Rencana Pembalasan

1719 Kata
Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Ana keluar dari ruangan dengan menunduk. Sementara dokter wanita itu yang bernama Sarah mengikutinya dari belakang. "Midas, aku merasakan sesuatu yang kurang baik. Kenapa Ana seperti itu? Dia memperlihatkan ekspresi yang sangat sedih. Apakah memang benar-benar tunangannya sudah ..." Aku menepuk pundak Roy dan menggelengkan kepala. Dia spontan menghentikan ucapannya. Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada Ana. Entah aku akan mengetahui dia sudah tidak suci atau ... masih suci, itu bukan masalah buatku. Aku tetap akan bersama dengannya. Itu adalah keputusanku yang sudah bulat. Mengalami pelecehan adalah sebuah musibah yang sama sekali tidak disengaja. Aku tetap akan bersamanya. Dengan cepat aku berjalan mendekati Ana, lalu menarik tubuhnya. Aku memeluknya erat. Dia membalas pelukanku. Namun, Ana tiba-tiba tersenyum. Kedua matanya menatapku dengan sangat hangat. Aku semakin kebingungan. Ekspresinya berubah dalam sekejap. Ana, jangan membuatku takut. Apa yang sebenarnya terjadi? Kau keluar dari ruangan itu dengan menunduk, lalu sekarang kau tersenyum kepadaku. Apa pun yang sudah terjadi, aku tetap akan bersamamu. Jadi kau tenang saja. Tidak perlu bersedih. Aku akan bertanggung jawab dan menikahimu secepatnya. Setelah ini kita akan menemui kedua orang tuamu  lalu aku akan menemui tunanganmu yang sangat kurang ajar itu. Aku akan membuat dia membayar semua perbuatannya. "Ternyata yang dikatakan Roy memang benar, Midas. Aku tidak apa-apa. Dia sudah menjebakku Roy, memang mengetahui segalanya dan aku sangat kagum dengan sepupumu itu," ucap Ana sambil melirik Roy dengan tersenyum. Aku mengernyit saat mendengar ucapan Ana. Ternyata dia memang masih suci. Spontan aku menolehkan pandanganku ke arah Roy yang memberikan jempol kepadaku. Dia berjalan mendekati Sarah dan masuk ke dalam kamar. Aku membiarkannya. Pasti mereka sedang melakukan hubungan yang sangat dekat di sana. Yang terpenting Ana selamat dan tidak ada sesuatu hal yang sangat buruk terjadi kepadanya. "Dia memeriksaku dan tersenyum, mengatakan aku baik-baik saja. Bahkan tunanganku itu tidak menyentuh bagian itu sama sekali. Ternyata dia memang laki-laki yang tidak seperti dugaan kita, Midas. Dia hanya ingin memiliki sesuatu dengan cara yang buruk." Aku menarik napas lega. Tapi, tubuhku kini benar-benar lemas. Aku kehilangan banyak tenaga, dan sepertinya aku harus beristirahat. Ana, aku harus beristirahat. Kau tahu sendiri aku sedang bertarung dan sebelumnya, aku mengalami kecelakaan. Berikan beberapa obat yang bisa membuat aku terbebas dari semua luka ini. Setelah itu aku akan memejamkan kedua mataku di sofa itu. Kau juga tidur di kamar tamu. Aku melihat sebuah kamar di ujung ruangan itu yang tidak tertutup. Dan, sepertinya kamar itu kosong. Ana bisa beristirahat di sana, sementara aku di sofa. "Aku akan memeriksa semua obat yang ada di lemari itu. Sepertinya Sarah memiliki semuanya di sini. Aku lihat dia adalah dokter yang sangat berpengalaman. Bahkan saat memeriksa aku, hmm, aku tidak merasakan sakit sama sekali." Aku menganggukkan kepala, lalu segera membuka kemejaku. Perlahan aku merebahkan tubuh di kursi sofa. Rasanya sangat nyaman. Ana mencari beberapa obat dan dia menyiapkan semuanya. Dia bahkan mengambil handuk kering dan menuju ke dispenser. Ana mencampur handuk itu dengan air hangat. Aku tidak sabar menerima perawatan darinya. Tubuhku rasanya sangat kaku. Aku tidak merasakan tenaga sama sekali yang ada di dalam tubuh ini. Aku malah sangat lemah setelah mendengar Ana masih suci dan tidak tersentuh. Mungkin karena aku merasa lega. "Kau harus meminum ini agar tubuhmu kembali normal. Aku melihat tidak ada yang sangat serius di sini. Aku sangat senang kau selalu menghindar dari pukulan itu. Walaupun ada beberapa yang mengenai tubuhmu. Kekerasan memang bisa dikalahkan dengan kecerdasan. Aku bersyukur akan hal itu," ucap Ana. Dia terus mengusap semua keringat yang ada dalam tubuhku dengan handuk yang sudah diberikan air hangat. Rasanya sangat nyaman hingga aku akhirnya terlelap. Matahari kembali bersinar. Aku sangat merasakannya di wajahku yang semula dingin, kini terasa hangat terkena sinar itu. Mendadak aku membuka kedua mataku dan mengamati ruangan. Aku sangat lega melihat Ana sudah tertidur di kamar tamu. "Jadi kau sudah tidur nyenyak. Syukurlah, semuanya sudah selesai. Tinggal pembalasan dendam yang akan kau lakukan. Katakan siapa dulu yang akan kau balas. Tentu saja lelaki biadab itu. Menyebutkan namanya saja aku tidak sudi atau menanyakannya. Argh, aku benar-benar kesal." Roy tiba-tiba datang dan duduk di sebelahku. Dia ternyata bangun sangat pagi. Aku mengedarkan pandanganku ke semua arah, dan tidak melihat Sarah. Dia pasti sudah pergi bekerja. Aku akan menemui Rey dan Putri. s Setelah itu aku akan menemui orang tua tunangan Ana dan mengatakan semuanya. Dia harus bertanggung jawab dengan ucapannya. Dan, aku mungkin akan memberikan sedikit ancaman. Aku akan membongkar jika dia tidak mau keluar dari universitas itu atau masih mengganggu Ana. "Tidak aku sangka ternyata memiliki saudara yang sangat terlihat tampan, namun kejam. Aku selalu mengiramu, kau adalah lelaki yang sangat baik-baik saja. Ternyata, kau luar biasa. Baiklah, Sarah sudah menyiapkan sarapan. Kita akan ke sana menghabiskan semua makanan itu, lalu pergi dari sini." Aku akan membangunkan Ana terlebih dahulu. Setelah itu aku akan menyusulmu, Roy. Roy menganggukkan kepalanya. Aku berjalan menuju kamar tamu. Wajah Ana sangat cantik. Perlahan aku mengecup kening Ana dan membuatnya terbangun dengan tersenyum. "Maafkan aku sangat lelah, jadi aku bangun terlambat," ucapan Ana kemudian terduduk dan kami berpelukan. Sangat nyaman sekali. Jika setiap hari aku bisa membangunkannya dan memberikan pelukan seperti ini, hatiku benar-benar damai. Aku harus pulang menemui Rey dan Putri. Tapi kau juga harus pulang. Pasti keluargamu sangat resah menunggu di rumah. Setelah itu aku akan menghubungimu. Kita akan menuju ke orang tua tunanganmu dan mengatakan semuanya. Orang tuamu pasti akan sangat resah kau tidak memberikan kabar kepada mereka. "Aku akan menunggumu di rumah. Berjanjilah kepadaku kau akan melakukannya dan tidak mengabaikanku seperti sebelumnya. Karena aku tidak bisa jika kau melakukan hal itu." Aku berjanji kepadamu. Ayo sarapan dan segera membersihkan diri. Lalu kita keluar dari sini. Karena aku tidak mau menunda waktu aku lagi. Kami melakukan sarapan, lalu segera pergi dari rumah Sarah. Roy melesatkan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah Ana. Seperti dugaanku, orang tua Ana sangat resah karena anaknya tidak memberikan kabar. Aku tetap harus bertanggung jawab, karena membawanya. Dengan perasaan cemas, aku keluar dari mobil. Mereka memberikan pelototan tajam ke arahku. "Apa kau sudah menculik putriku hingga tidak memberikan kabar sama sekali? Ana!Jelaskan kepada Ayah dan ibumu ini. Apa kau tahu, kami sangat cemas. Kami kira kau mengalami suatu hal yang sangat buruk. Ternyata kalian pergi berdua saja. Kalian tahu, perbuatan kalian ini benar-benar sangat buruk. Tidak patut dicontoh oleh pemuda siapa pun. Ana, jangan membuat nama keluargamu tercemar dengan perbuatan seperti ini." Ana masih menundukkan kepala. Aku menarik lengannya, saat dia ingin mengangkat wajahnya dan memberikan pembelaan terhadap dirinya. Aku tidak ingin Ana membentak kedua orang tuanya, karena itu perbuatan yang tidak boleh terjadi. Tuan dan Nyonya, saya mau minta maaf. Saya sudah melakukan suatu hal yang sangat buruk dengan membawa Putri Anda. Tapi, sebaiknya kalian masuk ke dalam dan berbicara dengan baik-baik, karena ada suatu hal yang harus Ana sampaikan kepada Anda. Ini sangat penting dan aku memiliki buktinya. "Ayah, Ibu Percayalah kepada Midas. Aku mengalami suatu hal yang sangat buruk. Tolonglah izinkan kami berbicara dan menjelaskannya." "Tidak perlu seperti itu. Sekarang katakan, apa yang sudah terjadi karena Ayah dan Ibu tidak mau berbelit." Ucapan Ayah Ana yang sangat tegas. Aku paham dengan dirinya. Dia adalah seorang laki-laki yang menjadi imam dalam keluarga, dan pastinya akan sangat marah ketika melihat anak perempuannya dibawa oleh laki-laki seperti diriku. Ana, katakan yang sesungguhnya. Kau tidak perlu mengurangi atau pun menambah. Kau hanya perlu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ana hanya menganggukkan kepala ketika melihat bahasa isyarat yang sudah aku berikan kepadanya. Dia kini memandang kedua orang tuanya yang sangat terlihat cemas. "Ayah, laki-laki yang sudah kalian tunangkan kepadaku, sudah menjebakku dan membawaku ke hotel. Dia hampir saja melecehkanku tapi untung saja aku masih suci karena Midas sudah menolongku. Itulah yang terjadi sebenarnya. Dan aku akan memberikan bukti. Agar kalian mempercayainya." Kedua orang tua Ana terlihat sangat tegang. Mereka benar-benar tidak percaya dengan ucapan Ana. Aku sebaiknya tidak ikut andil dalam masalah ini. Aku harus segera pergi menemui Rey. Aku akan mendapatkan kemarahan yang sangat besar dari Rey, karena sudah tidak menghubungi selama 2 hari. Selesaikan masalahmu dengan kedua orang tuamu. Aku masih banyak sekali urusan yang harus aku selesaikan dan kau sangat tahu itu. Aku menundukkan kepala kepada kedua orang tua Ana. Aku memberikan senyuman hangat kepada kekasihku. Aku melambaikan tangan dan segera berlari masuk kembali ke dalam mobil Roy. "Hebat sekali kau tidak mendapatkan tamparan dari kedua orang tua Ana. Kau sepertinya selamat," ucapnya dengan tersenyum. Namun aku melotot kesal memandangnya. Antar aku pulang. Aku harus menemui Rey. Mungkin aku akan mendapatkan tamparan darinya. Roy masih saja tersenyum. Dia melesatkan mobil dengan sangat kencang seperti biasanya. Dalam sekejap aku sudah sampai di depan halaman rumah. Rey sudah bersedekap dengan tatapan yang sangat menakutkan. Aku sepertinya mangsa yang akan diterkamnya dalam sekejap. Bahkan dia lebih menakutkan dari pada semua petarung itu. "Katakan sesuatu yang membuat aku tidak akan pernah menghajarmu, Midas. Kau benar-benar sangat kurang ajar, meninggalkanku seperti ini tanpa kabar! Apa yang sebenarnya terjadi? Kau tahu, Putri selalu menangis mengkawatirkan dirimu. Dia menganggapmu sudah tidak ada. Mengira kau tertangkap oleh para penjahat itu." Aku mau minta maaf Rey. Aku benar-benar meminta maaf dan kali ini aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Tapi kau harus mengetahui sebuah fakta ini sangat penting. "Aku adalah saksi yang sudah mengikutinya kemana pun sampai detik ini. Jadi kau tidak perlu marah seperti itu. Dia memiliki alasan yang sangat jelas. Kita harus masuk dan menjelaskan semuanya." Kami masuk ke dalam. Rey masih memperlihatkan wajahnya yang semakin cemas. Putri terkejut melihatku dia berlari cepat mendekatiku. Dia memelukku. Dia menangis. Aku segera tersenyum melihatnya. Aku terus memeluknya, hingga hingga terlelap. Dia ternyaya tidak tidur karena menungguku. Aku sangat kasihan kepadanya. Aku dengan cepat menuju ke kamar dan merebahkan tubuhnya kembali. Lalu aku berjalan menuju ruangan tengah dan akan menceritakan semuanya kepada Rey. Hei. Amelia sangat sakit. Mantan istrimu ternyata memiliki sebuah penyakit dan aku tidak tahu itu apa. Namun, yang lebih parah. Bram sudah berselingkuh dan mempermainkannya. Apakah kau bisa memaafkan kembali istrimu itu, Rey. Ambillah hatinya. Kalian harus bersama. Dengan begitu kau tidak perlu seperti ini. "Apa maksudmu, Midas. Apakah kau pikir mudah melakukan hal itu? Istriku itu sangat kejam. Kau tidak tahu Midas. Dia bermuka dua!" Paling tidak berikan dia kesempatan. Pikirkan itu. Dia sudah sekarat Rey! Istrimu kembali kepadamu, kau akan kembali normal dengan kehidupanmu. "Lalu, bagaimana dengan para penjahat itu?" Aku dan kau ... akan membalasnya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN