana yang tidak merespon Dias. Tatapannya yang dingin tidak terbacakan menyatakan bahwa hatinya kini bersorak gembira seperti kemenangan turnamen sore ini. *** Sepulang sekolah, Zidhiana sengaja berhenti di halte yang dekat dengan lapangan pertandingan voli. Dia akan mengecek jadwal pertandingan yang baru saja di tempel di papan pengumuman itu. Semua murid keluar di halte terakhir tersebut. Kakinya melangkah pasti menuju ke papan tersebut. Lalu ia mencatatnya sebentar. Belum sempat ia menyelesaikan tugasnya, tangannya di tarik kencang oleh seseorang. Sontak ia terkesiap melihat Bram mengajaknya pergi segera dari lapangan itu. Mereka menuju rumah kosan pria itu yang tak jauh dari lapangan. Nafasnya masih tersengal-sengal berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dia menatap heran kenapa Bram melakukannya. Sekarang Zidhiana berada di dalam kamar pria itu. “Kamu di sini dulu ya, jangan keluar sebelum aku datang,” pintanya. Diikuti anggukan dari gadis itu dengan raut wajah bingung. Bram mengunci kamarnya dari luar dan meninggalkannya sendirian di kamar itu. Dia memperhatikan kamar minimalis khas anak kosan yang begitu tertata rapi dan bersih. Kekagumannya melihat kepribadian pujaan hatinya membuatnya semakin sulit untuk melupakannya. Matanya tertuju pada sebuah tanda pengenal sekolah yang teletak di atas meja belajar itu. Tertulis nama Brama Prasetya dan data diri lainnya. “Ternyata Bram lahir bulan Januari,” gumamnya. Hampir setengah jam berlalu, pria pujaan hatinya belum juga menemuinya. Netranya mulai berair karena sedari tadi ia hanya menguap berkepanjangan. Akhirnya, dia pun terlelap tak kuasa menahan rasa kantuk yang melanda. Pukul 3 sore Bram kembali ke kamarnya. Dia membuka pintu dan melihat gadis itu menutup matanya dengan damai. Dia memperhatikan gadis itu lekat, ia tidak mau mengusik tidurnya. Akhirnya 10 menit kemudian dia terbangun. Berusaha mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan apakah ia masih sendirian di kamar ini. Yang dia dapati saat ini adalah Bram sedang tersenyum tipis di depannya. “Ada apa ya Bram, koq aku dibawa kesini?” tanya Zidhiana dengan suara serak khas bangun tidur. “Tadi itu ada sedikit tawuran antar pelajar. Katanya mereka mau nyerang murid yang turun dari bis sekolah kalian. Aku khawatir kalo terjadi sesuatu sama kamu, Dhiana,” jelasnya. Menatap sendu gadis yang sedang mengumpulkan kesadarannya. Dia terkesima mendengar alasan Bram menyembunyikannya. Archiles is Back, sosok pelindung untuknya kini hadir di dunia nyata, bathinnya. Dia sangat terobsesi sekali dengan film mitologi Yunani dan Romawi Kuno favoritnya. Lamunannya membayangkan pahlawan kisah film kolosal itu akhirnya buyar. Dia tersentak ketika Bram mencubit hidungnya. Matanya kembali mengerjap-ngerjap. “Kamu kenapa koq bengong gitu?” Bram melihatnya semakin gemas. Entah apa yang dipikirkan gadis itu saat ini tentang dirinya. “Bram, aku mau ngomong,” lirihnya. Sepertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya, pikir Zidhiana. Dia mendesah lelah, lidahnya begitu kelu mengutarakan sesuatu yang mengganjal beberapa hari ini di hatinya. “Maafin aku Bram, mungkin kita nggak bisa sedekat seperti biasanya,” sesalnya. Menggenggam kedua telapak tangan pria pujaan hatinya itu. “Aku ngerti maksudmu, Dhiana,” timpalnya. Lalu dia berdiri membuka laci meja belajarnya dan mengambil sesuatu di dalam sebuah amplop cokelat. Bram memberikan benda itu ke padanya. Lalu Zidhiana membukanya. Dia mengernyit melihat isi di dalamnya. Sebuah gelang perak pemberian Dias yang dia kira telah hilang selama ini. “Maafin aku Dhi ... Aku yang ngerusaknya,” ucap Bram. Dari awal pertemuannya dengan Dias, semua diceritakan olehnya kepada Zidhiana. Kenapa tangannya terluka kala itu juga tak luput ia ungkapkan kecemburuannya dalam diam pada dirinya. Gadis itu merasa bersalah kepadanya. Hampir saja di pelupuk matanya yang telah terbendung akan menitikkan air matanya, tapi ia berusaha menahan untuk tidak terjatuh. “Seharusnya aku yang kamu benci Bram,” ujarnya. Menunduk lesu tak berdaya menatap manik matanya. “Aku nggak mungkin benci kamu Dhi, aku nggak akan menyakiti orang yang aku sayangi,” sahutnya. Dia mengelus lembut puncak kepala kekasihnya itu. Berupaya agar Zidhiana tidak larut dalam kesedihannya. “Bram ... Aku pamit pulang ya. Sekali lagi maafin aku ya Bram,” ucapnya. Menatap lekat pria pujaan hatinya dengan senyumannya yang khas, tanpa dendam, atau mungkin dia adalah makhluk Tuhan yang bisa menyimpan rasa amarahnya. Rasanya dia sangat ingin berhambur ke pelukan Bram. Tapi ia tidak berani melakukannya. Selama ini juga dia tidak pernah berlebihan kepadanya. Setelah itu dia diantar pulang oleh Bram. Mungkin ini terakhir kali mereka berpisah, pikirnya. Pujaan hatinya terlihat tampak biasa saja gelagatnya tanpa rasa benci dan amarah kepadanya. Padahal ia sudah membuatnya kecewa dan terluka. Bram POV Siang itu aku melihat sekawanan anak lapangan akan mengadakan tawuran dengan anak pantai. Alasannya masih belum diketahui jelas mengapa mereka akan menyerang siswa yang turun di bis halte terakhir. Aku tidak sengaja melihat Zidhiana sedang di lapangan saat itu. Sangat khawatir pastinya sesuatu akan menimpanya. Sedangkan ia tidak tahu menahu tentang rencana tawuran itu. Dengan cepat aku menariknya dan membawanya pergi ke kosanku. Di sana ku tinggalkannya sendirian dan ku kunci kamarku agar aman. Lalu aku kembali menuju lapangan melihat situasi yang terjadi. Sempat terjadi adu mulut antar kedua sekolah itu. Tapi akhirnya bisa dilerai karena ada pihak berwajib hadir di sana. Setelah aman aku kembali menemuinya kembali. Ku lihat wajahnya tertidur dengan damai. Matanya sedikit terbuka mungkin ini adalah ciri khasnya. Aku tersenyum memandangnya lekat. Ku elus perlahan rambutnya yang tipis dan halus agar tidak terjaga. Saat ku dekatkan rahang pipiku ke wajahnya, tiba-tiba ia terbangun. Aku sedikit menjauhinya, Dhiana berkali-kali mengerjapkan matanya memandangku. Antara setengah sadar ia menyapaku. Ekspresinya sangat lucu kala itu. Hatiku sebenarnya sakit mendengar permintaannya untuk menjauhinya. Aku juga sadar bahwa aku adalah orang ketiga di antara mereka. Tapi aku yakin suatu saat aku akan memilikinya. Hari ini aku bukanlah seorang p*******g, tapi kemenanganku masih tertunda. Anggap saja ini suatu rintangan dalam menaikkan level kekuatan dan menjatuhkan lawan dalam merebut daerah kekuasaan seperti dalam game perperangan. Aku akan terus mendekatinya, meluluhkan hatinya sampai kapanpun. Tidak perduli dia akan meninggalkanku, aku akan terus mencarinya kemanapun ia pergi. Tuhan pasti mendengar kata hatiku saat ini dan aku yakin akan mengabulkan keiinginanku. Dari sorot matanya terbaca bahwa dia juga sangat memilihku yang terindah di hatinya, tapi aku bukanlah pilihan. Aku adalah cahaya cintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN