Kembali Ke Universitas

1207 Kata
Putri berlari hingga sampai di jalan raya. Aku menambah kecepatan lariku untuk mengejar Putri dan spontan menggendongnya. Dia meronta bertubi-tubi memukul tubuhku. "Om, lepaskan aku!" teriaknya keras. Sementara yang lainnya ikut berlari menghampiriku. Paling tidak Putri sudah selamat. Jika aku tidak tepat waktu untuk mengambilnya, mungkin sekarang dia sudah tertabrak oleh kendaraan yang melintas dengan cepat di jalan ini. "Om, aku tidak mau menemui dia. Biarkan aku pergi saja. Aku tidak ingin bertemu dengan ibuku yang sangat jahat itu. Aku masih ingat. Dia selalu saja memarahi Ayah dan memukulnya berkali-kali saat di rumah. Lebih baik aku tidak memiliki Ibu dari pada bertemu dengannya. Aku membencinya! " Putri masih saja membentak sambil menatap Amelia yang menggelengkan kepala sembari menangis. Ana segera menghampiriku. Dia terlihat sangat cemas. "Putri, kau jangan pernah mengatakan itu. Bagaimanapun juga, atau sejahat apa pun, seorang Ibu tetaplah ibumu yang melahirkan dirimu saat kau bisa menikmati dunia ini," ucap Ana sembari mengelus-ngelus kepala Putri yang masih berada di gendonganku. Rey masih saja mengatur napasnya yang terengah-engah. Dia berlari sangat kencang ingin mencegah Putri yang akan melarikan diri. Sementara Amelia masih saja terdiam. Jika aku melihat ekspresinya, dia sangat kecewa ketika mendengar perkataan Putri barusan. Aku berjalan menghampiri Rey dan menyerahkan Putri kepadanya. Aku akan meninggalkan Rey bersama Putri dan Amelia. Mereka bertiga pasti akan menyelesaikan masalah ini dan aku tidak ingin ikut campur di dalamnya. Tugasku sudah cukup sampai di sini. Rey. Kau sebaiknya berbicara dengan anak dan istrimu. Aku bersama Ana akan keluar dan meninggalkan kalian. Tugasku sudah selesai untuk menjagamu. Sekarang kau yang akan mengatur sendiri rumah tanggamu ini. Berikan kesempatan kepada mantan istrimu untuk berubah dan percayalah  dia akan kembali. Membuat kalian bahagia. Pastikan Putri menerima ibunya kembali. Seburuk apa pun seorang Ibu dia tetaplah Ibu. "Entahlah Midas. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada dia," ucap Rey sembari melirik Amelia yang masih menundukkan kepala dengan terisak. Jika aku melihat dari ekspresi Rey, aku melihat dia sangat sendu ketika melihat mantan istrinya seperti itu. Kau hanya menyatukan mereka Rey. Tidak perlu ada suatu hal yang kau cemaskan. Aku yakin kau bisa melakukannya. Baiklah, aku bersama Ana akan pergi dari sini. Aku menepuk pundak kanan Rey dua kali dan memberikan senyuman agar dia tidak cemas. Wajahnya terlihat pucat pasi. Sudah pasti dia masih memiliki perasaan yang sangat dalam kepada Amelia. Aku kembali tersenyum lalu membalikkan tubuhku dan menghampiri Ana. Aku menggandengnya, lalu mengajaknya keluar dari rumah itu. Aku yakin Rey pasti bisa untuk mengatasinya. Di dalam mobil aku bersama Ana masih menatap rumah Amelia. Kami berharap, mereka bisa menyelesaikan masalah dengan baik dan kembali bahagia seperti sedia kala. Kini aku sudah merasa lega. Masalah demi masalah semakin terselesaikan. Akhirnya aku bisa meraih cita-citaku menjadi seorang dokter dan mengambil hak milik yang sebenarnya menjadi milikku. "Apa yang kau pikirkan Midas? Hmm, kau sepertinya memikirkan sesuatu yang sangat berat. Tapi jika aku melihat dari wajahmu, kau sangat senang akan sesuatu." Aku menolehkan pandanganku ke arah Ana. Menatap wajahnya yang secerah awan itu dan selalu membuatku bahagia. Aku memegang pipinya dan mengelus-elus nya sangat perlahan. Dia tersenyum sangat cantik, semakin membuat aku terpana. Aku sangat beruntung sekali bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik seperti bidadari yang turun dari langit. Entahlah aku harus berkata apa. Hah, aku dulu sama sekali tidak pernah menyukai wanita saat bersekolah, ataupun saat bertemu dengan semua temanku. Padahal banyak sekali temanku wanita yang mendekatiku. Tapi aku yakin mereka hanya menyukai hartaku dan bukan diriku. Namun kau menyukaiku apa adanya saat aku keluar dari rumah tanpa membawa apa pun. Hmm, aku tidak tahu harus berkata apa. "Aku tahu kau harus berkata apa. Kau harus mengatakan kepadaku, Ana maukah kau menjadi istriku secepatnya. Karena aku tidak bisa menunggu. Aku ingin sekali selalu bersamamu, Midas." Perkataannya sekali lagi membuatku sangat bahagia. Dia sama sekali tidak bisa menunggu aku untuk segera melamarnya. Aku tersenyum semakin mendekatinya. Aku tidak tahan. Seperti biasanya tanganku terus menelusuri lehernya dan menarik wajah Ana hingga hanya berjarak satu senti saja di hadapanku. Dengan cepat aku kembali menikmati bibirnya. Dia pun membalasnya. Kami saling bertautan dengan sangat dalam. Bahkan kali ini sedikit liar. Kami sepertinya sudah biasa melakukannya. Tidak ada canggung di antara kita berdua. Kami terus menikmati kehangatan bibir kami yang masih bersatu dengan indah seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika aku menikah. Pasti dia akan menjadi sasaranku setiap hari. Apa lagi kita bertemu di manapun berada di dalam satu rumah dan hanya berdua. Entahlah apa yang akan aku lakukan. Aku tersenyum sendiri saat memandangnya, membuat Ana mengernyit, menatap dan melepaskan bibirnya. "Apa yang kau pikirkan? Kau tersenyum sendiri seperti itu. Pasti kau membayangkan sesuatu yang aku tidak tahu apa. Cepat katakan, karena aku tidak ingin penasaran. Apakah pikiranmu itu melayang ke mana-mana karena kita melakukannya tadi?" Pertanyaan Andla membuat aku malu, tapi aku harus jujur kepadanya. Aku menganggukan kepala dengan tersenyum dan menggaruk-garuk rambutku yang tidak terasa gatal. Ana terkekeh melihatnya dan mendorong tubuhku. Namun, dia kembali menarik krah bajuku dan mengecup bibirku sekali lagi. Aku menahannya saat dia akan melepaskan bibirnya. Kami kembali melakukannya dengan sangat dalam. Rasanya aku tidak ingin melepaskannya. Bibir itu sangat lezat seperti makanan kesukaanku. Ingin sekali aku menyantapnya setiap saat melihatnya. Karena bibirku terasa lapar jika tidak melakukan hal itu. Apa yang harus aku sembunyikan? Aku selalu tidak tahan denganmu. Fantasiku ke mana-mana. Aku tidak malu untuk mengakuinya. Kau memang membuatku seperti ini. Sangat melayang dan bahagia. Kami masih saja saling melempar senyum dan menyatukan bibir kami. Aku segera melepasnya karena aku tidak ingin menahannya terus menerus. Aku harus mematuhi peraturan yang diberikan oleh ayahnya. Yah, mengembalikan dia tetap waktu. Mesin mobil segera aku nyalakan. Dan seperti biasanya, aku melesatkan sangat kencang hingga dalam sekejap kami sampai di rumah Ana. Ana. Pulanglah dan sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu karena ini sudah sangat malam dan aku tidak pantas masuk ke dalam rumah mu. Tidak enak dengan tetangga. Pasti mereka akan membicarakan suatu hal yang sangat buruk. Aku tidak mau hal itu terjadi. "Baiklah, jangan lupa kau besok harus tepat waktu datang ke Universitas itu. Aku akan menunggumu di sana. Semua pasti akan sangat terkejut melihat kamu kembali datang, bahkan dengan wajah dan semangat yang baru," ucap Ana semakin membuatku bersemangat. Dia tersenyum lalu keluar dari mobil, melambaikan tangan ke arahku. Aku meninggalkannya dengan hati bimbang. Aku sama sekali tidak ingin berpisah dengannya walau sebentar. Namun, aku harus melakukannya. Hari esok rasanya sangat lama jika aku memikirkannya sepanjang waktu. Aku kembali ke apartemen, tapi tidak menemui Roy. Mungkin dia sudah pergi bersama teman wanitanya. Aku membiarkannya dan membersihkan tubuhku lalu menuju ke ranjang untuk membuat kedua mataku terlelap. Aku sangat lelah sekali. Mentari sudah menyinari wajahku. Sepertinya waktu berjalan cukup singkat. Rasanya aku baru saja terlelap tadi malam. Tapi kini aku harus bangun kembali karena sinar itu menyapa wajahku dan membuatku sedikit berkeringat. Aku segera berkemas dan kembali masuk ke dalam mobil untuk menuju ke Universitas. Aku memarkirkan mobilku dan tersenyum melihat Harto yang sudah menjemputku di depan gerbang. Dia Melambaikan tangan dengan tersenyum, sementara semua mahasiswa terkejut dan melotot melihatku kembali datang ke Universitas ini. Namun ada sesuatu yang berbeda. Mereka bertepuk tangan ketika aku melewati mereka. Aku tidak tahu kenapa mereka melakukan itu. Tapi yang jelas, aku sangat senang kini aku diterima di kampus ini dengan baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN