Kedua bola mataku tampak membesar, tak percaya. Ana sudah berada di dalam kamarku. Hah, tentu saja aku baru ingat jika Ana memang punya kunci kamarku.
Ana, kau mengejutkanku. Aku lupa kau memiliki kunci kamarku. Maafkan aku mengira kau ...
"Maling?" tanya Ana mengejutkanku. Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal. Entahlah, aku spontan melakukannya. Aku sangat malu. Mungkin wajahku merah sekarang seperti tomat.
"Midas. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu. Ini sangat penting."
Perkataan Ana yang sangat membuatku terkejut. Apa sebenarnya yang ingin dia katakan? Sepertinya sesuatu yang sangat menarik.
Ana. Kau membuatku sangat penasaran. Aku ingin mengetahuinya.
"Duduklah di sini, dan kita akan mulai membicarakannya."
Ana menepuk-nepukkan telapak tangannya di sebelah kursi, tempat di mana dia duduki. Aku segera berjalan mendekatinya dan duduk di sana. Dia masih tersenyum memandangku, lalu bersedekap. Sepertinya dia akan mengatakan sesuatu yang sangat penting dan aku harap itu sangat membuatku beruntung atau aku mendapatkan sesuatu yang bisa mendukung karirku sebagai seorang dokter.
"Midas, kau siap dengan apa yang akan aku katakan? Karena ini menyangkut karirmu sebagai seorang dokter."
Sudah aku duga, perkataannya barusan yang sebelumnya ada di pikiranku dan itu membuatku tersenyum mendadak. Kedua mataku mungkin berbinar saat ini. Perasaan hatiku sangat senang. Aku tidak sabar untuk mendengar apa yang ingin dia katakan.
Ana jangan membuatku penasaran. Sebaiknya kau mengatakan dengan cepat, karena aku ingin mendengarnya.
Ana menurunkan kedua tangannya yang semula bersedekap. Kini dia memandangku dengan sangat serius dan siap untuk memulai mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Beberapa dosen membicarakanmu, Midas di ruangan rapat. Apalagi Dokter Albert sudah sembuh dari sakitnya dan berada di sana. Aku sangat terkejut ketika menghadiri rapat itu. Tentu saja rapat itu dihadiri oleh semua dokter yang sangat berpengalaman tinggi. Namun, Dokter Alberth memanggilku dan menanyakan, kenapa kau tidak datang di sana. Aku sangat terkejut. Bagaimana bisa aku mengajakmu karena aku tidak mungkin melakukan itu."
Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ana. Dia menghadiri sebuah rapat yang dihadiri banyak sekali dokter pengalaman di sana. Namun, untuk apa Dokter Alberth menanyakan kehadiranku?
Ana. Kenapa dia menanyakan kehadiranku? Aku mendapatkan gelar saja tidak pernah. Aku bukan seorang dokter, Ana. Dan, aku akan baru memulainya.
"Aku tahu. Aku saat ini juga bingung. Aku bertanya kepada Dokter Alberth. Tentu saja aku tidak mengundangmu karena kau belum menjadi seorang dokter. Dia mengatakan apakah kau bisa dia melakukan semua kuliah ini dalam jangka waktu kurang dari 4 tahun? Dia akan membantumu jika kau bisa melakukan itu. Bagaimana Midas? Kau harus menerimanya. Jika iya dia ingin menemuimu besok."
Sesuatu hal yang tentu saja membuatku sangat terkejut. Ini memang luar biasa. Aku menganggukkan kepala dengan cepat sembari tersenyum. Ana tersenyum dan dengan mendadak dia memelukku. Aku spontan membalas pelukan itu. Pelukan hangat yang kami rasakan bersama-sama. Aku sangat senang. Sepertinya aku sangat damai ketika melakukannya bersama Ana. Dia adalah seorang wanita yang kali ini mengisi hatiku.
Kami berpelukan semakin erat. Hatiku bergetar. Aku menarik napas panjang. Aku semakin menginginkan Ana.
Perlahan pelukan kami terurai. Ana menatapku dalam hangat. Aku membalasnya.
Jemariku bergerak sendiri menyentuh pipinya yang mulus. Aku tidak bisa menghentikan aksiku. Ini spontan terjadi begitu saja.
"Midas, aku sangat mencintaimu." Ucapan Ana dengan pelan.
Ana, kau tahu aku memiliki perasaan yang sama. Tapi ...
Ana spontan menutup mulutku. Namun ... dia menutup dengan bibirnya. Aku spontan menutup bibirku.
Ana ...
Dia membuka bibirnya dan mulai menciumku. Aku pun mulai membalasnya. Kami melakukan dengan penuh perasaan. Penyatuan bibir dengan kehangatan ini membuatku melayang.
