Wanita itu menunduk dan menangis. Kami tidak mengerti kenapa dengan dirinya.
Sepertinya masalah ini harus Roy yang mengatasinya. Dia paling paham dengan wanita. Aku mendekatinya, dan menarik lengannya.
Roy, kau sepertinya yang tahu situasi ini. Kau tahu, wanita kenapa menangis. Kalau aku ... mana tahu. Tapi, sepertinya dia sangat kecewa dengan Bram.
"Yah, kau benar. Dia pasti mendapat kekecewaan dari Bram. Argh, aku saja play boy tidak pernah membuat mereka nangis. Kenapa dia tidak bisa adil?" gumam Roy sambil menggelengkan kepala.
Dia berjalan mendekati wanita itu dan menariknya. Roy memeluknya. Lalu, mengelus-elus punggungnya.
"Sudahlah. Dia memang seperti itu. Tidak waras. Jangan pernah mempercayainya. Lebih baik kau sekarang, menceritakan kepada kami, apa yang terjadi?"
Wanita itu mengusap air matanya. Kedua tangannya mengepal, lalu meninju tembok yang berada di sebelahnya hingga terluka.
"Woi! Jangan lakukan itu!" teriak Rey spontan menarik tubuhnya. Sementara aku dan Roy hanya diam terperanjat.
"Ayolah. Jangan menyakiti dirimu seperti itu. Kau ini jangan pernah menderita karena laki-laki. Dia tidak pantas kau tangisi. Sekarang lebih baik duduk. Atur napasmu, dan bicaralah dengan pelan. Aku psikiater. Kau bisa konsultasi gratis denganku." Rey menarik lengannya kembali, lalu mengajaknya duduk di kursi sofa.
Wanita itu duduk masih menundukkan kepala sambil menangis. Aku sebenarnya tidak mau membuang waktu untuk ini. Aku harus mencari Bram dan ingin segera menangkapnya. Tapi, dia membutuhkan seseorang. Walau tubuhnya dempal, dia seorang wanita.
Rey, segera tanya kenapa dia seperti itu. Dan, buatlah dia mengatakan di mana Bram berada. Argh, aku tidak bisa membuang waktuku. Aku juga belum menghubungi Ana.
"Aku sudah menanyakannya. Kau ini bisa sabar? Dia wanita. Yah, wanita itu seperti ini. Sudahlah. Hubungi Ana terlebih dahulu baru kau ke sini," omel Rey kepadaku. Aku hanya menganggukkan kepala dan tidak berani untuk berkata apa pun.
"Sudah. Kau jangan nangis saja. Jika seperti ini, kita tidak bisa menemukan lelaki kurang ajar itu!" sela Roy sedikit tegas membuat wanita itu akhirnya mengangkat kepalanya.
Wanita itu mulai akan berbicara kepada kami. Dia menekan perutnya. Aku mencurigainya. Apakah dia hamil? Apakah itu anak Bram? Argh, ini memang benar-benar parah. Jika memang itu terjadi, berarti Bram sudah menyakiti dia dan meninggalkannya begitu saja.
Tentu saja mereka pasti saling bertemu dan melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Itulah kenapa aku tidak mau melakukan hal itu dan menahan dengan Ana saat itu. Karena jika terjadi suatu hal yang sangat mengerikan seperti ini, nanti kita akan kebingungan. Apalagi posisiku masih kuliah dan belum memiliki cukup uang yang cukup banyak memberikan kehidupan yang layak bagi seorang wanita dan anak. Bram memang sangat menyebalkan!
"Kalian tahu aku bertemu dengan Bram saat di pertarungan. Dia mendekatiku dan merayuku. Aku sendirian dan tentu saja aku termakan rayuannya. Siapa yang tidak menyukai lelaki seperti dia. Sangat tampan dan kaya raya. Dia sering menuju ke rumah ini dan aku melayaninya. Aku sedang mengandung anaknya. Namun, ia sangat marah dan malah menamparku. Aku sangat tidak berdaya ketika dia melakukan itu. Sekarang dia pergi entah ke mana. Aku sendiri mencarinya. Jika kalian menemukannya, tolong katakan kepadaku. Karena aku kali ini benar-benar akan menghajarnya dan memberikan dia pelajaran."
Aku sudah menduganya. Ternyata perkiraanku benar. Bram sudah menghamilinya dan dia memang benar-benar lelaki tidak tahu diri. Aku mendekati Rey dan memberitahukan dia supaya menenangkan hati wanita itu. Dia seorang psikiater dan, ya, tentu saja dia bisa melakukannya.
Rey, tenangkan dia. Roy dan aku akan memikirkan cara bagaimana kita menemukan Bram. Mungkin dia sekarang berada di rumah wanita kembar itu. Apakah kau ingat dia waktu itu? Yah, wanita yang memiliki kelainan tidak jelas. Saat aku mengendap di rumah itu.
"Baiklah aku akan melakukannya dan cepat carilah informasi di mana dia berada," jawab Rey segera menenangkan wanita itu.
Sementara Aku dan Roy menghubungi semua orang dan kami tidak mendapatkan informasi apa pun tentang Bram.
"Sebaiknya kita pergi dari sini dan menuju ke rumah wanita yang kau ceritakan itu. Biarkan saja dia sendirian dan menenangkan dirinya. Kita tidak bisa berada di sini seperti seorang baby sister. Semua itu juga karena kemauannya sendiri."
Perkataan Roy memang benar aku segera mendekati Rey kembali dan menganggukkan kepalanya. Dia sepertinya paham jika aku menginginkan dia pergi dari sini dan segera menyelesaikan pembicaraan kepada wanita itu. Rey sepertinya menuliskan pesan dan itu adalah obat penenang. Memang wanita itu sangat membutuhkan obat itu dan obat yang dituliskan Rey sangat aman untuk kehamilannya.
"Baiklah. Minum obat ini dan jaga kehamilanmu. Dia tidak salah. Anak itu rawatlah dengan baik tanpa kehadiran ayahnya," ucap Rey membuat wanita itu tersenyum.
"Dia biasa pergi ke cafe ini. Dia selalu berada di sana. Tapi, cafe ini sangat berbahaya. Kalian masuk, namun tidak bisa keluar dengan seenaknya. Aku ... pernah diajaknya ke sana satu kali. Dia mengatakan, itu tempat persembunyiannya jika mengalami hal buruk. Aku yakin dia pergi ke sana. Kau tahu kan, lelaki akan mengucapkan semua rahasia mereka tidak sadar saat terpuaskan di ranjang."
Roy segera menerima secarik kertas berisikan alamat cafe. Dia tersenyum saat melihatnya. Aku yakin Roy tahu di mana tempat itu berada.
Roy, apa kau tahu tempatnya? Hah, aku lihat kau senyum-senyum sendiri. Haha, kau ini selalu tahu di mana pun tempat rahasia di dunia ini.
"Kau tahu, ini tempat para penyuka sesama. Dan ... dia ternyata bisa melakukan dengan sejenis, dan berbeda. Hah, kenapa Amelia menyukai lelaki seperti itu? Tidak waras!"
Bram memang benar-benar sangat buruk. Aku tidak menyangkanya. Ternyata dia memang tidak waras.
Terima kasih kau sudah membantu kami. Yah, kami harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik. Aku sarankan kau pergi dan rawat anakmu dengan baik. Jangan menunggunya. Carilah lelaki yang bisa membuatmu bahagia.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Dia memelukku, lalu bergantian Rey dan Roy.
Kami segera melesat pergi dari sana. Roy seperti biasa, membawa kami ke alamat itu dalam sekejap. Dia memarkirkan di belakang pohon.
"Baiklah, kita akan masuk. Ingat kata-kata wanita itu. Bisa masuk, tapi tidak bisa keluar. Hah, kenapa hidupku selalu dalam bahaya. Midas. Kau berhutang banyak kepadaku."
Aku akan membayarnya. Ayo, kita masuk.
Kami bertiga nekad masuk ke dalam. Yah, memang sangat mengerikan. Semua pasangan sejenis. Tapi, aku berusaha menundukkan kepala. Sementara Rey bergemetar. Sedangkan Roy, malah melempar senyum. Dia memang sangat pemberani. Aku lebih baik bertarung dari pada harus menghadapi mereka.
Kami mengedarkan pandangan ke semua arah. Aku melihat ruangan Vip dan ... ada Bram di sana!
Rey, ada Bram di sana!
Kami bertiga segera ke sana. Tapi, aku menghentikan langkah saat semakin mendekat. Aku tidak mau hal buruk terjadi kepada Roy dan Rey. Aku yakin Bram membawa senjata api.
Aku yang akan masuk. Kalian menunggu aba-aba saja. Kalian tahu sendiri. Dia mempunyai senjata.
"Hei, dan kau akan celaka sendirian karena aku? Tidak akan aku biarkan!" teriak Rey. Dia berjalan cepat mendekati ruangan itu.
"Bram! Lelaki tidak tahu diri!"