Aku tidak menyangka Harto melihatku melakukan hal yang sangat memalukan. Tentu saja aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan. Namun, bagaimana bisa aku menolak, dengan apa yang dilakukan wanita sangat cantik seperti Ana kepadaku. Biarkan saja dia melihatnya. Memang kita adalah sepasang kekasih dan wajar jika melakukan hal itu.
"Mataku benar-benar ternoda. Tapi itu adalah suatu hal yang sangat indah. Hmm, andaikan aku punya pacar. Aku mau juga melakukannya," ucap Harto kemudian mengedipkan salah satu matanya kepadaku, lalu duduk di belakangku dan membalikkan tubuhnya. Ana mengangkat alisnya saat melihatnya. Dia lalu tertawa menutup mulutnya dengan kelima jarinya. Aku juga terkekeh pelan melihat sikapnya seperti itu. Dia memang sangat lucu sekali.
"Kenapa membalikkan tubuh seperti itu? Apakah kamu mengira kami ini hantu?" kata Ana kemudian tiba-tiba. Dia mengejutkan Harto, lalu menolehkan pandangannya kembali ke arah kami.
"Justru aku memberikan kalian kesempatan untuk melanjutkan apa yang sudah terjadi. Jika aku di sini melihat kalian, nanti kalau aku kepingin bagaimana? Lha, sementara aku tidak punya pasangan. Ya sudah aku membalikkan tubuh saja."
"Kau tidak perlu melakukan itu karena sudah selesai pertunjukannya. Sekarang aku akan segera pergi dari sini. Lagi pula pelajaran juga akan segera dimulai. Lihatlah, semua mahasiswa sudah berdatangan satu persatu. Yah, sebaiknya aku pergi," kata Ana kemudian memandangku dengan senyuman. Ini sungguh benar-benar luar biasa. Wajah itu, saat memandang, aku merasakan detakan yang sangat kencang. Aku kawatir kami akan kembali menikmatinya ketika dia melakukannya. Hah, bisa-bisa aku tidak sadar dengannya. Dia sudah membuatku jatuh cinta.
"Apakah tawaranmu tadi berlaku? Aku ingin menemuimu di kamarmu untuk membicarakan sesuatu berdua saja. Kuharap kau berjanji kepadaku untuk membiarkan aku menemuimu."
Kita akan bertemu setelah pelajaran selesai karena aku penasaran dengan apa yang ingin kau katakan. Tapi, sebaiknya kau jangan sampai ketahuan siapapun ketika masuk ke dalam kamarku. Hmm, karena aku tidak mau siapapun mengetahuinya. Ini akan sangat membahayakan kita, Ana.
"Weh, pertemuan diam-diam, lalu terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, atau diinginkan. Aduhai, ini benar-benar luar biasa. Ingat, hati-hati kalian. Wes, jangan sampai terjadi suatu hal yang diinginkan. Atau ... eh tidak diinginkan maksudnya. Berdua saja di dalam kamar. Atau jika berdua saja pasti sebelahnya ada setan. Wes, kalian harus mengingat hal itu. Soalnya, kata ibuku sebelum menikah tidak boleh melakukan suatu hal yang dilarang. Ayo, mengerti tidak kalian?"
Perkataan Harto yang memang benar. Aku akan berusaha menahan jika nanti berdua saja dengan Ana, karena aku juga tidak mau menghancurkan hidupnya dengan melakukan suatu hal yang di awalnya merasakan kenikmatan, lalu akhirnya menjadikan sebuah penyesalan yang sangat luar biasa. Apalagi cita-citaku sudah akan tercapai di depan mata. Hah, aku tidak bisa menghancurkannya begitu saja.
"Aku paham dan mengerti. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mengingat semua perkataanmu Tuan Harto," ucap Ana tersenyum kemudian memelukku sekali lagi, lalu dia segera berjalan cepat keluar kelas. Harto yang semula duduk di belakangku, dengan cepat berdiri lalu berjalan untuk kembali duduk di sebelah aku. Kini dia menatapku dengan sangat serius.
"Aku lihat tangan dia itu ... yang masuk kedalam kaosmu. Midas, kamu itu harus menjaga jarak kalau dia melakukan itu. Ingat. jangan sampai melakukannya lagi. Apakah kamu merasakan sesuatu yang tegang? Apalagi itu harus kamu jaga. Jangan sampai melakukannya. Jika mau, kalian menikah dulu. Supaya nanti cita-citamu tidak bisa hancur. Midas, kamu harus ingat perkataanku ini."
Harto sekali lagi mengingatkanku. Dengan sangat cepat aku menganggukkan kepala. Aku akan terus teguh memegang apa yang sudah dia katakan. Karena memang itu adalah benar.
Aku akan mengingat nasehatmu. Terima kasih, kamu sudah menjadi teman yang sangat baik.
Harto memberikan jempolnya. Lalu, seperti biasanya, dia mengedipkan salah satu matanya. Spontan aku menggeleng pelan dan terkekeh melihat kekonyolan yang selalu dilakukannya. Namun, hatiku sangat senang ketika berada di sebelahnya. Aku selalu tersenyum dan melupakan semua masalah yang sudah menyertai hidupku.
Seperti biasanya pelajaran di kelas sudah dimulai dengan sangat serius. Untung saja yang masuk adalah dosen yang sebelumnya sudah mengenalku. Jadi aku tidak perlu melakukan perkenalan lagi karena akan sangat membuatku canggung di depan semua mahasiswa. Jika dokter itu tidak menerima aku sebagai mahasiswa bisu, maka itu akan membuatku semakin rumit.
Seperti biasanya aku bisa menjawab semua pertanyaan yang dosen itu jelaskan. Ditambah dengan pengetahuan yang aku miliki, hingga membuatnya terkagum kepadaku dan itu adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Aku yakin bisa menyelesaikan kuliah ini selama 4 tahun dan membawa gelar dokter muda. Setelah itu aku akan mengambil spesialis bedah. Aku ingin sekali menyembuhkan semua penyakit ganas yang menyerang tubuh manusia.
"Ternyata menjadi seorang dokter itu susah sekali. Pelajarannya sangat banyak. Tapi, kenapa cita-citaku seperti ini?" gerutu Harto membuat aku mengernyit. Kali ini aku tidak setuju dengan apa yang dia ucapkan barusan.
Menjadi dokter adalah tugas mulia. Jangan pernah mengeluh dengan apapun yang kau hadapi. Kau bisa melakukan dengan baik, asalkan kau mau. Biarkan hati yang berbicara.
Harto tiba-tiba bertepuk tangan dengan sangat kencang. Aku semakin tidak mengerti dengannya. Itu pasti, yang dia selalu saja lakukan. Yaitu, sesuatu yang konyol dan seketika membuat aku kebingungan atau membuat aku malah tertawa melihatnya.
"Kamu seperti ibuku. Suka memberi nasehat yang sangat pas. Bahkan apa yang aku katakan kepadamu barusan itu adalah nasihat ibuku yang selalu aku ingat. Untung saja aku menjadi temanmu. Kini aku memiliki 2 ibu."
Dua Ibu? Apa maksudmu? Aku ini laki-laki bukan perempuan.
Perkataanku membuat Harto ternyata tertawa dengan keras.
"Hahaha. Maksudnya kamu itu seperti ibuku. Bukan berarti harus menjadi Ibu. Weh, orang pintar kok dengan perkataan sepele ini harus dijelaskan. Gimana sih. Hah, sudah terbukti dengan jelas bahwa aku ini yang paling pandai di antara kalian semua."
Yah, kau memang sangat pandai di antara kita semua.
Jawabanku yang membuat Harto menepuk-nepuk pundaknya dengan bangga.
Pelajaran kedua sudah dimulai. Aku kali ini tidak mau keluar kelas. Aku tidak mau menemui orang menyebalkan lagi. Yah, orang itu adalah tunangan Ana. Aku sepertinya akan mencegahnya untuk mendekati Ana. Aku akan membuat diriku mendapatkan gelar terbaik di Universitas ini. Dengan begitu aku bisa mendekatinya. Ini adalah tekadku yang kuat.
Seperti biasa, aku selalu menjawab semua pertanyaan dosen walaulun dengan menuliskan semua jawaban di papan tulis.
Kali ini sang dosen tidak menanyakan diriku. Sepertinya mereka sudah mendengar tentang diriku dari beberapa dosen lainnya.
"Midas. Yah, kamu. Aku kagum denganmu. Kau seperti perkataan semua dosen yang aku dengar. Kau sangat pintar. Aku kagum denganmu."
Aku menganggukkan kepala, memasang senyuman setelah mendengar pujian dari dokter. Aku akan berusaha keras untuk membuat mereka semakin mengagumiku.
Bel pelajaran kedua terdengar. Aku akan berjalan kembali menuju kursiku. Namun, dosen itu menahanku.
"Midas, tunggu!" cegahnya seketika. Aku menghentikan langkahku mendadak.
"Baiklah, kau sebaiknya mempertahankan prestasimu. Aku akan mengabaikan kelemahanmu, dan mendukungmu jika kau memberikanku nilai sempurna saat ujian mata pelajaranku."
Aku akan mengingat pesan Anda. Aku akan menjanjikan nilai sempurna. Nilai yang sama sekali tidak Anda duga, Pak.
"Aku pergi dulu, dan akan menagih janjimu," balasnya kemudian menepuk pundakku lalu berlalu.
Dengan tersenyum aku terus berjalan menuju ke kursiku kembali. Harto menggelengkan kepalanya dan terus memberikan jempol kepadaku. Dia sepertinya sangat kagum kepadaku. Bahkan semua mahasiswa tersenyum saat aku melewati mereka. Ini sungguh luar biasa. Dugaanku yang sangat salah, mengira mereka akan memusuhi dan membullyku. Namun, ternyata mereka mulai menerimaku dengan sangat baik. Memang kelemahan bukan akhir dari segalanya.
"Tidak aku sangka bersekolah di Universitas ini akan mendapatkan teman yang sangat jenius seperti kamu. Semoga saja aku tertular pintarnya. Bagaimana jika kita sering belajar bersama agar aku bisa sepintar otakmu yang jenius itu. Ibuku pasti bangga jika aku juga nantinya akan mendapatkan gelar terbaik. Kamu setuju tidak. Kalau ... aku ikut belajar bersama kamu di dalam kamarmu itu jika waktu liburan. Nanti aku ke sana sekalian menginap, ya."
Bukannya aku melarang kamu melakukan itu. Tapi, kau tahu sendiri sangat berbahaya. Apalagi jika kau dekat denganku. Semua para mafia membuntutiku dan akan membunuhku. Aku nggak mau kau mengalami hal seperti itu. Harto, lebih baik kau menghindar dariku dan jangan pernah terlihat bersamaku. Jika terjadi sesuatu denganmu, bagaimana dengan kedua orang tuamu? Pasti mereka akan sangat bersedih, apalagi aku.
"Saya mah, santai. Woi, otak jenius itu kenapa memikirkan sesuatu hal yang bodoh? Tentu saja aku nanti kalau belajar pas ada di kampus. Jika aku nginep di kamarmu, mereka tidak akan berani masuk. Ini Universitas besar. Pasti penjagaannya sangat ketat. Kamu harus paham itu. Wis jangan menolak. Midas, kamu harus melakukan itu, karena aku menginginkannya. Sekarang lebih baik aku pulang. Ini sudah hampir malam. Ingat, kamu juga memiliki janji dengan seseorang. Tapi, ingat perkataanku yang tadi. Jangan melakukannya. Kamu punya cita-cita tinggi, Midas."
Terima kasih sudah diingatkan kembali. Sudah, sebaiknya kamu pulang. Mengendarailah dengan hati-hati. Jangan mampir ke manapun, dan segera pulang, lalu kabari aku.
"Memang kamu itu persis ibuku. Wes, sama persis Jadi, semua nasihat yang kamu berikan sampai titik dan komanya juga persis. Ya sudah, aku pergi dulu. Selamat tinggal. Sampai ketemu besok."
Aku semakin terkekeh mendengarnya. Tidak kusangka apa yang aku katakan memang sama persis dengan nasehat yang diberikan Ibunya. Ini benar di luar dugaanku. Aku segera membereskan semua buku yang aku butuhkan. Lalu aku akan segera pergi ke kamar dan menemui Ana. Dia harus membicarakan sesuatu yang sangat penting kepadaku dan aku merasakan penasaran. Semoga saja itu tidak sesuatu yang sangat buruk untuk aku dengarkan.
Aku berjalan, mulai akan keluar kelas. Aku mengamati semua arah dan memastikan agar semua arah aman dari tunangan Ana. Aku tidak mau membuat keributan di kampus ini. Semoga saja aku kali ini akan mengalami keberuntungan.
Hah, sangat sepi. Aku sebaiknya berlari kencang.
Sekuat tenaga aku berlari kencang. Semua mata memandangku saat aku berlari melewati mereka. Aku mengabaikannya.
Pintu kamarku terlihat. Aku menghentikan langkah tepat di hadapan pintu itu. Jemariku segera merogoh saku untuk mengambil kuncinya.
Aku tidak boleh terlalu lama. Aku harus cepat.
Kunci mulai aku masukkan ke dalam lobang. Tapi ... saat aku mulai menekannya ke kiri, tidak bisa.
Hah, kunci ini tidak bisa aku gunakan?
Perlahan aku memegang gagang pintu. Aku tidak mau ada hal buruk terjadi di dalam kamarku.
Ceklek!
Pintu terbuka. Tidak terkunci? Ini semakin membuatku resah. Aku perlahan menekan gagang itu ke bawah, agar pintu semakin melebar.
Siapa yang sudah masuk ke dalam? Semoga saja tidak akan ada keributan lagi. Aku tidak mau hal itu terjadi.
Aku lebih baik masuk dan memeriksanya. Perlahan kakiku melangkah, semakin masuk ke dalam. Aku kembali menutup pintu dengan rapat. Jika memang ada mereka, paling tidak aku tidak terlihat jika bertarung di dalam.
"Midas?"