Mendengar jika rumah sakit peninggalan kakekku bermasalah, aku benar-benar hancur. Saat itu aku memberikan kepada mereka karena aku berpikiran, bahwa kelemahanku ini tidak akan pernah bisa menangani rumah sakit itu. Namun, ternyata berbeda. Justru mereka yang tidak bisa menanganinya.
Merebut kembali sangat susah. Apalagi Paman yaitu Ayah Roy, selalu saja menginginkan kekuasaan dan kekayaan. Mereka sekarang memberikan beban yang sangat berat kepada pasien. Padahal sebelumnya Kakek dan Ayah tidak pernah melakukan itu.
Dokter, kapan saya bisa melanjutkan sekolah? Yah, saya harap besok saya bisa masuk dan terus menimba ilmu di sini. Saya akan menyelesaikannya dalam waktu singkat. Ana akan membantuku. Dia adalah dokter yang sangat hebat.
"Kau besok sudah bisa ke sini. Satu lagi yang harus aku sampaikan kepadamu. Bram sudah melakukan hukumannya. Dia sekarang akan mendekam di penjara dan menjalani pengadilan. Namun, Amelia berada di rumah barunya dan dia sangat kasihan. Mungkin mantan suaminya bisa ke sana membawa anaknya. Kau bantulah mereka hari ini. Bawalah kertas ini. Berisi alamat yang harus kau tuju."
Perkataan Dokter Alberth membuat aku sangat bersemangat. Kali ini Putri akan mendapatkan ibunya kembali walaupun sebelumnya mungkin dia menganggap ibunya sebagai musuh. Namun, sekarang dia akan benar-benar mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Semoga saja Amelia bisa menerima kembali dan mereka akan menikah untuk yang kedua kalinya.
Terima kasih atas bantuan Anda, Dokter. Saya akan segera memberitahukan Rey kabar yang sangat bahagia ini. Saya permisi dulu dan selamat tinggal.
Aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Dokter Alberth. Dia tersenyum menerimanya. Aku pun membalasnya dengan senyuman. Ana juga melakukan hal yang sama. Kami segera keluar dari ruangan. Aku tidak menyangka Harto menunggu kami di depan. Dia segera beranjak ketika melihat kami mendekat. Wajahnya sangat tegang. Mungkin Dia mengira aku akan mendapatkan suatu perlakuan yang sangat buruk kembali.
"Waduh, wajahnya semringah kayak gitu. Hmm, pasti ada kabar bahagia. Untung saja aku bisa menghela napas lega. Biasanya kalau keluar dari sana kamu selalu saja terburu-buru dan meninggalkan aku sendirian di sini. Hei, katakan kepadaku. Ada kabar apa? Jangan pernah meninggalkan aku lagi. Yah, aku ini tidak punya teman," kata Harto sambil berkacak pinggang di hadapan kami yang tersenyum menatapnya sembari menggelengkan kepala. Dia memang benar-benar sangat lucu. Logat jawanya yang sangat medok, membuat ciri khas itu semakin membuat aku tertawa ketika dia berbicara.
"Semuanya baik-baik saja. Hanya saja, Midas sekarang harus pergi karena ada urusan mendadak. Kamu ikut saja kuliah. Jangan mengikuti kita. Kuliahmu itu sangat penting. Nanti kamu disalip sama Midas dan kau masih saja di sini karena sering membolos."
Sekali lagi Ana membuat Harto menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal. Dia tersenyum meringis ketika mendengar sedikit omelan yang diberikan kepada Ana.
"Ya wes. Oke, aku akan kuliah saja. Kalian ... semoga lekas selesai semua masalahnya. Biar tidak meninggalkan aku sendiri. Hah, rasanya sangat bosan," jawabnya kemudian membalikkan tubuh dan melambaikan tangan kepada kami. Dia segera berlari sambari melihat jam tangan yang masih setia melingkar di pergelangan tangan kanannya. Padahal pelajaran sudah dimulai. Gara-gara menungguku, dia terlambat sekali lagi.
"Lihat saja. Dia pasti akan mendapatkan hukuman terlambat gara-gara menunggu kita. Seharusnya tadi ... kita jangan meminta dia untuk ikut," ucap Ana sembari menggelengkan kepala. Aku hanya terkekeh melihatnya. Dia orang yang sangat disiplin dalam membagi waktu.
Dia pasti akan baik-baik saja, Ana. Tidak ada dokter yang sanggup menghukum dia. Pasti dia memohon dengan memelas dan sangat lucu. Lagipula kalau kita melarang, dia pasti tidak akan mau. Sebaiknya kita kembali ke mobil untuk ke apartemen memberitahukan kabar kepada Rey.
"Untuk apa memberitahukan ke sana. Hah, kita nanti malah memutar-mutar dan membuang waktu. Midas, lebih baik kita menelepon saja. Aku yang akan menelepon Rey. Kau kasih tahu nomor teleponnya. Atau, pakai ponselmu saja. Aku akan menghubunginya sekarang."
Aku segera merogoh ponselku yang berada di dalam ransel yang selalu setia aku bawa. Ana menerimanya ketika aku menyodorkan ponsel itu. Dia menekan nomor Rey dengan cepat. Dia mengatakan, "Hei. Cepatlah kau menuju ke alamat yang sudah aku berikan kepadamu di pesan. Ini sangat penting. Lalu, bawalah Putri. Di sana ada Amelia sendirian dan dia sangat menyedihkan. Mungkin dengan membawa Putri dia akan sangat bahagia. Kau cobalah untuk memaafkannya. Karena, memaafkan lebih baik dari pada memusuhi. Kau akan bahagia kembali jika bersama dengannya."
Ana mengernyit. Aku tidak tahu apa yang sudah Rei katakan kepadanya. Semoga saja dia tidak keras kepala. Dia benar-benar sangat menyebalkan jika akan menolak. Aku memegang pundak Ana, lalu menunjukkan tombol speaker. Dengan cepat dia menekannya hingga kini aku bisa dengan mudah mendengar semua perkataan dari Rey. Seperti dugaanku. Dia ketakutan.
Ana Bagaimana jika dia tidak menyukaiku. Kau tahu sendiri kita menikah saja dia sudah berselingkuh. Hah, apalagi sekarang. Aku sudah sangat tidak karuan seperti ini. Aku sangat takut kecewa, ucap Rey dengan sangat cepat. Dia sangat gelisah. Tapi, aku paham dengan maksudnya. Sudah lama mereka tidak ketemu dan tidak mungkin semuanya akan baik-baik saja. Pasti akan ada sesuatu yang membuat mereka canggung.
"Rey, paling tidak kau harus mencobanya. Jangan berkecil hati seperti itu. Aku tidak mau berdebat denganmu. Ini adalah kesempatan baik untuk kalian terutama Putri. Siapa lagi yang bisa menjadi ibunya selain ibunya sendiri? Rey, apakah kau memiliki kekasih lain hingga tidak mau melakukan ini?" balas Ana dengan sedikit tegas.
Mana mungkin aku memiliki kekasih lain, Ana. Dan ... itu tidak pernah terjadi. Aku selama ini dengan Midas. Jadi, kalau kau menanyakan kekasihku siapa, dia orangnya. Dia yang sudah menolong dan membantu aku selama ini, lanjut Rey membuat Ana menggelengkan kepala dan tersenyum. Sementara aku tidak menyangka Rey akan mengatakan itu. Ternyata aku sangat berjasa kepadanya.
"Kalau kau akan membuat Midas menjadi istrimu, kau akan menjadi musuhku selamanya. Kau akan menjadi sainganku. Jadi jangan pernah berpikiran seperti itu. Dia hanya milikku, Rey. Satu lagi. Kita akan menikah! Udahlah, sekarang kau pergi saja aku akan menunggumu di sana. Tentu saja aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri."
Ana menutup ponselnya begitu saja tanpa memberikan kesempatan bagi Rey untuk berbicara. Dia segera menarik kertas berisikan alamat Amelia digenggamanku. Dia segera mengirimkannya ke ponsel Rey.
Aku terkekeh di sebelahnya. Ternyata aku memiliki calon seorang Istri yang sangat tegas seperti ini dan aku harus berhati-hati nantinya. Tapi dia semakin cantik dan aku menyukainya. Aku memang membutuhkan pendamping seperti ini.
"Baiklah. Ayo kita berangkat. Jangan membuang waktu karena besok kau harus segera berada di sini untuk menimba ilmu. Aku ingin segera menikahimu. Menunggu empat tahun itu sangat lama," protesnya dengan merengek sangat manja, dan dia semakin menggemaskan. Aku menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat. Kemudian mengelus-elus punggungnya, lalu rambutnya yang panjang hitam menjuntai itu.
Aku melepaskan pelukanku perlahan, untuk kembali menatapnya dengan sangat lembut. Dia membalas tatapanku. Ketua iris hitam kami saling bertumbukan mesra. Kami benar-benar dimabuk cinta. Seakan dunia memang milik berdua.
Aku sangat senang jika kau seperti itu
Hmm sangat menggemaskan. Ayo kita pergi.
Kami bergandengan tangan menuju ke parkiran. Aku kembali membukakan pintu dan memasang sabuk pengaman Ana. Kecupan demi kecupan curian saling membalas di antara kami. Semuanya sangat indah. Aku berharap ini berlangsung setiap hari. Aku sangat berharap tidak ada masalah yang membuat kami terpisahkan kembali.
Dengan cepat aku melesatkan mobil ke alamat yang sudah diberikan oleh Dokter Alberth di mana Amelia tinggal. Di sana aku melihat sebuah taman yang tidak terurus. Aku heran kenapa Amelia pindah rumah. Sebuah rumah yang lebih kecil dari rumah yang pertama kali aku datangi bersama Rey. Rumah yang cukup besar dan mewah. Kini seakan berbanding terbalik.
"Apakah benar ini rumahnya? Midas, kenapa seperti ini? Lihatlah, rumput alang-alang sudah memutar rumah ini. Hah, ini seperti rumah hantu. Tidak mungkin seseorang tinggal di rumah seperti ini."
Aku hanya menarik napas ketika mendengar Ana mengatakan itu. Aku tidak bisa menjawab semua perkataannya, karena aku sendiri juga tidak mengetahuinya. Kedua mataku terus mengedarkan semua arah. Benar-benar, semua ini tidak bisa aku percaya. Ternyata kondisi Amelia seperti ini.
Ana, sebaiknya kita masuk ke dalam. Aku juga tidak tahu kenapa dia tinggal di sini.
Ana menganggukkan kepala. Dia segera masuk ke dalam bersamaku. Bahkan pintu rumah pun tidak terkunci. Sedikit saja doronganku sudah membuat pintu itu terbuka lebar. Kami segera masuk dan mencari Amelia yang tidak ada di semua tempat.
"Midas, baca sekali lagi alamat yang ada di ponsel itu," pinta Ana membuatku segera melakukannya. Aku menekan tombol hijau untuk membukanya dan memastikan jika alamat ini benar.
Alamat ini memang benar dan tidak ada yang salah. Kita sebaiknya memeriksanya. Tapi jangan terpisah. Karena aku tidak mau terjadi apa pun denganmu.
Kami terus bergandengan tangan menuju ke halaman belakang. Sebuah kolam renang yang kosong tidak terisi air dan kotor ada di sana. Kursi di sana bercat putih namun sangat usang. Kami masih saling menolehkan pandangan, tidak percaya melihat semuanya. Ini adalah rumah yang sangat tidak pantas untuk dihuni.
"Midas, aku sepertinya mendengar suara seperti orang yang menangis. Apakah itu Amelia atau hantu? Atau ... bagaimana ini? Midas, kita sebaiknya memeriksanya. Suara itu berasal dari sana. Aku sangat takut, Midas."
Aku semakin mengeratkan telapak tanganku di tangan Ana. Membuat dia sedikit lega dan menarik napas panjang. Memang suara tangisan itu sangat mengerikan. Aku harap itu adalah Amelia. Kami berdua berjalan perlahan menuju ke halaman belakang. Memang rumah ini sangat luas. Hanya saja tidak terurus dengan baik.
Dugaan kami benar. Amelia duduk dengan menangis. Aku kembali menolehkan pandangan ke arah Ana. Dia menganggukkan kepala dan memintaku untuk mendekatinya.
Ana, sepertinya perempuan yang bisa membuat hatinya luluh. Aku tidak bisa memahami wanita jika dia menangis. Kau saja yang ke sana dan aku akan mengantarmu.
Ana menganggukkan kepalanya. Kami berjalan ke sana dan berdiri di depannya. Spontan wajah Amelia mendongak ke atas menatap kami dengan mengernyit. Wajahnya begitu sembab. Kedua matanya bengkak akibat tangisan yang terus dia keluarkan. Aku sangat kasihan kepadanya.
"Amelia. Kenapa kau seperti itu?"
Spontan kami menolehkan pandangannya ke belakang. Ternyata Rey sudah datang bersama dengan Putri. Amelia beranjak dari duduknya, melangkah cepat mendekati Putri dan akan memeluknya.
"Hentikan. Jangan mendekatiku, karena kau adalah Ibu yang sangat jahat! Aku tidak ingin di sini. Ayah, aku mau pergi. Aku tidak mau menemui wanita ini. Ayah, kenapa kau membawaku ke sini? Yah, dia sangat jahat dan membuat hidupku hancur selama ini. Pergi lah. Aku tidak ingin menemuimu!" teriak Putri dengan sangat kencang membuat aku dan Ana terkejut.
Putri mendadak lari keluar dari rumah. Aku tidak percaya melihatnya.
"Putri!"