Kembali Bertemu Sahabat

1010 Kata
Aku sangat senang, akhirnya mendapatkan restu. Walaupun aku sedikit terkejut mendengar permintaan Ayah Ana. Tapi, aku juga lega dia mengenal kakekku. Tuan, Nyonya. Saya harus pamit. Saya akan menemui Dokter Alberth dan kembali menuju kampus. Tapi, saya meminta ijin membawa Ana. Mohon maaf, Ana yang bisa memberi akses untuk masuk ke dalam kampus. Mungkin ini lancang. Kau boleh bersama Ana. Tentu saja kau boleh melakukan itu. Ya, sudah. Pergi saja.Tapi ingat, jangan terlalu malam karena aku tidak ingin kau membawa pulang anakku seperti itu. Ingat kata-kataku. Kau harus segera memperoleh gelar itu dan mengambil yang menjadi hak milikmu," katanya lalu berdiri dan berjabat tangan denganku. Orang tua Ana kemudian pergi meninggalkan kami. Aku menarik napas lega mendapatkan izin itu. Ana Apakah kau tidak keberatan untuk membantu ku mohon maaf aku sudah mengatakan ini tapi aku memiliki kekuasaan di sana Jika kau tidak ada aku akan sangat kesulitan untuk masuk ke sana Aku harap kamu tidak keberatan untuk melakukannya Ana tiba-tiba menarik dan mendaratkan bibirnya di permukaan bibirku. Aku sangat terkejut dan menggelengkan kepala. Bagaimana jika orang tuanya tahu dia melakukan itu? Ternyata Ana sangat nekat. Hah, aku menarik napas lega ketika mengamati semua dan tidak melihat siapa pun. Namun setelah itu aku tersenyum. Aku sangat senang dia melakukannya. "Pasti aku membantumu. Untuk apa meminta maaf? Aku akan melakukannya. Kau adalah kekasihku yang aku cintai. Baiklah. Ayo kita berdiri dan segera masuk ke dalam mobil. Kita jangan sampai terlambat karena Dokter Alberth tidak suka menunggu," ucapnya sembari mengulurkan tangannya kepadaku. Kini kami meninggalkan rumah Ana, segera masuk kembali ke dalam mobil. Aku tersenyum saat melihat Ana selalu menatapku seperti itu. Dia benar-benar membuatku jatuh cinta. Aku spontan membukakan pintu mobil untuknya, kemudian aku memasangkan sabuk pengaman. Dia selalu saja tersenyum dan mencuri pipiku sekali lagi dengan permukaan bibir yang mendarat lembit. Kali ini aku akan membalasnya. Aku kembali melakukannya. Kali ini bibirku melesak masuk sangat dalam. Tanpa aku duga, Ana tersenyum lalu sedikit mengigitku. "Itulah balasan untukmu, yang selalu mencuri seperti bibirku. Kau sudah membuatku terpesona, Midas," ucapnya membuatku sangat bahagia. Yah, kami berdua sudah dimabuk cinta. Seakan, dunia hanya milik kita berdua. Aku berdiri lalu menutup pintu itu, kemudian berjalan memutari mobil dan duduk di depan kursi kemudi. Aku segera melesatkan mobil ini untuk menuju ke kampus itu. Aku telah sampai ke sana dalam waktu sekejap. Lalu memarkirkan di sebelah pohon yang cukup rindang. Tidak aku percaya melihat mobil Harto. Dunia memang sempit. Saat aku mengamati semua arah, aku melihat Harto berjalan sendiri tanpa ada teman. "Bukankah itu Harto. Kenapa dia selalu saja menyendiri? Bukankah dia seharusnya mendekati seorang wanita dan mengajaknya berkencan? Hmm aku akan menjodohkannya. Aku memiliki teman dan dia juga jomblo. Aku akan membuat Harto berkencan dengannya." Spontan aku menganggukan kepala dengan cepat. Aku sangat menyetujui ide Ana. Ayo kita menemuinya. Dia pasti akan sangat terkejut ketika melihatku. An menganggukan kepala. Kemudian akan membuka pintu mobil. Aku menggelengkan kepala dan mencegahnya. Aku yang akan membukakan pintu mobil itu,Tuan Putri. Karena seorang wanita sangat cantik harus mendapatkan pelayanan lebih. Ucapanku membuat Ana menganggukkan kepala. Dia masih saja menatapku dengan senyuman. "Tidak ada yang lebih indah dari apa pun kecuali mendapatkan perhatian yang seperti ini kepada orang yang kita cintai. Aku sangat mencintaimu lebih dari apa pun, Midas." Aku segera membuka pintu mobil itu, lalu melepaskan sabuk pengaman dan mengulurkan tangan yang segera Ana terima. Aku sedikit menariknya agar dia benar-benar keluar dari mobil dan menutup pintunya. Dengan cepat kami berjalan menemui Harto. Dia melotot tidak percaya melihat kehadiran kami. "Apa? Jadi ada dokter hebat sekarang di kampus ini? Kamu itu menghilang lalu datang lagi persis seperti jalangkung. Hantu yang tidak diundang. Pergi pun tidak tidak tahu kapan. Kamu tahu, aku terus mencarimu. Aku ini tidak tenang ketika tidak melihatmu di sini. Satu lagi. Hah, tanpa kehadiran kamu, rasanya hampa." Harto memelukmu. Aku segera menggelengkan kepalanya dan melepaskan pelukan itu. Kamu ini seperti melihat pacar kamu saja. Ingat, aku ini laki-laki. Kamu kenapa selalu sendirian. Coba carilah teman kencan. Jangan selalu sendirian seperti ini. Nanti jangan-jangan kamu yang bertemu dengan hantu. Harto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia meringis. Lalu menatap Ana. "Wah, Mbak Ana sangat segar sekali. Aku mau kencan sama seorang wanita tapi kembarannya Mbak Ana. Atau ... adiknya. Hehe, pasti sama cantiknya," ucapnya dengan tersenyum. Aku menepuk pundaknya dan mengernyit. Enak saja mengatakan seperti itu. Ana tidak ada kembarannya. Dia hanya milikku. "Iya, aku sudah tahu. Ya sudah. Jangan membahas itu. Kenapa kamu ke sini dengan tiba-tiba, lalu kenapa kamu menghilang dengan tiba-tiba. Aku ini sangat kebingungan saat mencarimu. Aku takut kau benar-benar keluar dari kampus ini. Atau mengalami hal yang celaka di kampus ini. Banyak sekali berita yang tidak kamu ketahui. Salah satunya tunangan Ana yang sudah dipecat dari sini dan dipindahtugaskan di kampus lain. Dia katanya sudah menyebarkan suatu hal yang sangat tidak baik dan mencemari kampus. Lalu menjual obat-obatan yang terlarang. Bukankah itu sangat mengejutkan." Aku terkejut mendengar itu. Tunangan Ana adalah lelaki yang sangat tidak bisa dipercaya. "Sudah, jangan membahas. Ayo kita masuk ke ruangan kantor untuk menemui Dokter Alberth yang sudah berada di sana. Aku mendengar dia sudah menyelesaikan semua masalahnya dan kembali lagi. Ayahku yang mengatakannya, sebelum engkau menuju ke rumahku, Midas." Aku menganggukan kepala. Kemudian kami berjalan cepat menuju ruangan kantor. Semua mahasiswa mengamatiku. Aku sama sekali tidak nyaman. Namun, yang membuat aku lega, kini aku tidak akan mengalami masalah lagi dan bisa menyelesaikan kuliahku dengan baik. Ana menemui dosen penjaga kemudian dia melambaikan tangan kepadaku. Aku dan Harto sekarang masuk ke sana. Aku tidak percaya melihat Dokter Alberth tersenyum mempersilakan aku duduk di kursi, tepat di hadapan meja kerjanya. "Midas, semua sudah diatur. Kau akan berkuliah lagi di sini. Kau akan menyelesaikannya dengan sangat cepat, karena aku hanya memberikan waktu 4 tahun saja. Aku harap kau bisa melakukannya. Kita semua sudah membicarakan masalah rumah sakit peninggalan kakekmu itu. Setelah kau selesai dengan kuliahmu, aku akan memasukkanmu di sana dan membuat kamu bekerja. Persiapkan dirimu. Aku harap kamu bisa mengambil alih semua yang menjadi milikmu untuk kembali baik." Apakah rumah sakit kakekku bermasalah, Dokter? "Iya. Sangat bermasalah "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN