Semua masalah terselesaikan dengan pas. Kini Bram sudah masuk penjara. Ah, aku sangat lega. Roy menyalakan cerutu mahalnya dan menghisapnya di luar. Rey ternyata juga melakukan.
"Midas, apa kau mau?" Roy menyodorkan kepadaku. Aku menggelengkan kepala.
Aku seorang dokter, dan tidak mungkin aku akan melakukan itu. Bagaimana jika aku kecanduan dan melakukannya di ruangan. Nasib pasienku akan naas.
Roy dan Rey terkekeh mendengar ocehanku.
"Yah, kau benar. Sebaiknya memang kau jangan melakukannya. Aku mau menenangkan diriku dulu. Hah, beberapa hari ini aku mengalami hal di luar dugaan. Aku sangat lelah. Aku ingin seorang wanita di atasku dengan seksi," ucapnya membuatku kesal. Aku ingin sekali menjitaknya.
Kau ini memang sangat play boy. Sarah, dia cocok untukmu. Kau jangan mengecewakannya. Kau ini marah karena Bram menghamili wanita dan meninggalkannya. Tapi ... kau seperti ini. Apa kau tidak takut?
Roy malah tertawa dan memotong ujung cerutunya, lalu menginjaknya di tanah. Dia memasukkan sisanya lagi di kotak. Lalu, menatapku sambil bersedekap.Pasti dia mau membela dirinya.
"Kau terlalu polos. Kau tidak tahu bagaimana kejamnya wanita. Mencegah kehamilan itu mudah. Sarah tidak ingin pernikahan. Dia menganggap menikah itu ribet. Tidak semua wanita seperti dugaanmu, Midas. Bahkan, mereka ada yang lebih kejam." Roy membalasku dengan tatapan tajam. Dia membuatku tidak mengerti.
Sekejam apa pun wanita. Mereka tetap saja wanita. Sangat rapuh.
Dia hanya tersenyum sembari menggeleng.
"Kali ini aku setuju dengan Roy, karena aku mengalaminya sendiri. Wanita itu kadang tidak bisa diatur. Kau tau sendiri bagaimana Amelia. Hah, aku sudah sangat mencintainya, bahkan memberikan semuanya. Ternyata dia diam-diam selingkuh di belakangku dengan Bram. Itu adalah salah satu contoh yang harus kau pahami, Midas. Mungkin sekarang kau sangat beruntung bertemu dengan wanita yang sangat setia kepadamu apalagi cantik. Lalu memiliki gelar yang sangat luar biasa. Kau harus mempertahankan Ana. Mungkin sekarang kau harus menemuinya, karena aku yakin dia sudah menunggu. Kehidupanmu sangat enak."
Aku sangat beruntung sekali bertemu dengan Ana. Oke, kita sebaiknya kembali ke apartemen Roy dan mengambil Putri. Aku mau segera menemui Ana. Aku sangat rindu sekali. Aku mau berdua saja. Kalian tidak perlu mengikutiku.
"Tidak mungkin kita mengikutimu. Emangnya kita obat nyamuk? Ayo cabut. Kita harus segera berangkat," ledek Roy kepadaku.
Roy masih saja tersenyum ke arahku. Dia segera masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Kali ini aku duduk di kursi belakang dan menyandarkan tubuhku. Aku sangat lelah dan ingin tertidur sejenak.
Dalam sekejap Rey sudah membangunkanku. Ternyata aku melihat Putri sudah berada di sebelahnya. Mungkin aku terlalu lama tertidur, jadi melewatkan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh mereka. Aku segera berdiri dan terbangun. Aku sangat senang. Aku memeluk Putri dan menggendongnya untuk masuk ke dalam apartemen.
Putri kamu baik-baik saja bukan? Om sangat merindukanmu. Kau kini akan bersekolah. Kau tidak perlu lagi berlari-lari untuk menghindari ibumu atau orang jahat. Bukankah kau senang mendengar perkataan ini?
