Ana datang mengatakan sesuatu hal yang sangat tidak masuk akal. Dia sangat marah kepadaku. Tatapannya tajam. Aku tidak mengerti dengan ini.
Aku dari tadi sudah memeriksa semua orang, bahkan lebih dari dua pulih pasien. Untuk apa aku mau ngobrol bersama dengan dokter yang baru saja aku kenal. Banyak sekali pasien di sini. Dan ... mengobrol adalah bukan salah satu dari sifatku.
"Tapi aku tadi baru saja ditemui oleh seseorang. Dia adalah dokter Mira dan dia mengatakan padaku jika dia sangat senang saat mengobrol denganmu di belakang tanpa ada orang sama sekali. Sedangkan aku memang mencarimu tidak ada. Lalu aku harus percaya dengan siapa? Dan, ternyata aku memang menemukanmu di sini," ucap Ana dengan nada yang cukup keras membuatku sangat kebingungan.
Ana aku mencuci tanganku dengan wastafel. Tentu saja aku harus di sini karena wastafel satu-satunya ada di sini. Jika aku tidak berada di sini, lalu aku harus ke mana lagi?
"Midas. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku hanya sangat terkejut ketika ada seseorang wanita mengatakan hal itu kepadaku. Lalu, apakah aku tidak wajar jika aku berbuat seperti ini? Namun, jika memang kau tidak seperti itu, baiklah. Aku mempercayaimu," balas Ana lalu pergi begitu saja meninggalkanku. Aku tidak tahu vagaimana caranya memahami wanita sama sekali. Mereka gampang sekali terpengaruh oleh hal buruk dan itu membuatku sangat terganggu. Sebaiknya aku menemui dokter itu dan mengatakan sesuatu kepadanya. Aku tidak ingin masalah ini semakin larut.
Aku segera berjalan keluar dari ruangan ini. Kedua mataku mengedar ke semua arah, mencari sosok wanita yang sudah membuat aku dan Ana bertengkar. Aku sama sekali tidak menemukannya, entah dia pergi atau dia memang sengaja bersembunyi dariku.
"Apakah kau mencariku? Aku berada di ruangan tengah karena ada pasien yang terkena serangan jantung mendadak. Aku adalah dokter spesialis jantung terbaik di sini. Hmm. Sepertinya kau menarik napas lega ketika melihat diriku," ucapnya benar-benar membuatku terperanjat. Aku segera membalikkan tubuhku dan memandangnya. Dia tersenyum puas, membuatku sedikit kesal. Aku sangat membenci dengan tipe perempuan seperti ini
Kau menemui kekasihku dan mengatakan suatu hal yang sangat buruk. Aku mohon jangan pernah memberikan suatu hal atau perbuatan yang bisa membuat kami bertengkar. Kau tahu sendiri kan perkataanmu itu adalah salah.
Dokter itu malah terkekeh pelan sambil bersedekap. Dia kini melepaskan kedua tangannya, lalu berjalan semakin mendekatiku. Aku spontan menghindar dan menggelengkan kepalaku. Aku tidak ingin terjadi hal sesuatu yang sama sekali tidak aku inginkan di sini.
"Emangnya apa yang aku katakan kepadanya? Aku hanya mengatakan jika di sini ada dokter hebat dan aku sudah mengobrol dengannya di belakang. Hei, itu adalah kenyataan. Tidak ada kebohongan di sini. "
"Dokter, ada pasien yang terkena serangan jantung. Dia tidak bisa bernapas. Kami membutuhkan dokter untuk segera pergi ke sana," ucap salah satu suster membuat aku terkejut. Tanpa berbicara lagi, aku segera mengikutinya. Begitu juga dengan Mira. Dia sepertinya sangat panik.
Ketika Mira melihatku berada di sebelahnya dan akan mengatasi pasien itu, dia mengernyit. Lalu menggelengkan kepala dengan kesal.
"Aku adalah dokter jantung di sini dan kau, jauh di bawahku. Tentu saja berbeda profesi. Jadi kau sebaiknya jangan pernah mengatasi apa yang bukan menjadi hakmu. Aku yang akan mengatasinya. Kau diam saja dan menunggu aku, jika aku membutuhkan bantuan. Lagi pula aku adalah senior. dan lebih tinggi di atasmu."
Spontan aku menganggukkan kepala lalu mundur dari posisiku. Aku sedikit menjauh darinya. Dengan saksama aku mengawasi semua yang dilakukannya. Memang dia benar-benar dokter yang sangat luar biasa. Aku melihat dia sangat ahli dalam mengatasi pasien itu, yang sama sekali tidak bisa bernapas.
Dokter Mira melakukan prakteknya dengan tepat waktu. Dalam beberapa menit, pasien itu bisa bernapas kembali. Aku terus mengamatinya dan mempelajari apa yang sudah dia lakukan. Dia benar-benar sangat ahli. Tidak salah jika dia merasa paling senior di sini. Aku harus menghormatinya. Walaupun aku sama sekali tidak suka senioritas.
Seseorang menepuk pundakku dengan sangat mendadak. Aku tidak percaya Ana berada di belakangku, lalu mengernyit memberikan ekspresi yang sangat aneh. Aku harap dia tidak menuduhku melakukan suatu hal apa pun sesuai pikirannya itu. Pasti dia akan berpikiran macam-macam kepadaku.
"Jadi kau berada di sini untuk mengamati dokter itu memeriksa pasien ini? Sedangkan di luar sana banyak sekali pasien yang sangat membutuhkan dirimu. Kenapa kau ini, Midas? Apakah kau memang benar-benar tertarik dengan dokter Mira? Sekarang keluarlah dari sini dan bantulah aku untuk menangani pasien lainnya," ucap Ana dengan sangat senewen. Dia berjalan begitu saja tanpa berkata apa pun lagi kepadaku. Sepertinya memang aku tidak bisa membantah apa pun karena perbuatanku selalu salah.
"Midas! Kenapa kau pergi dari sini? Lalu, siapa yang akan membantuku untuk menangani pasien yang ada di sini? Aku sangat membutuhkan bantuan dan kau yang bisa melakukannya."
Aku memegang kepalaku dan merasa kebingungan. Di sisi lain, Ana menginginkan aku bersamanya untuk menangani pasien yang lain. Namun, Mira menginginkan aku di sini untuk membantunya. Sementara aku memang tidak melihat siapapun yang bisa diandalkan. Sedangkan pasien itu adalah pasien yang paling parah di sini.
Dalam sekejap aku memutuskan untuk tetap tinggal dan membantu Mira. Aku segera mendekatinya, lalu melihat pasien yang berada di hadapan kami. Pasien ini memang sangat parah. Sementara, peralatan yang ada di sini sama sekali tidak lengkap.
"Midas. Kau harus mengambil alat itu dan memberikannya kepadaku. Aku membutuhkannya. "
Semuanya aku lakukan dengan tepat waktu. Kami bekerja sama dengan baik. Tidak aku sangka Mira sangat berbeda dengan dirinya yang aku kenal barusan. Dia sangat profesional ketika memeriksa pasien ini. Padahal aku baru saja melihat sifatnya yang sama sekali berbeda. Dia sangat menyebalkan dan membuatku marah.
Semua suster lega melihat kami bisa menangani pasien dengan baik. Pasien itu kini bisa bernapas kembali, bahkan sedikit memberikan senyuman kepada kami.
"Baiklah aku sudah selesai mengatasimu. Kau sebaiknya jangan meminum soda atau makanan yang pedas. Jaga kesehatanmu dengan baik," ucap Mira lalu meninggalkan pasien itu yang kini ditangani oleh suster.
"Kau sudah membantuku sangat baik. Yah, tidak aku sangka kau sangat ahli. "
Aku dokter lulusan terbaik di Universitas Dokter Alberth dan aku jurusan bedah. Tentu saja aku bisa mengatasi penyakit jantung. Karena itu adalah sesuatu yang sudah aku pelajari selama ini. Dan, ini bukan pamer atau sombong. Aku hanya tidak suka, dengan seseorang yang selalu membawa membawa senioritas dalam hal pekerjaan. Hei, pekerjaan kita adalah mulia. Kita harus saling bekerja sama untuk menangani manusia yang memiliki penyakit. Ilmu itu tidak ada perbedaan. Tetapi ilmu itu harus kita salurkan untuk membantu.
"Wow. Ternyata aku tidak salah melihat laki-laki yang memang sangat baik seperti dirimu. Baru pertama kali aku melihatnya dan kau sangat luar biasa. Tidak hanya pintar, namun dermawan. Haha, tidak salah jika aku sangat mengagumimu. "
"Mengagumi apa? Kau selalu saja menggoda semua laki-laki yang ada disini, Mira. Apakah kau ingin melakukannya kepada kekasihku?"
Ini benar-benar di luar dugaanku. Ana datang, kemudian marah seperti ini. Aku menariknya dan menggelengkan kepala untuk mencegah dia marah. Namun, dia menampid tanganku dan kembali berhadapan dengan Mira yang sangat santai sambil bersedekap di hadapannya.
"Kau sudah menggoda semua dokter laki-laki dan ingatlah posisimu. Kita di sini sama. Tidak ada perbedaan dalam hal kedudukan. Yang berbeda hanya pengalaman yang dan jurusan di antara kita," ucap Ana dengan sangat tegas.
"Apa salahku? Aku tidak melakukan apa pun. Kau ini marah tidak jelas seperti ini. Lihatlah lelaki yang berada di sebelahmu ini, sangat tampan dan tentu saja banyak yang menyukainya. Bahkan para suster pun saling berbisik membicarakan Midas. Jadi kau sebaiknya jangan seperti ini dan jagalah lelaki itu dengan baik, karena bisa-bisa dia berubah pikiran menyukai orang lain selain dirimu."
"Apakah kau mengancamku? Ingatlah baik-baik perkataanku. Jika kau melakukannya, aku benar-benar akan membuatmu hancur dan kau tidak akan pernah menjadi dokter kembali. Kau sudah menyakiti seseorang dan dia sekarang sangat menderita dengan itu. Seharusnya kau sadar. Kau, adalah wanita yang tidak tahu diri."
Ucapan Ana yang semakin membuatku tidak mengerti. Aku benar-benar sangat frustasi. Aku melihat Mira yang kini terpaku dengan tegang setelah mendengar apa yang Ana katakan. Namun, aku tidak akan menanyakan permasalahan itu karena menurutku itu tidak penting.
Sudahlah di sini kita bekerja. Sebaiknya jangan berdebat seperti ini.
"Midas. Aku benar-benar marah kepadamu. Aku tidak ingin menemuimu!"