Akhirnya Selesai

1100 Kata
Rey masuk ke ruangan dengan terburu-buru. Dia tidak mau menurut. "Kamu yang bernama Bram! Kurang ajar. Tidak tahu malu. Membohongi wanita meninggalkan begitu saja. Dasar kurang ajar!" Rey sangat marah. Dia mendorong tubuh Bram yang semula berdiri kebingungan, kini terhempas ke kursi. Semua wanita yang mengelilinginya terkejut mereka segera berlari. Namun ... Rey semua pengawal pemilik tempat ini datang. Gawat jika kita masih di sini. Kau seharusnya mengikuti aba-aba. "Midas, aba-aba apa? Semuanya terjadi begitu saja. Bagaimana jika kau menemui seseorang yang selalu membuatmu kesal? Pasti kau akan marah dan ingin menghajarnya. Argh, sudahlah. Aku emosi!" Kau dan Roy seret saja dia. Aku akan melawan para pengawal itu. "Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" Pemilik cafe seorang wanita seksi berambut pirang datang. Dia sangat marah. "Mereka penjahat. Mereka mau menculikku. Aku tidak tahu siapa mereka. Kalian harus menolongku!" Bram mengatakan hal buruk tentang kami. Sementara aku masih saling memandang dengan para pengawal yang sudah siap untuk menyerangku. "Aku tidak tahu siapa kalian. Aku hanya tidak mau terjadi keributan di sini. Aku tidak mau rugi," ucapnya tegas sambil menunjuk kami satu per satu. "Tuan, Bram. Selesaikan di luar. Kami tahu Anda salah satu pelanggan terbesar kami. Tapi, kami tidak mau ada masalah!" ucapnya sekali lagi dengan lantang. Roy menarik Bram. Lelaki kurang ajar itu sepertinya sangat frustasi. Dia sangat berantakan. Pasti karena uang yang semua dia kuasai kini tidak bisa dia dapat lagi. Dalam sekejap Dokter Alberth pasti sudah menutup akses untuk menggunakan uang itu. Lalu, pengacara yang kita datangi juga dengan cepat mengurusnya. Dia tidak bisa menggunakan kartu kredit apa pun. "Kau ikutlah denganku. Jangan pernah menghindar lagi karena kau sekarang berada di dalam genggaman kami. Tidak perlu memikirkan apa pun. Sekarang kau keluar bersama kami karena penjara sekarang sudah siap menampung untuk berada di sana." Roy semakin menarik tubuhnya. Bram tidak memiliki kuasa apa pun sekarang. Dia hanya diam saat Roy membawanya keluar. Aku menarik Rey dan memandangnya. Paling tidak Rey harus meminta maaf kepada pemilik cafe. Kita sudah membuat rusuh. Rey. Kau meminta maaflah kepada pemilik cafe. Jangan pernah meninggalkan tempat ini tanpa melakukannya. Kau sudah membuat keributan. Kita pergi dalam damai. Rey menganggukkan kepalanya kemudian mendekati wanita pemilik cafe yang masih berdiri dan berkacak pinggang sambil mengamati kita. "Aku meminta maaf dan aku akan memberikan kerugian yang sudah aku sebabkan. Temanku ini membawa uang. Dia akan memberikan beberapa uang padamu. Sekali lagi aku minta maaf. Jangan pernah menyimpan dendam kepada kami. Kita akan pergi dalam damai." "Yah, sebaiknya memang kau harus memberikan kami uang. Argh, aku sudah rugi banyak," katanya sambil memegang kepala. Rey menarikku dan menunjukkan jemarinya di ransel yang masil terselampir di punggungku. Ah, untung saja aku selalu membawa ransel yang selalu aku bawa kemanapun aku pergi. Di dalamnya terdapat barang milikku pribadi yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku segera membukanya dan mengambil beberapa lembar uang. Kemudian memberikan kepada wanita itu yang kini tersenyum. Dia dengan sangat serius menghitung setiap lembarnya. Tanpa berbicara apa pun lagi aku menarik Rey untuk keluar dari sana karena aku tidak ingin berlarut-larut berada di dalam tempat yang sangat mengerikan ini. Untung saja aku membawa uang ini. Jika tidak, kita membayar pakai apa? Sedangkan Roy pasti tidak akan membawa uang. Untung kita sudah terbebas dari sebuah sebagai hal buruk. Kita keluar menemui Roy. Tapi kau jangan pernah emosi mengatasi apa pun. Dia memanglah