"Benarkah!" Dia berteriak kegirangan, lalu mendekati Rey dan menarik tangannya. Rey menganggukkan kepala. Putri kembali melompat kegirangan. Aku sangat terharu melihat. Iya, semoga aja dia menjadi seorang wanita yang sangat hebat nantinya.
Aku segera membersihkan tubuhku dan bersiap untuk menghubungi Ana. Dia menerima ponselku dengan cepat. Kita akan bertemu. Aku akan menjemputnya. Aku akan mengatakan kepada orang tua Ana jika aku sudah akan melanjutkan sekolah. Setelah itu aku akan melamarnya.
Aku akan pergi menemui Ana. Aku juga akan melamarnya. Doakan aku berhasil.
"Kau pasti akan berhasil, Midas. Tidak ada lelaki yang baik selain dirimu yang pantas untuk mendampingi Ana. Jika mereka tidak menerimamu, mereka adalah orang yang tidak waras. Cepat pergi. Kau terlihat sangat tampan. Jangan lupa, bawalah roti ini. Aku sudah menyiapkan untukmu. Kau makan karena kau membutuhkan tenaga." Rey memelukku. Aku sangat menyayanginya.
Saat aku ingin berpamitan kepada Roy, ternyata dia sudah terlelap di kamarnya. Begitu juga dengan Putri. Aku tidak akan membangunkan mereka. Namun, aku diam-diam mengambil kunci mobil Roy dan akan meminjamnya. Semoga saja dia tidak marah ketika menyadarinya. Dengan cepat aku keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobil. Aku segera melesatkan mobil. Dalam sekejap aku sampai di rumah Ana. Ternyata dia sangat cantik menungguku di depan halaman.
Aku segera menghampirinya. Dia memelukku sangat erat. Aku merasa tidak enak Ana melakukan ini di depan rumahnya. Bagaimana jika orang tuanya tahu? Tapi aku menyukainya. Aku memang sangat merindukannya, dan mengecup permukaan bibirnya dengan cepat. Untung saja tidak ada yang tahu. Ana terkekeh pelan dan bersemu. Aku pun juga seperti itu.
Bagaimana kabarmu Tuan Putri? Aku mau minta maaf belum menghubungimu. Masalah semakin banyak. Tapi aku telah berhasil menyelesaikan semua. Kini aku bisa melanjutkan kuliah kembali. Hmm, aku juga sudah menemui dokter Alberth. Aku akan menyelesaikan semua kuliahku.
Setelah itu aku akan melamarmu dan kita menikah. Bagaimana?
"Aku tidak bisa berkata apa pun. Aku sangat bahagia. Apalagi kedua orang tuaku juga memutuskan pertunangan. Mereka sangat marah dan tidak peduli lagi dengan kedudukan. Kini mereka lebih memikirkan bagaimana perasaanku. Aku sangat senang," balas Ana semringah.
Aku ingin melamarmu. Aku ingin mengatakan itu kepada orang kedua orang tuamu. Apakah mereka ada?
"Mereka masih pergi. Tapi kita bisa menunggu di dalam. Ayo masuk," ucap Ana sembari menarikku masuk ke dalam.
Aku masuk ke dalam kembali takjub dengan rumah Ana yang memang benar-benar luar biasa. Sangat besar dan bersih. Kami duduk di sofa. Dia sudah menyiapkan semuanya makanan dan minuman yang membuat aku lapar.
Bisakah aku memakannya? Kau tahu, aku lama tidak memakan sesuatu. Aku sangat lapar. Tapi aku malu mengakuinya.
"Makan saja. Habiskan semua," jawaba Ana membuatku meringis.
Aku melahap semua makanan itu dengan cepat. Ana terus mengamatiku. Aku menundukkan kepala dan bersemu. Dia benar-benar membuatku seperti ini. Aku tidak menyalahkannya. Tapi dia sangat cantik dan aku tidak tahan. Aku mengamati semua arah dan memang di rumahnya sangat sepi tidak ada siapa pun. Aku ingin mengecupnya sedikit saja dan tidak akan melanggar. Karena aku memang akan melakukannya. Aku tidak tahan. Bibirnya sangat merah alami.