Perlahan kami melepaskan ciuman sehangat mentari itu. Kedua kening kami menyatu. Kadang sesekali kecupan singkat kembali terjadi.
Aku baru sadar jika kedua orang tuaku sangat mesra dan itu adalah hal yang sangat luar biasa. Aku sekarang merasakan hal itu.
Ana, aku merasakan hal yang sangat luar biasa. Aku sangat bahagia. Apakah kau merasakan hal yang sama?
Ana terkekeh, kembali memberikan kecupan mesra. Kedua tangannya memegang pipiku, dan sedikit mencubitnya.
Aww. Kau gemas denganku?
"Kau memang menggemaskan," jawab Ana dan kami berpelukan kembali.
Aku bisa melakukannya. Aku akan mempelajari semua ilmu kedokteran. Tapi, bisakah kau membantuku dengan meminjamkan semua buku yang aku perlukan?
"Kau tahu aku memiliki gudang rahasia. Di sana ada semua buku yang kau butuhkan. Ini kuncinya."
Ana menyodorkan kunci tempat rahasianya di hadapanku. Aku terkekeh saat akan mengambilnya, dia malah berdiri dan berlari.
"Kalau mau ... ambillah!"
Ana berlari. Aku tersenyum. Dia seperti anak kecil yang ingin mencuri perhatianku. Aku berdiri, dan mulai mengejarnya. Dia malah berlari ke balkon kamar. Aku tidak percaya melihat bintang sangat indah dari sana.
Kamarku berada di lantai dua. Kami akhirnya berdiri di depan pagar pembatas dan melihat langit yang sangat indah dengan bulan dan bintang yang berpasangan.
Aku dulu sangat bahagia dengan kedua orang tuaku dan kakekku yang selalu mengajariku apapun. Nenekku meninggal karena sakit dan kakekku tidak bisa menyembuhkannya. Dia sangat frustasi, hingga akhirnya memperdalam ilmunya di negeri Cina.
"Aku tahu semua cerita tentang sang legenda dari ayahku. Dia sangat mengidolakannya."
Ayahmu?
"Iya."
Ana tersenyum menatapku. Kami kembali menyatukan bibir dengan hangat. Kami berpelukan erat, saling meluapkan cinta. Entahlah, aku ini sebenarnya melakukan hal benar atau tidak. Tapi, aku memang mencintainya.
"Midas, aku akan pulang. Besok, ikut denganku ke sana. Bersiaplah denhan sesuatu yang mungkin sangat mengejutkanmu."
Aku mengerti.
Jawabku singkat. Ana melepaskan pelukanku. Dia berjalan masuk ke dalam dan mendekati jaketnya yang terselampir di sandaran kursi. Dia segera memakainya.
"Tidurlah dengan nyenyak. Persiapkanlah dirimu besok, Midas. Aku harap kau bisa mengatasi semua dokter itu besok. Anggap saja mereka adalah keluargamu."
Keluarga? Kau sangat lucu, Ana.
Ana mendekatiku dan berjinjit, sekali lagi memberikanku ciuman hangat terakhir kalinya malam ini. Dia seperti candu bagiku. Hatiku selalu berbunga saat menerimanya.
"Baiklah, aku pergi. Jangan tidur terlalu malam. Istirahat, karena aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali."
Baik, Ibu. Aku akan menurut.
Ana tertawa keras mendengar ucapanku barusan. Dia melambaikan tangan dan akan menbuka pintu. Aku ingin sekali menahannya. Aku tidak mau dia meninggalkanku.
Ana!
Ana menghentikan gerakannya. Aku terpaku. Kenapa aku melakukan ini. Tapi, aku memang tidak ingin dia pergi.
Ana masih saja menatapku. Dia menungguku untuk mengatakan sesuatu. Sementara aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Ana, maafkan aku.
Aku menariknya. Ana berada di dekapanku. Aku menatapnya tajam. Aku memegang tengkuk lehernya. Kedua matanya semakin melebar, tidak percaya melihatku nekat melakukan hal ini.
Ana aku tidak mau kau pergi.
Aku bersamanya kembali bersatu. Bibir kami bermain dengan indah. Kami dipenuhi hasrat. Aku ingin bersamanya. Aku hanya ingin bersamanya. Satu hari saja.
Ana hanya malam ini. Aku ingin bersamamu.
"Midas ..."
Ana, jangan pergi. Tinggallah.
Dia semakin menatapku. Napasnya menderu-deru. Begitu juga dengan diriku. Tangannya mulai meraba setiap kancing kemejaku. Aku pun melakukan hal yang sama. Kami dengan perlahan melakukannya. Kening kami semakin melekat. Pandangan kami tidak teralihkan sam sekali.
Ana, tinggallah.