Hari demi hari Zidhiana dan Bram terlihat jarang bersama. Pertama-tama terasa sangat sulit dijalani olehnya, mengingat pria itu selalu ada untuknya. Namun, walaupun berjauhan, mereka masih saling komunikasi di ponsel.
Begitu juga dengan Dias, mereka hanya bertemu 2 minggu sekali seperti biasa. Kini Zidhiana tak lagi memikirkan hatinya. Sekarang ia telah di titik lelahnya dan hanya bisa menjalani hari dengan fokus ke sekolahnya saja.
Setelah tamat sekolah ini, Rasty akan melanjutkan pendidikan diklat guru TK di Batam. Sedangkan ia masih belum jelas akan kemana. Zidhiana merasa jenuh, ingin rasanya ia bekerja dulu baru melanjutkan kuliahnya.
Pagi itu di sekolahnya kedatangan tamu dari team promosi tempat kursus yang orientasinya seperti kampus. Mereka datang dari kota Pekanbaru. Masa pendidikan hanya ditempuh dalam setahun untuk mendapatkan gelar Diploma Satu dan sudah langsung terdaftar di salah satu universitas swasta jika kita ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya tanpa mengulang dari awal.
Ada beberapa jurusan yang mereka tawarkan. Salah satunya jurusan Accounting Bussiness yang menjadi bahan pertimbangannya. Karena kakeknya dulu pernah berjanji akan menurunkan ilmu akuntansinya. Lalu ia menyimpan brosur tersebut di bawah laci mejanya.
Ternyata Nova juga tertarik untuk mengambil jurusan Informatika. Seandainya mereka diizinkan, mereka berencana akan tinggal bersama di sana. Karena kedua gadis itu masih memiliki hubungan persaudaraan.
Bel sekolah telah berbunyi, seluruh siswa bergegas meninggalkan kelas menuju bis sekolah masing-masing. Zidhiana dan Rasty berhambur bersama mencari kursi kosong di sana. Akhirnya mereka bisa duduk bersebelahan.
“Jadi ikut kursus itu, Zi?” tanya Rasty.
“Aku izin dulu ke ibuku. Kalau boleh, aku ambil jurusan itu,” sahutnya.
Rasty menatap iba sahabatnya. Sebelumnya ia melihat Zidhiana bersemangat ingin menjadi guru TK juga seperti dirinya. Tapi ibunya tidak mengizinkannya. Gadis itu kini bingung mau kemana melanjutkan pendidikannya. Sementara dia memiliki nilai akademik yang bagus.
Sesampai di rumah, Zidhiana menceritakan program kursus itu kepada ibunya. Dia meminta agar tidak dikuliahkan karena sudah jenuh. Bekerja adalah impiannya akhir-akhir ini.
Dia akan menunjukan brosur yang disimpannya tadi ke ibunya. Berkali-kali ia membongkar isi tasnya, tapi tak menemukannya. Akhirnya setelah beberapa saat ia teringat brosur tersebut tertinggal di laci meja kelasnya.
Lalu gadis itu menelpon Rasty untuk menemaninya ke sekolah siang ini juga. Malangnya, ponselnya pun tidak ditemukannya juga. Zidhiana beberapa kali menelpon ponselnya. Terdengar nada sambung bersenandung, tapi tak terjawab.
Zidhiana mengacak rambutnya kasar dan mendengkus kesal menyesali kecerobohannya. Mungkin ia tadi meninggalkan benda pipih kesayangannya itu di laci mejanya di sekolah. Tak membuang waktu lama, dia bergegas melajukan kendaraannya ke sekolah tanpa ditemani oleh siapapun.
Sesampainya di sana ia meminta tolong kepada penjaga sekolah yang telah mengenalnya dari kecil. Kebetulan rumah beliau hanya di samping sekolah.
“Nah untung Pakdhe belum pulang, bisa minta tolong bukaan kelas Zi nggak, Pakdhe? Ponsel Zi ketinggalan di dalam,” sesalnya.
“Ayo tak anterin, mugi-mugi iseh ono yo (ayo saya antarkan, mudah-mudahan masih ada ya),” harap beliau. Lalu membukakan pintu kelas itu.
Zidhiana berhambur menuju mejanya di belakang, lalu memeriksa isi lacinya. Yang ditemukannya hanya brosur tadi, tapi ponselnya entah dimana. Dia mencoba menghubungi lagi menggunakan ponsel Bagas yang dipinjamnya tadi, tapi sayangnya sudah tidak aktif.
Beliau mengernyitkan kening melihatnya. “Wis nemu, Zi (sudah ketemu, Zi)?" tanya Pakdhe penjaga sekolah.
“Hilang Pakdhe,” lirihnya. Menunduk lesu lalu berpamitan kepada beliau.
Sesampai di rumah, dia memberikan brosur kepada ibunya. Beliau akan mempelajarinya terlebih dahulu. Lalu Zidhiana pergi ke bilik peraduannya. Gadis itu memijit pelipisnya pelan, memikirkan bagaimana caranya ia bisa menemukan kembali ponselnya itu.
Hingga malam tiba ia masih belum menemukan titik terangnya. Uang tabungannya tidak cukup untuk membeli ponsel baru. Dia mendesah lelah dalam kegelisahannya.
Langit-langit di kamarnya menjadi saksi bisu pandangan kosongnya saat ini. Sesekali dia mengerjapkan matanya ketika kesadarannya kembali. Beberapa saat kemudian terbit senyum menyeringai di wajah kusutnya. Dia sudah tidak sabar menunggu keesokan hari. Suatu teknik mengintimidasi menurutnya, tapi entah berhasill atau tidak ia akan mencobanya.
***
Pagi ini Zidhiana menceritakan kepada Rasty dan Rifai tentang ponselnya yang hilang. Kemudian ia mengajak mereka bekerja sama menjalankan misi gilanya. Dan kedua sahabatnya itu kompak mengangguk setuju.
Ketika para siswa sedang duduk santai di dalam kelas sebelum pelajaran dimulai, Zidhiana melancarkan aksinya. Lalu ia memandang Rasty yang sedang menunggunya berbicara.
“Tahu nggak Ras, aku kemarin ke paranormal. Katanya, orang yang ngambil ponselku itu orang terdekat alias temen sekelas kita juga,” ungkapnya dengan nada keras. Netranya bak radar merekam reaksi murid yang mendengar ucapannya tadi.
“Apa ... Ponselmu hilang, terus nanya ke paranormal gitu?” Rifai terkesiap mendengarnya.
Murid yang lain mendekati Zidhiana karena kekepoan mereka. Lalu ia menceritakan semuanya. Di sana ia menangkap dua siswa yang sedang duduk di samping jendela dengan tatapan sinis.
“Eh kalian tahu nggak apa kata paranormal itu?” sambungnya lagi. Saatnya dia mulai beracting memancing respon teman-temannya.
Zidhiana memasang ekpresi wajah ketakutan agar lakonnya tidak mencurigakan. “Yang ngambil katanya nggak akan tenang, aku nggak tahu dibikin apa mereka itu. Kita lihat aja beberapa hari lagi kalau ada yang sakit di antara kita.” Dia menjelaskan begitu mendramatisir sehingga murid yang mendengarkannya ikut merasakan aura gelap kekuatan mistis ceritanya.
Dia memicingkan matanya dan tersenyum smrik menangkap gelagat dua murid yang sedang dirudung rasa bersalah itu. Tapi ia tidak bisa menuduh kalau mereka adalah pencurinya.
Hari pertama berlalu, namun caranya belum berhasil. Zidhiana meminta agar Rasty dan Rifai mau beracting kembali bersamanya di hari kedua ini. Dia menceritakan juga bahwa ada dua teman sekelasnya yang gelagatnya mencurigakan.
“Gimana Zi hari ini paranormalnya mau jalanin aksinya, kan?” ujar Rasty dengan suara yang sedikit keras. Tujuannya agar memberi penekanan kepada mereka si pelaku.
“Kita lihat aja Ras, kalo mereka nggak ada itikad baik. Aku nggak tanggung jawab,” timpalnya pedas. Mengangkat bahunya tidak tahu.
Semakin terlihat mereka yang dicurigai olehnya menjadi salah tingkah dibuatnya. Memang ini adalah keteledoran Zidhiana, semua itu diakuinya. Tapi ia belum puas jika belum memberi pelajaran psikologis untuk si pelaku.
Padahal beberapa hari lagi adalah ulang tahun Bram. Dia ingin mengucapkan selamat kepadanya. Dan pastinya pria itu mencari-carinya beberapa hari ini. Mungkin dengan hilangnya ponsel ini, dia bisa menjauhi pria pujaan hatinya selamanya.
Di hari ketiga tanpa ponsel ia mulai terbiasa. Pagi itu ketika sampai di kelasnya, matanya berbinar cerah mendapati ponsel kesayangannya telah kembali di laci mejanya. Dia langsung menyalakannya, ternyata SIM cardnya telah dibuang oleh pelaku.
Baginya bukan suatu masalah besar, ia akan mengganti dengan nomer yang baru. Yang terpenting ponsel hadiah dari ayahnya itu kembali utuh. Akhirnya actingnya beberapa hari ini telah berhasil.
“Attention please ... Ponselku udah balik lagi nih. Alhamdulillah,” ucapnya penuh rasa syukur.
“Akhirnyaaaa ... Mudah-mudahan yang sudah ngembaliin dapet hidayah ya,” sindir Rifai. Menatap Zidhiana dengan tersenyum tipis.
Semua teman-temannya di kelas mengaminkan apa yang diucapkan Rifai itu. Setelahnya mereka bertiga saling terkekeh geli. Entah kenapa Zidhiana mempunyai ide gila mengintimidasi seseorang seperti itu. Hanya dia yang tahu dari mana akal bulus itu datang.
***
Karena kesibukannya, Zidhiana hampir terlupa mengucapkan selamat ultah kepada Bram. Spontan ia mengirimkan pesan singkat untuk pujaan hatinya itu.
+62819817xxx : Happy Brithday Bram. Semoga yang dicita-citakan di tahun ini akan tercapai ya. Aamiin.
Ting..
Ponsel Bram berbunyi di dalam saku celana santainya. Saat ini pria itu sedang menyiapkan pakaian dan kebutuhan lainnya untuk magang selama 6 bulan di luar kota. Sudah 2 hari ini ia pulang ke rumah orang tuanya di Batam.
Dia menukikkan alisnya menatap nomor yang tak dikenalinya. Bunyi pesan itu membuatnya mengelengkan kepala.
Bram : Terima kasih ya ucapannya. Tapi maap, aku ultahnya masih 10 hari lagi. (emoji smile)
Sontak netranya membulat membaca balasan pesan dari Bram. Dia menepuk keningnya dan mengusap wajahnya. Kepercayaannya dirinya memang di ambang batas. Dia terlupa tanggal pastinya waktu membaca kartu identitas milik Bram kala itu.
“Astaga, koq bisa salah tanggal sih. Bikin malu aja,” gerutunya. Mungkin karena akhir-akhir ini ia terlalu banyak memikirkan tentang ponselnya yang hilang.
Karena jengah, ia tidak membalas pesan yang dikirimkan Bram. Lebih baik ia mengabaikannya saja. Dia takut nanti cahaya hatinya akan kembali bersinar. Saat ini ia hanya ingin fokus ke sekolahnya saja.
Dddrrtt.. Ddrrrtt..
Ponselnya berbunyi, ia melihat Bram menelponnya. Hingga panggilan ke 5 ia tetap tak mau mengangkatnya. Saat ini ia benar-benar ingin menikmati kesendiriannya.
Rencananya dia akan mengganti nomernya dengan yang baru agar Bram tidak dapat menghubunginya lagi. Tangannya meraih gantungan kunci kesayangannya yang tersemat di tasnya. Dia memandangi benda yang terukir indah di telapak tangannya. Kemudian ia menciumnya, mengingat kisah indahnya yang singkat bersama Bram pujaan hatinya.
Cendera mata ini akan selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Walaupun dia tidak bisa menggapai si pemberi kenang-kenangan ini, tapi namanya selalu terukir di lubuk hatinya yang terdalam. Itu janjinya.
***
Tok.. Tok.. Tok..
Zidhiana membukakan pintu. Seorang ibu paruh baya datang bersama anaknya. Mereka adalah Nova dan ibunya.
“Monggo budhe,” sapanya. Mempersilahkan masuk saudaranya itu.
“Ibu ada nggak, Zi?” tanya beliau.
Dia memanggil ibunya, lalu pergi ke belakang menyiapkan minuman dingin karena siang itu udara terasa sangat gerah sekali. Sirup jeruk menjadi pilihannya untuk mereka.
Di ruang tamu, Martinah sedang berbincang tentang brosur program kursus bersama ibunya Nova. Zidhiana juga hadir di tengah mereka.
“Jadi gini dek Mar ... Seandainya Zi diizinkan kursus di sana, nanti bareng si Nova. Mbak mau nganter sekalian lihat tempatnya di sana,” jelas beliau.
“Kalo ada barengannya apalagi saudara sendiri, saya malah nggak khawatir mbak Lastri,” sahut ibunya Zidhiana. Mengangguk setuju mengikuti saran saudaranya itu.
Lastri sangat antusias mendengarnya. “Nanti di sana mbak nyariin kosannya sekalian dek. Semingguan mbak rencananya di sana,” sambungnya.
“Sebenernya saudara dari omanya Zi banyak di sana mbak. Tapi alamatnya jauh dari tempat kursusnya. Lebih baik nanti cari tempat kosan yang dekat-dekat aja dari sana,” ujar Martinah. Diikuti anggukan iya oleh Lastri.
Hampir sejam lebih mereka membahas tentang rencana keberangkatan anak-anak mereka. Padahal kelulusan masih setahun lagi. Ini mempermudah mereka nantinya menentukan pilihan kemana mereka akan melangkah setelah tamat sekolah.
Zidhiana dan Nova juga berhubungan baik di sekolah. Ini adalah pengalaman pertama mereka merantau dan jauh dari orang tua. Susah senang nantinya akan dijalani mereka bersama.