Aku berjalan terus dengan percaya diri menuju ke depan gerbang. Ternyata Harto sudah menungguku di depan. Dia melambaikan tangan dengan wajah sumringah. Aku segera tersenyum ke arahnya.
"Wahh, ini dia calon dokter yang sudah aku nanti kan. Ternyata datang juga di kampus ini. Tidak bisa kusangka ternyata bertemu denganmu kembali Midas. Hah, kau memang benar-benar seperti hantu. Lebih tepatnya hantu jelangkung. Pergi tidak diundang, pulang tidak diantar. Aangat membingungkan sekali," ucap Harto yang selalu membuat aku tertawa. Dia memang salah satu temanku yang sangat lucu.
Kamu itu benar-benar sangat lucu, Harto. Setiap kali bertemu selalu saja membuat aku tertawa. Ayo kita masuk ke dalam. Sepertinya semua mahasiswa mengamati itu seperti ini lalu mereka bertepuk tangan. Apa maksudnya? Kau bisa menjelaskan sesuatu kepadaku?
"Oh masalah itu. Tentu saja mereka sangat senang karena kamu sudah membuat mantan tunangan Mbak Ana itu pergi dari sini. Ternyata mereka sangat membencinya. Dia adalah lelaki yang semena-mena. Bahkan sering memberikan bullyan kepada para mahasiswa yang dianggap tidak pantas masuk ke sini, atau yang mendapatkan beasiswa," ucapnya sembari menepuk jidatnya.
Ternyata tunangan Ana memang benar-benar lelaki tidak tahu diri. Dan, aku sangat bersyukur dia keluar dari sini.
Berarti kami di sini sudah tenang dari semua yang biasanya sering membuat keributan?
Harto menganggukkan kepalanya lalu memberikan jempol kepadaku, sembari meringis sekali lagi. Wajahnya yang sangat polos itu membuatku terkekeh, hingga aku menekan perutku.
"Emangnya aku ini badut? Hmm, dari tadi tertawa terus sama aku.Tapi tidak apa-apa. Jika tertawa itu bisa membuat kita awet muda. Ya wes, ayo kita masuk ke dalam kelas dan segera melakukan pelajaran. Kamu itu tertinggal banyak. Nanti akan aku pinjami semua buku dan catatanku."
Aku benar-benar kembali bersyukur memiliki sahabat yang selalu mendukungku seperti ini. Dengan cepat aku menganggukkan kepala sambil tersenyum, lalu dia menepuk pundakku sambil berjinjit. Maklum saja tinggi Harto hanya sebatas pundakku saja. Entah kenapa dia ini sangat kecil atau aku yang terlalu tinggi.
"Duh, ini tubuh apa tiang bendera," ucapnya sambil menggeleng. Sekali lagi aku spontan tertawa melihat ekspresi kesalnya.
Kau membuatku sakit perut.
Kami segera masuk ke dalam kelas. Aku duduk di kursi barisan paling depan. Aku ingin sekali mendapatkan penjelasan dengan benar. Sekarang aku tidak perlu berkecil hati atau minder dengan siapapun.
Sang dosen sudah masuk ke dalam ruangan. Dia sedikit melirikku, dan sepertinya dia terkejut saat aku duduk di sini. Mungkin berita tentang kehadiranku yang sudah dikatakan oleh dokter Albert membuat mereka mengetahuinya.
Hari sudah dilalui dengan cepat. Seperti biasanya aku bisa menjawab semua yang ditanyakan oleh dokter itu padahal aku sama sekali belum mengetahui atau mendapatkan pelajaran ini. Aku dapat menjawabnya karena aku selalu ingat apa yang sudah dikatakan Kakek dahulu. Yang lebih mengejutkan adalah ternyata Kakek pernah menjadi salah satu dosen di sini. Sementara dokter Alberth adalah salah satu muridnya, begitu juga dengan Ayah Ana. Makanya mereka sangat mengenal kakekku.
Sepanjang hari aku terus melakukan tugasku sebagai mahasiswa dengan baik, hingga berjalannya waktu aku sudah menyelesaikan kuliah dengan sangat singkat. Bahkan aku memperoleh gelar terbaik. Selama itu aku tinggal di apartemen Roy. Sementara Rey dan Putri sudah sangat bahagia dengan kehidupan mereka kembali.
Amelia menerima Rey. Begitu juga dengan Putri yang bisa memaafkan ibunya. Mereka menikah lagi dan hidup bahagia di rumah Rey dulu yang sempat ditempati Amelia. Bahkan Amelia mengandung lagi dan melahirkan anak laki-laki yang sangat lucu.
Sementara aku akan melanjutkan penempatan di rumah sakit besar. Namun, sebelumnya aku akan ditempatkan di rumah sakit yang cukup kecil dahulu. Aku harus membantu rumah sakit itu karena kekurangan dokter dan terletak di sebuah desa terpencil.
Aku akan bekerja di sini kurang lebih selama beberapa bulan sebelum aku akan bekerja srbagai dokter spesialis bedah di rumah sakit ternama seperti apa yang sudah dilakukan kakekku sebelumnya.
Ana kau sudah benar-benar menjadi seorang dokter terkenal. Namun kau mengikutiku sampai ke sini. Apakah kau tidak keberatan? Yah, sementara kau seharusnya berada di rumah sakit besar. Kau dibutuhkan di sana.
"Untuk apa aku memikirkan hal itu. Yang terpenting dalam hidupku sekarang, aku adalah ingin selalu berada di dekat kamu. Udahlah jangan dibahas masalah ini, karena aku tidak mau berdebat."
Ana pergi begitu saja. Kita di desa ini tinggal di dalam beberapa rumah yang sudah di sewa oleh pihak Universitas. Namun terpisah antara laki-laki dan perempuan. Aku mengikuti Ana masuk ke dalam rumah sakit itu. Ini adalah pertama kalinya aku datang. Aku memang sebaiknya tidak akan pernah membantah, Ana. Dari pada dia akan sangat marah kepadaku.
Tidak aku sangka ternyata banyak sekali pasien yang berada di rumah sakit ini. Namun mereka tidak segera diatasi.
Ana dan diriku, lalu beberapa dokter yang ditugaskan di sini segera mengambil alih. Membuat para suster yang sebelumnya bertugas merasa lega.
"Mas dokter di sini? Perkenalkan, namaku Mira. Aku satu-satunya dokter yang berada di sini dan memeriksa semua pasien setiap harinya. Desa ini memang mengalami kekeringan, akhirnya membuat persediaan makanan berkurang. Kebanyakan mereka mengalami sakit kurang gizi dan demam."
Aku menganggukkan kepalaku dengan tersenyum. Namun dia mengkerutkan kedua alisnya sangat dalam. Mungkin dia heran kepadaku karena aku adalah dokter yang tidak bisa berbicara.
Yah, aku lulusan dokter terbaik di Univeristas Dokter Alberth. Aku hanya beberapa bulan di sini. Aku memang tidak bisa berbicara. Tapi aku bisa menyembuhkan mereka semua.
"Tidak aku sangka ada dokter tampan yang ternyata tidak bisa berbicara. Aku baru kali ini mengetahuinya. Tapi tenang saja. Aku bisa mengetahui bahasa isyarat. Karena kakakku juga tidak bisa bicara seperti kamu. Jadi aku sangat hafal dengan bahasa itu," ucapnya yang membuat aku lega.
Aku segera menangani pasien. Namun, aku merasa tidak nyaman. Dia terus mengamati aku dengan tersenyum. Bahkan tidak memiliki rasa sungkan sama sekali.
"Apa kamu sudah menikah?" tanyanya yang spontan membuat aku menghentikan gerakan. Aku tidak menjawab dan tetap melakukan tugasku.
"Hmm, kau sepertinya belum menikah. Dan ini kesempatan emas buatku," ucapnya sekali lagi membuatku menarik napas panjang. Akan sangat tidak baik jika aku bertemu wanita seperti ini. Akan mengganggu pekerjaanku.
Dia terus mengikutiku. Aku sangat gerah dengannya. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan ini. Sebaiknya aku akan menghentikan dia sebelum jauh melakukan tindakan yang buruk.
Aku menuju wastafel dan mencuci tanganku. Dia di sampingku sambil bersedekap dan terus mengamatiku sambil tersenyum.
Aku menarik napas panjang sebelum berkata, Dokter. Aku memiliki kekasih. Dia Dokter Ana. Dari tadi dokter mengikutiku seperti ini. Aku tidak nyaman, dan aku tidak bisa bekerja. Lebih baik dokter melakukan pekerjaan Dokter.
"Aku tidak pernah melihat lelaki tampan dan setia seperti ini. Tapi kita akan lihat nanti. Kau akan setia apa tidak. Hmm, mana ada lelaki setia. Baiklah, kau sasaranku. Dan, aku selalu mendapat sasaranku."
Dia pergi setelah berkata aneh. Aku sangat resah. Wanita yang sangat menakutkan.
"Midas, apa yang kau lakukan?" Ana tiba-tiba datang dengan marah. Kedua matanya melotot.
"Kau malah ngobrol dan mengajak Doktet Mira kencan?"
Apa?