Aku mengambil selembar tisu dan membersihkan mulutku. Kemudian aku menatapnya. Kedua mata itu sangat indah. Dia tersenyum malah memejamkan kedua matanya. Mungkin dia tahu aku akan melakukan itu. Aku kembali mengedarkan pandanganku dan ini adalah kesempatanku.
Kami kembali menyatukan bibir sangat indah. Aku sangat menikmatinya. Aku tidak sabar ingin menikahinya dan melakukan ini setiap hari. Dia benar-benar membuatku jatuh cinta.
Aku menahan tanganku. Tidak mungkin aku menyentuh tubuhnya. Itu adalah sesuatu yang dilarang. Walaupun ingin sekali aku melakukannya. Aku ingin sekali membuat dia tertidur di sofa dan aku berada di atasnya. Aku sangat merindukan dia. Argh, dia benar-benar membuatku seperti ini. Lebih baik menghentikan kecupan yang semakin liar ini. Ternyata hasratku benar-benar tinggi.
Maafkan aku Ana. Aku selalu tidak kuat jika melakukan itu kepadamu. Kau memang sangat cantik. Aku ... pasti akan menegang. Maafkan aku.
"Cepatlah lulus dan menikah denganku. Kita akan melakukannya setiap hari. Saat berangkat kerja, di dalam kamar mandi, atau di mobil, di mana pun," ucapnya membuatku tak percaya. Ana ternyata memiliki fantasi yang sangat luar biasa. Benar apa kata Roy. Wanita itu selalu membuat kejutan. Tapi aku suka.
Selang beberapa menit, mobil kedua orang tua Ana datang. Aku kembali tegang. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Mereka datang dan tersenyum kepadamu. Aku segera berdiri dan berjabat tangan. Ayah Ana menganggukkan kepala dan mempersilakan aku untuk kembali duduk.
"Aku dengar kau akan kembali ke Universitas. Dokter Alberth sudah memberitahukannya kepadaku. Cepat selesaikan kuliahmu dan penuhi janjimu untuk melamar anakku aku. Yah, hubungan kalian berdua mendapatkan restuku. Tapi, ada satu syarat."
Spontan aku berdiri dan menatap kedua orang tua Ana dengan tegas.
Aku akan melakukan apa pun syaratnya, yang penting aku bisa bersama dengan Ana dan menikahinya. Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah menyetujui kita. Aku sangat menghargainya. Aku sangat mencintainya dengan segenap jiwamu. Aku tidak akan pernah mengecewakan Ana.
"Aku tahu kau adalah cucu dari Leonidas. Aku kecewa dengan keluargamu. Rumah sakit yang sekarang menjadi milik pamanmu itu sangat berantakan. Banyak sekali pasien yang mengeluh di sana karena harganya terlalu mahal dan manajemen yang salah. Sebagai pemilik kau harus segera ke sana. Ambillah semua dan ubah semua aturan yang sangat menyebalkan itu. Setelah selesai melakukan itu, kau boleh menikahi Ana.
Tidak ku sangka orang tua Ana mengetahui masa laluku. Ternyata Paman sudah menodai peninggalan kakekku. Aku tidak akan membiarkannya. Aku akan mengambilnya kembali. Aku akan ke sana dan merebutnya. Lihat saja nanti.
Tuan, aku akan benar-benar melakukannya. Aku akan mengambil semua dan aku akan merubah. Semua itu adalah peninggalan Kakek dan ayahku. Terima kasih sudah memberikan dukungan dan semangat. Aku akan melakukannya.
"Kau memang akan mengambilnya. Leonidas adalah sahabatku. Aku terkejut kau adalah cucunya. Baiklah, cepat lakukan. Karena aku akan membantumu."