Kecemburuan Dengan Pekerjaan

1102 Kata
Ana marah kepadaku. Dia pergi meninggalkanku begitu saja. Tidak aku sangka ternyata wanita jika cemburu seperti ini. Tapi kalau aku menjadi dirinya, pasti juga merasakan hal yang sama. Aku juga tidak ingin dia mendekati laki-laki lain selain diriku. "Hahaha. Lihatlah, dia tidak pantas untukmu, Midas. Marah begitu saja dan meninggalkanmu seperti itu. Bahkan menuduhku melakukan suatu hal yang sama sekali tidak aku mengerti." Aku sangat marah ketika dia mengatakan itu. Dia tidak berhak menyalahkan Ana. Padahal dia sendiri yang membuat keributan ini. Dia benar-benar sangat menyebalkan. Kau tahu sendiri yang menyebabkan semua masalah ini adalah dirimu, dan bukan Ana. Jadi kau jangan membela dirimu sendiri dengan mengatakan Ana tidak pantas untukku. Karena aku tidak menyukainya. Mungkin aku sekarang diam atau tidak melakukan hal apa pun, karena kalian adalah wanita. Aku sangat menghargai wanita. Namun, jika melebihi batas, aku juga bisa sangat marah. Aku meninggalkannya begitu saja keluar dari ruangan, lalu akan mencari Ana. Tapi ternyata suster mendekatiku. Dia mengatakan di luar ada seorang anak dengan tiba-tiba pingsan. "Dokter, ada anak tiba-tiba pingsan. Kedua orang tuanya adalah juragan di sini. Dia ada di ruangan khusus dokter. Ana sudah mengatasinya, tapi sepertinya aku melihat dia sangat kewalahan. Entahlah apa yang dialami oleh anak itu. Dia sangat membutuhkan bantuan." "Biar saja aku yang melakukannya. Aku adalah dokter yang sangat hebat di sini sebelum kehadiran mereka. Aku yang selalu mengatasi semua masalah. Kenapa kau tidak memanggilku saja?" Mira datang dengan sangat tegas mengatakan kepada Suster itu dan melotot ke arahnya. Suster itu seketika menundukkan kepala. Mereka sangat takut dengan Mira. "Maafkan saya dokter Mira. Karena saya tidak melihat Anda, maka saya meminta bantuan kepada dokter siapapun yang berada di sini. Karena sepertinya ini mendesak," balas suster masih dengan menundukkan kepala. "Mita akan segera ke sana. Tunjukkan aku di mana tempatnya." Mira dan suster itu berjalan menuju ke ruangan khusus. Aku juga mengikuti mereka dari belakang. Aku tidak akan pernah meninggalkan ini. Siapa tahu mereka juga membutuhkanku. Sku dokter paling junior di sini. Namun, aku juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Di dalam ruangan Ana kebingungan. Dia menggunakan beberapa alat yang sangat terbatas dan berusaha menolong anak itu yang kejang. Kedua matanya melotot. Dia mengalami kejang tiba-tiba dan aku yakin anak itu pasti demam atau terdapat infeksi yang terjadi di dalam tubuhnya. Ana, anak itu mengalami infeksi di dalam tubuhnya. Kita harus memeriksanya  ke ruangan untuk rontgen. "Ada alat rontgen di sini. Tapi memang tidak secanggih apa yang ada di kota. Tapi kita akan mencobanya. Memang benar aku merasakan dia mengalami penyumbatan di usus di dalam tubuhnya karena ada kotoran di sana. Dan, kita harus segera mengoperasinya." Keputusan operasi kita lakukan jika sudah mengetahui hasilnya dari rontgen itu. Jangan terburu-buru menyikapi sesuatu. Lakukan dengan pelan tapi sesuai tepat waktu. Ingat lah kita harus menyelamatkan nyawanya tidak boleh melakukan apa pun dengan ceroboh. Ana sepertinya tidak suka dengan apa yang aku sarankan. Dia menatapku dengan kesal. Sementara Mira semakin tersenyum. Dia sangat senang jika aku mengatakan sesuatu hal yang sangat tegas kepada Ana. Hah, ini tidak ada hubungannya dengan hal apa pun. Aku hanya ingin memberikan saran kepada dirinya. "Dengarkan dia dokter Ana. Apa yang dia katakan memang benar. Kau jangan sok pintar di sini. Kami semua sama-sama Dokter dan bersekolah." Aku hanya menyelesaikan kuliah itu selama 4 tahun, dan spesialis juga sudah aku selesaikan. Aku berbeda dengan kalian. Bukan maksud aku untuk sombong atau membanggakan sesuatu. Tapi aku tidak pernah membawa gelarku seperti kalian. Tetapi ini adalah pekerjaan yang sangat penting. Menyelamatkan manusia itu tidak boleh membawa profesi kita atau menganggap lawan kita adalah senior dan Junior. Sekarang kita akan menyembuhkan anak ini dan jangan berdebat. Aku tidak ingin memimpin pemeriksaan anak ini. Tapi aku hanya memberikan saran, dan kalian yang bisa melakukannya. Kali ini aku yang marah kepada mereka. Hah, tidak aku sangka mereka seperti ini. Membawa perasaan dalam pekerjaan mereka. Sama sekali tidak profesional. Tidak peduli Ana kekasihku atau dia sebagai istriku, aku tidak ingin membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan karena ini menyangkut nyawa dari seseorang. Mereka sangat bergantung kepada kita untuk keselamatan mereka. Aku meninggalkan Ana dan Mira begitu saja, lalu memanggil suster. Aku segera mengambil brangkar dorong untuk membawa anak itu menuju ruangan rontgen. Aku ingin melihatnya. Apa yang sebenarnya ada di dalam tubuhnya. Bawalah anak ini menuju ruangan rontgen. Jangan pedulikan kedua dokter yang berdebat seperti itu. Kita tidak boleh terlambat dalam menanganinya. Karena ini sangat penting, ucapku kepada Suster itu ia menganggukkan kepala dengan cepat. "Midas. Kau pikir bisa melakukan ini tanpa aku? Hei, aku juga bisa menangani masalah itu. Kau jangan seperti ini. Semua masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan pernah melakukan ini kepada semua dokter." Ana menghampiriku. Dia terus memberikan ocehannya dan sangat marah. Aku kali ini tidak mempedulikannya. Aku masih terus berjalan menuju ke ruangan rontgen untuk melihat keadaan Anak itu. Aku meninggalkan Ana begitu saja. "Dokter Ana, sebaiknya kau jangan mempermasalahkan urusan itu dulu. Kita sebaiknya harus berkonsentrasi dan melihat keadaan anak ini. Tiga dokter di sini sudah cukup untuk menyembuhkan anak itu. Apalagi kita sama-sama lulusan terbaik." Aku menarik napas panjang masih sangat kesal melihat perdebatan yang terjadi di hadapanku. Tapi kali ini aku setuju dengan Mira. Ana tidak seharusnya melakukan itu. "Aku tidak pernah memulai hal apa pun sebelum ada seseorang yang memulainya. Bukankah kau yang memulainya dulu, baru diriku?" Aku segera menarik tangannya dan menggelengkan kepala. Dia masih saja sangat marah. Sementara anak itu sudah siap di dalam ruangan rontgen dengan hasilnya. Aku akan memeriksanya, dan meninggalkan hal yang tidak penting ini. Ana sudah cukup. Kita akan menyelesaikan masalah ini setelah memeriksa anak ini. Aku mohon kau harus bisa menjaga privasimu sebagai seorang dokter yang profesional. "Kau ternyata membela dirinya, Midas. Kau yang tidak profesional membawa dirimu ke sini dan menggoda semua Dokter. Aku benar-benar membencimu. Yah, selesaikan saja masalahmu ini dan aku tidak akan pernah membantumu. Kau memang dokter yang sangat hebat. Untuk apa aku membantumu? Selesaikan saja masalahmu!" Benar-benar di luar dugaanku. Ana seperti itu. Dia pergi begitu saja, sementara Mira hanya menggelengkan kepala lalu menatap layar yang sudah berisi hasil dari rontgen anak itu. Dia melotot dan menggelengkan kepala ketika melihat semua jaringan usus yang berada di dalam perut kecil itu sangat kotor. "Kita harus melakukan operasi. kita tidak boleh terlambat melakukannya." Aku akan menyiapkan operasi itu, namun setelah aku berjalan keluar dari ruangan, seseorang berada di hadapan kami dengan beberapa lelaki yang memakai jas sebagai pengawal. Aku yakin orang itu adalah kedua orang tua anak itu. Namun, kenapa mereka mengamati kami dengan sangat mengerikan? Apakah mereka tidak setuju kita melakukan operasi? Atau apa yang mereka inginkan? "Kami tidak akan menjalani operasi itu. Kami akan menggunakan obat tradisional."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN