Pria Tengil VS Gadis Cuek

1617 Kata
Jauh dari ibunya, terkadang gadis itu sangat sulit menyapa subuh. Matahari kini telah bertengger di ufuk timur memancarkan cahayanya. Saat inilah ia mulai menggeliat dengan netra mengerjap-mengerjap perlahan terbuka. Kemudian ia beranjak dari pulau kapuk menuju bilik mandinya. “Aku berangkat dulu ya Nov,” pamitnya. Lalu menuruni anak tangga setelah memasang sepatu high hillnya. Pagi ini Zidhiana berangkat dengan berlari-lari kecil karena hampir terlambat. Sampai-sampai kakinya lecet, dia meringis menahan sakit dan rasa tak nyaman. Gadis itu membuka pintu kaca dengan cepat, kemudian berhambur menuju ruang kelasnya. Sempat ia menyapa resepsionis yang bertugas pagi ini tanpa melihat siapa di sekeliling ruang tersebut. “Itu sapa ya kak?” Matanya tak berkedip menangkap bayangan gadis itu berlalu di hadapannya. Resepsionis yang sedang menyusun file mencoba menjawabnya. “Kayaknya anak jurusan Accounting Business, hayo kenapa?” tanya karyawan itu. Menaikkan alisnya sebelah. Pria itu hanya tersenyum tipis karena ia tidak ingin merespon ledekan resepsionis tersebut. Kemudian ia pun meninggalkan ruangan itu juga. Zidhiana mengatur nafasnya yang masih terengah-engah setelah ia duduk di kursinya. Kenapa harus di lantai tiga juga ruangan ini, gerutunya di dalam hati. Ia mengambil kaca kecil di tasnya, lalu melihat riasannya yang masih sempurna. Dia duduk di barisan terdepan karena ia tak mau menggunakan kacamata minusnya. Terlihat seperti kutu buku atau lebih tepatnya kurang modis menurutnya. Kacamatanya sudah mencapai -2.50 saat ini, baginya ini sudah membuatnya berat dalam melihat jarak kejauhan apalagi tulisan kecil dengan jarak semeter. Di ruangan ini ada sekelompok gadis yang berasal dari kota yang sama. Mereka sangat ramah sekali dengannya dan dia memberi gelar mereka The Centil Genk. Salah satu di antara mereka menyarankan Zidhiana untuk menggunakan softlense agar mudah dalam penglihatannya. Dia pun menyetujuinya, setelah pulang nanti ia akan menuju optik yang tak jauh dari lembaga kursus ini. Setelah kelas selesai, mereka akan makan bersama di kantin roof top siang ini. Zidhiana sudah duduk di kursinya, sambil menunggu mereka mengantri makanan. Ketika ia sedang asyik membaca pesan singkat di ponselnya, tiba-tiba saja seorang pria dari arah tangga datang dan langsung duduk tepat di sampingnya. Gadis itu terkesiap dan netranya membulat sempurna melihatnya. “Please, kali ini bantu aku. Biarin aku duduk sebentar di sini,” pinta pria itu dengan nada memohon. Zidhiana mengernyit menelaah ucapan pria tengil itu. Dia adalah Fajar, entah kenapa gadis itu harus mengikuti sandiwaranya. Teman-temannya yang melihat mereka sedang duduk bersebelahan langsung memutar balik ke meja lainnya. Ia sempat merasa tidak enak dengan peristiwa ini. “Tapi nggak gratis juga ya,” sahutnya ketus. Dia mendengkus kesal lalu melanjutkan makannya tanpa menghiraukan tatapan pria tengil yang sedikit menggodanya. Dia hanya mengulum senyum geli memandang ekpresi kesal gadis yang ada di sebelahnya ini. “Aku Fajar, maaf ya udah ngeselin kamu,” ucapnya. Mengulurkan tangannya. “Aku Zi.” Membalas jabatan tangan pria itu sambil tersenyum tipis. Tampak seorang gadis berambut gelombang menatap mereka sengit. Zidhiana sempat menangkap raut aura yang tidak bersahabat terbit di wajahnya. “Hmmm ... Kecentilan banget sih jadi cewek," umpat Fajar. Dia tersenyum smirk, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke gadis yang ada di sebelahnya. Zidhiana memajang wajah datar. Apa sih istimewanya ni cowok nyampe dikejar-kejar gitu, pikirnya. “Aku duluan ya, temen-temenku udah pada turun.” Berdiri akan meninggalkan pria tersebut. “Kita bareng aja ya turunnya, sekalian aku mau pulang," ajak Fajar. Zidhiana hanya mengangguk, lalu turun bersama. Mereka berpisah setelah gadis itu masuk ke dalam ruangannya. Setelahnya, ia mendengar suara hiruk pikuk menggodanya. Siapa lagi kalau bukan The Centil Genk dan yang lainnya. Mulai satu persatu pertanyaan dicecarkan oleh mereka kepadanya. Kekepoan mereka sudah diambang batas, namun sia-sia karena ia hanya menanggapinya dengan kekehan kecil. Sikap misteriusnya membuat mereka gemas tentang hubungannya dengan Fajar. “Aku duluan ya, mau ke optik dulu." Dia berpamitan kepada The Centil Genk. Lalu menuruni anak tangga dengan cepat. Ia sudah tidak sabar ingin mencoba menggunakan softlense. Langkahnya terhenti ketika mendapati Fajar menunggunya di depan resepsionis. "Udah ditunggu dari tadi dek sama Fajar,“ ujar karyawati itu. Dia mengenyit, kenapa pria ini harus menunggunya. Padahal ia bisa pulang dari tadi dan bisa bersantai di kosannya. “Yuuk Zi, ikut aku,” pintanya. Fajar bukan tipe orang yang suka basa basi di depannya, berbeda sekali saat ia tebar pesona kepada lainnya. “Maaf lain kali ya, aku ada urusan bentar,” tolak Zidhiana halus. Tapi kasihan juga ia sudah menunggunya dua jam lebih di sini, bathinnya. “Kalo gitu aku temani kamu aja ya,” tawar Fajar. Bukan namanya Fajar kalau dia selalu bersikeras atas keinginannya agar tercapai. Akhirnya gadis itu mengajaknya ke optik. Di sana ia mencoba berbagai macam warna yang cocok dengan iris matanya. Pilihannya jatuh ke warna hazel, warna matanya tampak kecokelatan dan tidak terlalu mencolok. Pria itu menunggunya di depan tanpa menemaninya mencoba softlense. Karena ia merasa ngilu melihat Zidhiana memasukkan benda cekung tipis itu ke dalam bola matanya. “Gimana bro, udah keren belum?” tanyanya cuek. Mengedipkan matanya sebelah. Tanpa rasa canggung, Fajar mengacak-acak gemas rambut Zidhiana. “Udah cantik, sekarang malah tambah--- Gadis itu menukikkan alisnya karena ini pertama kalinya ia bertemu seseorang yang dengan santainya membuat rambutnya berantakan. “Aduh, aku tuh minta pendapat. Bukannya rambutku jadi berantakan gini,” omelnya. Melihat wajahnya yang sudah menekuk dengan bibir yang mengerucut malah membuat pria itu terkekeh geli. “Cantik tapi galak ya,” godanya. Malas meladeni si pria tengil, Zidhiana memilih meninggalkannya. Ia berjalan lebih cepat agar Fajar tidak mengikutinya lagi. Tiba-tiba tangan kirinya ditarik dari belakang, membuat langkahnya terhenti. “Jangan marah donk Zi, aku kan cuma bercanda.” Mengacungkan dua jari sebagai tanda damai. “Yuuk, kita mampir dulu di situ,” ajaknya. Menunjuk arah coffee shop yang ada di seberang jalan. Fajar tetap menggandeng tangan Zidhiana. Walaupun gadis itu sudah menolak tetapi Fajar bersikukuh tak mau melepaskannya dengan alasan ia hanya ingin Zidhiana menyeberang jalan dengan aman bersamanya. Ada rasa jengkel yang teramat dalam Zidhiana menghadapi perlakuan Fajar di hari pertama mereka berkenalan. Tetapi di balik tingkah tengilnya, pria ini sangat perhatian. Akhirnya ia bisa meredam rasa kesalnya untuk saat ini. “Aku mau choco nut ice ya,” pintanya. Tanpa menunggu tawaran dari Fajar. Ia hanya menyunggingkan senyum yang tak tertutupi melihat perangai gadis itu. Lalu mereka duduk sambil menunggu pesanan minuman datang. Zidhiana tetap memasang raut wajah datarnya. Sesekali ia memandang ke arah jendela, melihat kendaraan berlalu lalang. “Aku tahu kenapa kamu pesen minuman cokelat?” “Apaan sih, suka banget nebak-nebak zonk." Masih aja bikin kesel nih anak, bathinnya menggerutu. Minuman mereka telah datang. Gadis itu lalu meneguknya hingga setengah gelas. Sesekali Fajar tersenyum getir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Cokelat itu bisa mengurangi tingkat emosi seseorang,” ujar Zidhiana. Menaikkan sebelah alisnya. Akhirnya pria itu menyerah, lalu membujuknya untuk tidak lagi kesal terhadap dirinya. Kemudian mereka saling mengobrol, berkenalan, dan bertukar pikiran di coffe shop itu. *** Siang itu setelah habis materi English, Zidhiana akan makan bersama Nova dan Fajar. Kini perteman mereka sudah semakin akrab. Sudah tidak ada lagi rasa kecanggungan antara Fajar dan Zidhiana. “Dhiana, Do you mind helping me?” tanya Mr. Ing. “No, I don’t. What can I do for you, Sir?” Dosen English itu ingin Zidhiana ke ruangannya untuk membantunya mengajarkan tentang aplikasi komputer. Zidhiana menelpon Nova agar mereka pergi duluan tanpa menunggunya. “Have a seat, Dhiana.“ Mempersilahkan gadis itu duduk di kursi sebelahnya. Di depannya sudah ada layar monitor yang telah menyala. “Saya bingung mau menjumlahkan ini bagaimana,” katanya. Mengetik di kolom aplikasi yang ada di komputer. Gadis itu mengernyit, seolah tak percaya dengan pertanyaan sepele yang diucapkan oleh dosennya ini. Memang Mr. Ing terbilang masih muda, mungkin sekitar 27 tahun umurnya. Dia juga masih single. Lalu ia meraih mouse setelah dosen tersebut selesai memberikan contoh soal di komputer. “Eh.. Mousenya koq basah gini, Sir. Waah, bahaya nih klo ga dilap,” jelasnya. Mengeluarkan tissue di dalam saku blazernya, lalu dengan cepat ia mengelapnya. Dosen itu tersenyum kecut melihat Zidhiana. Tak sengaja ia menjatuhkan pena di samping mouse itu, lalu ia mengambil dan memberikan kepada dosen itu. Tangannya menyentuh telapak tangan Mr. Ing yang basah. Matanya mengerjap terbuka, ia mulai merutuki kepolosannya. Mungkin dosen tersebut grogi berdampingan dengannya. Sampai tangannya berkeringat, bathinnya. Dan ia tidak berpikir sama sekali tentang hal itu. Karena tak enak hati, gadis itu menjelaskan secara detail hingga dosen tersebut mengerti. Setelah selesai, ia pamit keluar dengan langkah seribu meninggalkan ruangan itu. Perasaannya masih kacau memikirkan hal tadi. Ternyata Fajar masih menunggunya di depan ruang resepsionis. Dengan raut wajah yang menekuk seperti martabak manis. Memang diakuinya, Fajar memiliki wajah semi oriental yang tampan. Walaupun ia sedang marah, masih terlihat mempesona di mata gadis itu. Fajar mengantarkan Zidhiana pulang ke kosannya. Acara mereka jalan bersama gagal siang ini. Dia menceritakan apa saja yang ia kerjakan saat tadi. “Kamu tahu kan Zi, dosen itu cuma modus,” umpatnya kesal. Gadis itu menatap heran, kenapa Fajar bisa sesewot ini. Pria tengil ini bisa juga marah, tapi kayaknya koq mendekati cemburu. Masa sih cemburu, bathinnya. “Eh diajakin ngomong nih, malah diem aja", omel Fajar. “Laah ngapa bapak yang esmosi?” protesnya. Pria itu menendang batu kecil yang ada di depannya. “Aku nggak suka Zi, kamu deket dengan dosen itu. Titik.” Begitu lugasnya Fajar seperti pria yang posesif dengan pacarnya. “Pacarku nggak ngelarang, Fajar ganteng sejagat rayaaaa. Koq kamu malah yang lebih rempong." Pria itu mendelik mendengar cibiran Zidhiana. “Eh.. iya juga ya.” Tertawa renyah lalu mengacak gemas rambut gadis itu. Tanpa disadari Fajar diam-diam mulai menyukai gadis jutek dan cuek itu. Entah mengapa sikap Zidhiana yang sering ketus kepadanya malah membuatnya merasa nyaman bersamanya. Tapi sepertinya ia hanya bisa menjadi sahabatnya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN