Memeriksa Rumah Amelia

1101 Kata
Rey terdiam. Semua ini sesuatu yang sangat mendadak yang aku katakan padanya. Rey tidak mengerti, sekarang apa yang menjadi tujuannya. Apakah harus berlari seperti ini selama sisa hidupnya? Ataukah menerima saranku untuk kembali mendekati Amelia dan membuat kehidupannya lebih baik dari sekarang? "Rey bukannya aku mencampuri urusanmu. Tapi sepertinya yang dikatakan Midas memang benar. Aku ngelihat sendiri lelaki itu sangat tidak pantas untuk Amelia. Mungkin Amelia sudah melakukan kesalahan kepada kamu. Tapi apa salahnya kamu coba untuk memperbaikinya. Dia adalah ibu dari anak kamu. Pasti kamu akan sangat bahagia jika memaafkan Amelia dan kalian hidup bersama." Roy mencoba memberikan pengertian kepada Rey. Dia masih terdiam tidak berucap apa pun. Dia masih menunduk dan berpikir keras. Aku mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Aku menepuk pundaknya agar dia memandangku. Seseorang pasti bisa berubah menjadi lebih baik jika dia menghadapi kenyataan. Jika dia tahu ada seseorang yang ternyata sangat mencintainya. Rey aku mengetahui pandangan itu. Kau masih memiliki perasaan kepada Amelia dan aku mengetahuinya, saat kau melihat Amelia tidak sadarkan diri saat itu. Dan  kau tidak tega untuk meninggalkannya. Rey akhirnya mengamatiku. Dia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku harus mendekati Amelia, lalu mengatakan kepada dia. Aku memaafkanmu, dan tolong kau putuskan Bram saat ini juga. Karena dia sudah berselingkuh. Kita kembali dan kita menikah, lalu hidup bahagia. Hei, itu tidak mudah, Midas. Kau tau sendiri dia sangat keras kepala. Bagaimana jika dia menolakku di hadapan Putri. Apakah aku harus tetap berusaha mengejarnya?" "Katakan kepadaku kau tidak mencintainya atau, mencintainya. Yah, hanya itu yang dibutuhkan oleh Midas. Sebuah jawaban yang sangat pasti. Jika kau memang mencintainya, kejar wanita itu sampai kau dapat. Sekarang, jawab pertanyaanku barusan." Roy tiba-tiba berdiri mendekati kami dan memberikan pertanyaan kepada Rey yang seketika membuatnya terpaku. Dia sendiri tidak tahu kenapa saat itu melihat Amelia lemah dan tergeletak di kursi sofa, namun tidak sengaja dan malah menolongnya. "Entahlah aku mencintainya apa tidak. Baiklah aku akan mencoba. Aku akan mencoba, bagaimana mengetahui perasaanku saat bertemu dengannya. Tapi, sekarang kita harus mencarinya ke mana Midas. Kita tidak bisa menemukannya. Dia pergi entah ke mana." Kita akan pergi ke rumah Amelia. Dia tidak ada di sana. Kita akan mencari tahu keberadaannya, lalu kita akan mencari tahu apa pun yang bisa menjawab pertanyaan tentang Bram. Kita harus menghentikan dia mengambil semua kekayaanmu. Kita harus mengambil uangmu pasti ada orang dalam yang sudah Bram bayar untuk membekukan semua uangmu. Ini sebenarnya sangat mustahil Bram bisa melakukan itu. Baiklah, aku akan membersihkan diriku dan kita melakukannya saat ini juga. "Hei. Tenanglah teman. Kau sangat berantakan dan aku lihat kau terluka parah. Sekarang jelaskan kepadamu. Apa yang kau lakukan hingga seperti ini? Lihatlah, dirimu benar-benar tidak karuan!" Aku terperanjat Rey bertanya tentang pertarungan itu. Roy menggelengkan kepala, memberi isyarat agar aku tidak memberitahukan apa pun padanya. Tapi, bagaimana dengan isi uang di dalam ranselku? Rey pasti akan curiga, dan bertanya. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Aku berjanji akan mengatakannya padamu. Tapi tolong. Rey, aku benar-benar lelah. Aku hanya ingin mandi lalu sedikit merebahkan tubuhku. Kita akan berangkat satu jam lagi. Lebih baik kau menolongku dengan membuat masakan yang enak. Aku dan Roy belum makan. Kami sangat lapar. "Baiklah, aku akan memasakkan sesuatu yang sangat sehat. Tentu saja itu yang kau butuhkan. Kau sangat berantakan seperti habis berkelahi saja. Setelah itu ceritakan semua kepadaku," ucapnya dengan tegas sambil menunjukkan jemarinya tepat di wajahk. Aku hanya tersenyum, kemudian masuk ke dalam kamar. Roy merebahkan tubuhnya kembali di atas kursi sofa. Dia membuka sepatunya dan meletakkannya ke sembarang tempat. Dia pasti sangat capek semalaman bersama dengan Sarah. Dalam sekejap aku membersihkan tubuhku lalu keluar untuk memakan semua sarapan yang sudah disediakan oleh Ray. Dan, Roy pun melakukan hal yang sama. Semua sudah selesai. Kita sebaiknya berangkat. Kita akan menitipkan Putri di tempat panti asuhan. Akan lebih baik dia di sana. Roy, apa kau mengetahui di mana tempat panti asuhan yang bisa kita datangi untuk menitipkan Putri? "Serahkan kepadaku. Aku sangat tahu di mana tempatnya. Kau tahu sendiri aku ini memiliki banyak kenalan." "Kalian tahu, aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan jelas. Ini masalah benar-benar rumit. Tapi bagaimana denganmu, Midas. Kau sendiri memiliki tujuan dan kau tertunda karena diriku. Aku merasa bersalah kepadamu. Kau harus tahu itu. Hidupku sama sekali tidak tenang. Mendingan aku berlari terus bersama putri dari pada aku menghancurkan cita-citamu." Kau harus membantuku saat semua masalahmu selesai. Sudah. Sekarang kita jangan berdebat. Aku akan menceritakan semua yang aku alami nanti. Namun, sepertinya kita harus menundanya. Kita memiliki sebuah masalah yang lebih penting. Jika masalah ini selesai, maka aku akan bisa kembali ke universitas itu, karena ini ada hubungannya dengan Dokter Alberth. Rey semakin melotot, tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Dia mendekatiku lalu memegang kedua pundak dan menatapku dengan tajam! "Ada apa ini? Apakah ada hubungannya ini dengan Dokter Albert? Argh, ini semakin membuatku penasaran. Sudahlah. Ayo kita segera pergi. Aku akan membangunkan Putri dan membawanya ke mobil. Sebaiknya kita segera menitipkan Putri. Tapi, tolong jangan berbicara apa pun di dalam mobil. Aku tidak ingin Putri mendengarnya." Kami segera melesat kencang menuju ke panti asuhan. Dan, meletakkan Putri di sana Roy ternyata memiliki kenalan yang sangat luar biasa. Selama ini aku hanya memandanginya dari dalam rumah tanpa mengetahui semua kegiatannya di luar. Ternyata memang dia benar-benar banyak sekali kenalan. Kami segera menuju ke rumah Amelia. Kami akan mengendap masuk ke dalam. Rumahnya memang sangat tidak terurus. Namun, kami harus benar-benar masuk dengan hati-hati. Karena aku tidak ingin semua orang mengira kami maling. Walaupun kami memang seperti itu. Dengan cepat aku menaiki pohon dan membobol pintu dari dalam. Roy dan Rey akhirnya bisa masuk ke dalam. Kami memeriksa semua yang ada di dalam rumah. Namun, kami tidak menemukan sesuatu. "Kita tidak menemukan apa pun yang penting. Tidak ada sesuatu di sini. Kita sudah memeriksa semuanya. Bahkan ke dalam kamar. Tidak ada apa pun. Apa yang harus aku lakukan?" "Kau jangan panik seperti itu. Kita perlu memeriksa semuanya. Siapa tahu ada ruangan rahasia yang tidak kita ketahui." Roy terus berjalan menelusuri semua almari yang ada di sudut ruangan. Sementara aku terus berdiri, menatap sebuah lukisan yang sangat indah terletak di kamar Amelia. Aku perlahan mendekatinya dan menyentuh lukisan itu di setiap sudutnya. Sepertinya aku menekan sesuatu di tengah lukisan itu. Tepatnya gambar kancing baju berwarna merah. Aku terus menekannya dengan kuat. Suara sesuatu bergeser terdengar cukup keras. Aku semakin menekannya, dan memang itu yang aku dengar. Ceklek! Secepatnya aku menolehkan pandangan. Seperti dugaanku. Lukisan ini berbeda dengan lainnya. Dan ... sesuatu terbuka di belakan almari klasik bergaya Eropa milik Amelia di dalam kamar. Rey, aku menemukan sesuatu. Kita akan memeriksanya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN