Setahun berlalu..
Hari kelulusan telah tiba. Zidhiana dan murid lainnya berselebrasi bersama. Ada yang mencorat-coret baju, rambut, hingga tubuh mereka. Tradisi ini selalu dilakukan oleh para siswa terkecuali dirinya.
Dia merasa risih dan menolak melakukan aksi yang dibilang trend dalam kelulusan itu. Hanya dirinya sendiri terlihat dengan tampilan baju yang masih utuh dan bersih. Untung saja teman-temannya bisa menjaga privasinya.
Seperti biasanya, gadis itu mendapat nilai terbaik dalam akademiknya. Sebagai anak sulung, ia harus menjadi suri tauladan. Demikian janjinya.
Malam itu Dias menemuinya di rumah. Hampir sebulan mereka tidak bertatap muka, hal itu sudah tak dihiraukan lagi olehnya. Gadis itu sudah terbiasa dengan kesendiriannya selama ini.
Dia menatap lekat pria bermata hazel yang kini duduk di sampingnya. Benarkah nanti dia akan menjadi calon imamnya kelak, bathinnya. Hanya Tuhan yang akan menuntun kemana hatinya akan bertaut.
“A' ... Seminggu lagi Zi berangkat ke Pekanbaru. Aa' nggak aneh-anehkan di sini?” tanyanya polos.
Dias terkekeh mendengar pertanyaannya yang nyeleneh itu. “Ya ampun Zi, kamu jangan mikirnya kayak gitu ya,” protesnya. Membelai pipi gadis itu yang selembut kulit bayi.
Sebenarnya dia tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan Dias. Entah kenapa perasaannya kuat kalau ia dan pria tersebut hanya sebagai status saja. Sementara itu memorinya perlahan mengkikis kisahnya bersama Bram. Hanya tersisa kepingan kecil di ingatannya.
Dimana gerangan pujaan hatinya itu berada, dia pun tak tahu. Hilang bagai ditelan bumi. Tapi kenangan darinya masih tetap tersimpan dan terjaga.
“Koq ngelamun Zi?” tegur Dias. Menukikkan kedua alisnya.
Dia tersetak, lamunannya buyar seketika. Gadis itu mengerjapkan matanya, lalu tersenyum tipis memandangnya. “Nggak apa-apa koq A' ... Mungkin cuman kecapean aja,” sahutnya. Menutupi kebohongannya itu.
Dias mengeluarkan dompet di dalam saku celananya, kemudian mengambil sesuatu. “Ni disimpen ya fotoku, kalo kamu kangen bisa dilihat. Dicium juga boleh,” godanya. Membuat wajah Zidhiana semerah tomat saat ini.
Selalu saja Dias membuatnya jengah dengan tingkah kekonyolonnya itu. Kemudian manik matanya tak sengaja menangkap sesuatu di dalam dompet berwarna cokelat tua tersebut.
“Itu foto sapa A' ... koq ada anak kecil?” tanyanya curiga. Pikirannya mulai kalut saat ini.
“Ini tuh foto ponakanku yang kemarin baru lahir, sekarang udah mulai pinter jalan,” timpalnya. Menunjukkan foto itu kepadanya.
Zidhiana terpaku mengamati foto gadis kecil itu. “Bapaknya bule yaa A'?” tuturnya kembali. Dias sontak terkekeh geli menatapnya.
“Aku juga nggak ngerti. Di keluargaku itu banyak yang rambutnya pirang. Jadi nanti kalo kita punya anak, bisa jadi kayak bule gitu,” ungkapnya. Menahan tawa sambil menunggu reaksi seseorang di sampingnya.
Zidhiana mendelik, bisa-bisanya Dias berangan jauh seperti itu. Mungkin saja dia memang benar-benar ingin serius dengannya. Mengingat umurnya yang sudah cukup dewasa untuk memikirkan sebuah pernikahan, bathinnya.
***
Pesawat keberangkatan mereka tinggal beberapa jam lagi. Zidhiana telah mempersiapkan kebutuhannya selama ia tinggal jauh dari keluarganya. Lastri, Ibunya Nova juga turut serta mengantarkan kedua gadis itu.
Martinah memeluk putrinya erat, ini adalah pertama baginya berjauhan dengan anak sulungnya itu. Ia hanya mengantarkan sampai di pelabuhan ini saja. Sepenuhnya ibunya menitipkan Zidhiana kepada Lastri.
Mereka menyeberangi lautan menggunakan kapal cepat menuju pulau Batam. Sesampai di pelabuhan, terlihat Dias telah menunggunya.
“Bentar ya budhe, Zi mau ketemu sama temen dulu di sana,” tuturnya. Menemui Dias yang berdiri di pintu kedatangan.
“A' ... Zi pergi dulu ya. Inget looh pesen Zi yang kemaren itu,” sindirnya. Menyalami tangan Dias.
Dias mengelus puncak kepalanya lembut. “Iya yank, belajar yang bener. Jangan banyak hang outnya ya,” pintanya. Lalu Zidhiana melambaikan tangannya.
Tak sengaja manik mata Dias menangkap gantungan kunci yang tersemat di tas ransel gadis itu. Ingatannya masih cukup handal untuk mengetahui siapa pemberi cendera mata tersebut.
Dia menggertakkan giginya kesal. Ternyata pria itu yang dulu pernah mendekati kekasihnya. Tapi mereka sudah tidak bersama lagi. Kenapa Zidhiana masih menyimpan dan membawa kenangan itu bersamanya, pikirnya.
Kini Zidhiana telah duduk di kursi penumpang pesawat. Mereka akan take off 10 menit lagi. Sabuk pengaman telah dipasangnya. Ini adalah pengalaman keduanya menggunakan pesawat. Tangannya terasa dingin, ia mulai gelisah dan merasa ketakutan. Dia tidak ingat lagi saat pertama menaiki burung besi ini. Kala itu usianya masih 2 tahun.
Bibirnya tak henti melafalkan doa-doa. Hingga pesawat telah mencapai ketinggian 35.000 kaki dari permukaan laut, ia masih dirudung rasa cemas. Sampai akhirnya gadis itu merasakan detak jantungnya perlahan kembali normal. Tidak ada lagi turbulansi kecil yang dirasakannya.
Penerbangan mereka hanya memakan waktu sekitar 50 menit. Dia membuka jendela pesawat, terlihat awan putih berarak seluas matanya memandang. Terasa damai melihat ketenangan dari ketinggian ini, bathinnya.
Nova dan ibunya sedang tertidur. Mungkin mereka terlalu lelah mempersiapkan perjalanan ini. Terlihat dari travel bag yang dibawa sangat membuat Zidhiana menarik nafas panjang.
Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi landing dengan selamat. Sesampai di bagasi, mereka menurunkan barang lalu mencari taxi. Setengah jam kemudian mereka tiba di asrama yang disediakan oleh pihak lembaga kursus tersebut.
Di asrama ini terlalu padat dan banyak sekali calon peserta kursus dari berbagai kota. “Budhe, coba kita jalan-jalan ke belakang gang sana yuk. Siapa tahu ada tempat kosan,” ajak Zidhiana.
“Iya buk, kalo Nova lihat di sini terlalu rame,” dukungnya. Lastri mengangguk setuju, lalu mereka pergi menyisiri perumahan tersebut.
Sudah beberapa rumah kosan mereka kunjungi, namun belum menemukan satupun tempat yang cocok. Hari sudah hampir magrib, akhirnya mereka mendapatkan kamar kosan tepat 100 m dari tempat kursus kedua gadis itu.
Pemilik rumah kosan ini adalah seorang dosen di salah satu universitas di Pekanbaru. Mereka hanya memiliki satu kamar kosong di lantai dua. Dan ini akan dijadikan sebagai kamar Zidhiana dan Nova.
Dari sekolah anak pantai, ada 5 siswa yang masuk ke lembaga kursus itu. Namun, Zidhiana sendiri yang berbeda jurusannya dengan mereka. Gadis itu tetap dari tujuan awalnya yaitu mengambil jurusan Accounting Business.
***
Seminggu telah berlalu. Lastri juga sudah kembali ke Bintan. Hari ini terakhir mereka menjalani ospek. Disana mereka saling berkenalan dengan dosen-dosen, para staf, dan mahasiswa senior.
Sekarang hanya tinggal mereka saja di kamar berukuran 3x2 meter itu. Tampak kedua gadis itu sedang duduk di teras menikmati langit senja.
“Nov ... Kamu tahu kan, cowok yang belagu sok akrab di ospek itu?” cibirnya.
“Ooh itu ... si Fajar. Padahal dia banyak yang suka looh. Lihat aja waktu dia nyalonin jadi ketua, banyak yang milih, kan?” jelas Nova. Meyakinkan saudaranya itu.
Zidhiana merotasikan bola matanya malas. “Tengil banget, aku malah ilfeel,” umpatnya cuek. Memandang burung-burung bergelantungan di tiang listrik.
Saudaranya itu hanya tertawa renyah mendengar ucapanya. “Pertama-tama emank nggak suka Zi, lama-lama bisa jadi demen looh,” ledeknya.
Saling melepas tawa untuk sore ini membuat mereka dapat mengusir rasa jenuh bersama. Saat ini Zidhiana dan saudaranya itu belum memiliki banyak teman, berbeda dengan mahasiswa lainnya yang tinggal di asmara.
Pagi ini sang surya menyebarkan cahaya memenuhi jendela kamar minimalis itu. Ini adalah hari pertama Zidhiana menempuh pendidikan di kota yang baru beberapa hari dikunjunginya. Gadis itu menyambut pagi dengan hati yang penuh suka cita.
Butuh waktu sejam baginya untuk menghias wajahnya. Ini adalah pengalaman pertamanya mengenal alat-alat tata rias. Wajahnya kini terlihat lebih segar dan cantik dengan make up minimalis.
Dipadukan dengan seragam blezer hijau, rok hitam selutut, baju kemeja putih dan dasi hitam. Sepatu pantofel dengan tinggi 5 cm menyempurnakan kaki jenjangnya.
Di lembaga ini mereka memang dilatih untuk siap bekerja setelah setahun menimba ilmu. Begitu juga dengan penampilan mereka dituntut seperti masuk dalam dunia kerja. Agar mereka mudah beradaptasi nantinya.
Gadis itu menyapa teman-teman sekelasnya dengan senyuman duchenne khasnya. Karena kepribadiannya yang luwes dan ramah, ia disenangi oleh mereka.
Cklek..
Seseorang membuka pintu ruangan. "Good morning," sapa seorang dosen bahasa Inggris. Pria itu masuk lalu meletakkan tas hitamnya di kursi.
“Morning Sir,” sahut mereka kompak. Lalu mendengarkan dosen tersebut memperkenalkan dirinya dengan aksen English yang fasih.
Ada beberapa dari mereka yang mengerti, ada juga yang hanya terkekeh geli salah menerjemahkan. Tugas mereka saat ini adalah memperkenalkan diri di depan kelas satu persatu menggunakan bahasa Inggris.
Zidhiana mengakui dirinya tidak terlalu mahir dalam struktur bahasa asing global ini. Tapi ia mampu berkomunikasi dengan lancar dalam percakapan.
Hal ini membuat dosen yang lebih dikenal dengan nama panggilan Mr. Ing atau Mr. English itu tertarik dengan kepribadiannya. Bahkan Zidhiana berdiri lebih lama memperkenalkan dirinya di depan kelas dibandingkan lainnya. Pertanyaan juga mengantri tak kurun habis dari dosen tersebut.
Dua jam berselang, Nova telah menunggunya di kantin. Zidhiana hampir bingung mencari tangga menuju ke sana. Kebetulan sekali ia berpapasan dengan asisten dosen komputer.
“Kak, dimana ya lewatnya kalo mau ke kantin?” tanyanya bingung.
Pria itu tersenyum tipis melihatnya. “Kantinnya ada di lantai paling atas, lewat dari tangga ini aja,” jelasnya. Zidhiana berterima kasih, lalu menuju ke rooftop tersebut.
Di sana telah dipadati oleh mahasiswa, dia clingukan mencari Nova. Lalu ia menekan nomor yang sangat dihafalnya itu pada ponselnya. "Hallo Nov, ada di--
Tubuhnya sedikit terhuyung ke depan karena sikutnya bersinggungan dengan seorang pria yang berjalan. Untung saja ponselnya tidak terhempas dari genggamannya.
Dia mendelik menatapnya. Seorang pria berwajah setengah oriental, beralis tebal, gayanya yang tengil terekam selalu di memorinya. “Maaf ya, nggak sengaja,” ucapanya. Diikuti anggukan malas Zidhiana.
Nova menghampirinya bersama Sari teman sejurusannya. “Napa Zi, koq cemberut gitu?” ujarnya.
“Itu si bocah tengil, jalan nggak pake mata. Maen tabrak aja,” omelnya. Mengerucutkan bibirnya sebal.
Mereka hanya terkekeh geli melihatnya, lalu menggandengnya menuju ke meja mereka. Zidhiana masih menyesuaikan makanan khas di sini dengan indera pengecapnya. Ternyata enak sekali masakan Minang di kantin ini.
Di sini juga menyediakan ketering buat mahasiswa. Mereka lalu mendaftar ke ibu pemilik kantin. Sehari akan dihantarkan 2 kali ke kosan kedua gadis itu. Jadi mereka tak perlu repot memikirkan urusan masak memasak.
Di seberang meja Zidhiana, tepatnya si pria tengil itu duduk mencuri pandang terhadapnya. Sempat tertangkap dari kedua manik mata Zidhiana, pria menyebalkan itu memperhatikanya. Tapi dia hanya menganggap angin lalu saja.
Jam istirahat telah berakhir, mereka mulai kembali ke ruangan masing-masing. Selanjutnya Zidhiana mulai mempelajari mata kuliah Akuntansi Bisnis. Sebenarnya dia sangat tidak tertarik dengan angka-angka yang tersusun rapi dalam jurnal yang telah ditentukan itu.
Mencari keseimbangan antara kredit dan debit. Ini yang membuatnya hampir frustasi mencari hal yang sulit dipahaminya. Dia mendesah lelah, memutarkan pena biru di jari jemari lentiknya. Ibarat menghabiskan waktu sebulan untuk 2 jam pertemuan ini.
Berbeda dengan materi English, ia merasa lebih enjoy saat mengerjakannya. Kenapa tujuannya jadi berbeda begini, bathinnya. Seharusnya dia lebih memfokuskan Akuntansi dibanding English.
Tapi sekarang sudah terlambat untuk pindah ke jurusan lain. Gadis itu mencoba mencintai. Bukan menyukai seseorang melainkan mata kuliah utamanya itu. Ternyata sulit juga menjadi seorang akuntan, bathinnya mengeluh.