yang sangat kurang ajar. Tapi kita lebih baik membawanya ke kantor polisi dan menanyakan di sana. Pihak berwajib yang akan menangani dia. Kita jangan main hakim sendiri. "Argh, maafkan. Aku saat itu sangat emosi. Kamu benar. Aku sebaiknya tidak melakukan hal terburu-buru." Di depan Roy menggenggam erat Bram dengan sangat erat. Dia sepertinya kesal kami terlambat keluar. Aku mendekat dan menggantikan posisinya. Dia menggelengkan kepala, lalu menampar Bram dengan sangat keras! "Kenapa kau meninggalkan wanita itu sendirian? Hah, dia sedang mengandung anakmu, sedangkan Amelia sekarang mengalami frustasi yang sangat berat. Semua karena dirimu. Kau tidak bisa melakukan pembelaan sekarang. Kau sudah membuat masalah yang sangat rumit. Sekarang lebih kau akan berada di kantor polisi karena kita akan membawamu ke sana." Bram diam saja tidak berkata apa pun. Aku segera membuka pintu mobil dan memasukkan dia ke dalam. Aku dan dia duduk di belakang. Sedangkan Rey duduk di sebelah Roy. Seperti biasanya, Roy mengemudi dengan sangat kencang hingga kita dalam sekejap sampai di kantor polisi. Aku segera menarik Bram, dan membuka pintu mobil. Aku membawanya masuk ke dalam. Roy dan Rey mengikutiku dari belakang. mereka menemui Kepala Polisi dan mengatakan semuanya. Ternyata Dokter Albert sudah melakukan pelaporan sebelumnya, hingga tidak membuat kami harus menjadi saksi saat ini. Jeruji besi sudah menampungnya. Dia duduk di dalam dengan menundukkan kepala. Kami bertiga sangat lega. Masalah demi masalah sudah terselesaikan. Aku akhirnya bisa segera menuju universitas. "Sekarang aku akan lega memberitahukan Putri. Dia tidak akan selalu lari lagi. Dia akan bersekolah, dan aku akan melakukan pekerjaanku kembali. Kau ... akan kuliah Midas. Kau tahu, aku memiliki uang yang sangat banyak. Aku bisa membiayaimu." Aku tidak tahu harus berkata apa. Hah, rasanya sangat lega. Kita sebaiknya menemui Dokter Alberth. Aku mau menanyakan bagaimana kelanjutan sekolahku. "Setelah itu, jadilah dokter yang hebat. Kau akan mengambil milikmu kembali. Kau ini ahli waris sah. Hanya karena kau bisu, mereka tidak berhak mengambil semuanya." Roy seketika membuat aku mengingat tentang masa lalu. Aku sangat merindukan kedua orang tuaku. Memang benar. Aku harus mengambil semua milikku karena rumah sakit itu adalah peninggalan Ayah dan kakekku. Aku harus mengelolanya sendiri dengan jujur. Paman memiliki sifat rakus untuk memperoleh kekayaan. Dia memberikan harga yang sangat mahal bagi siapa pun yang akan memeriksakan penyakitnya di sana. Sedangkan sebelumnya Ayah dan Kakek tidak pernah melakukan itu. Bahkan mereka memberikan pembayaran gratis untuk siapa pun yang tidak mampu. "Kau harus mengambil gelar sang legenda, Midas. Kau tahu sendiri Kakek adalah seorang dokter yang sangat hebat. Dia sudah menyelamatkan seorang gadis yang memiliki penyakit yang sangat langka. Kau harus bisa melakukan itu. Tidak ada yang tidak mungkin dan aku yakin kau bisa." Aku akan melakukannya. Ini waktuku untuk menyentuh semua penyakit itu. Aku sudah tidak sabar melakukannya. Kami bertiga tertawa. Tidak aku sangka bisa melewati semua masalah. Aku tidak sabar ingin kembali ke sana. Apalagi aku merindukan Harto. Dia pasti sangat panik aku sekian lama tidak masuk. Aku rindu logat medoknya. Aku akan menemui Ana. Aku akan melamarnya, dan meminta dia menungguku sampai aku bisa lulus dan mengambil milikku kembali. Maukah kalian tetap membantuku? "Haha, pasti kami akan membantumu. Kau adalah sepupuku yang sangat menyebalkan dan kuat. Bahkan, kau satu-satunya petarung jalanan yang terbebas dari mafia mengerikan itu. Kau hebat, Midas!" Rey terkejut dan mendorongku. "Sebaiknya jelaskan kepadaku, apa yang sudah kau perbuat!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN