Aku sudah tidak terkendali. Kini aku menghajarnya sampai habis. Aku sudah tidak tahan lagi dengannya. Perkataannya sudah sangat menghina sekali. Dia memang pantas untuk dihajar!
"Midas! Jangan! Kau mau membuatnya kehilangan nyawa? Jangan seperti itu!" Roy menarikku. Dia memegang kepalanya, panik melihat aku membuat tunangan Ana tidak berdaya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit. Dan, kau akan mendapat masalah dengan ini," Rey menggelengkan kepala.
Aku masih terdiam tidak peduli dengan ucapan mereka. Aku sudah menghajar lelaki tidak tahu diri ini. Dia harus menerima ganjarannya. Jika dia berani melaporkan ke aparat, aku akan menunjukkan bukti jika dia sudah berani menjebak Ana dengan sangat mengerikan.
"Midas, sekarang kita bawa dia ke rumah sakit dan kita bisa selesaikan urusan yang lain. Dia tidak mungkin melaporkan kamu. Karena kau juga memiliki bukti yang kuat untuk membuat ia di penjara."
Aku tidak peduli dia melaporkanku atau tidak. Yang penting aku sudah menghajarkan. Dia sudah tidak tahu diri, Roy. Ya sudah. Aku akan membawanya ke rumah sakit dan bertanggung jawab.
Kami memasukkan tunangan Ana ke dalam mobil dan memasukkan ke rumah sakit. Dia sudah dirawat di sana. Aku sedikit memberikan ancaman kepadanya. Jika dia buka mulut, aku akan membuka semuanya. Dia hanya terdiam. Mungkin saja ancamanku membuatnya sedikit ketakutan.
Di dalam mobil, kaminmasih terdiam. Rey dan Roy tidak percaya melihatku sangat ganas seperti itu. Mereka baru kali ini melihatnya.
"Baiklah, aku akan menemui Pengacaraku dan menanyakan semua berkas milik Amelia."
Roy kembali melesatkan mobilnya. Dalam sekejap, kami sampai di kantor pengacara cukup terkenal. Roy memiliki kenalan yang sangat banyak. Kami beruntung sekali.
"Ini pengacara yang sering aku gunakan. Dia wanita. Yah, tentu saja. Kalian jangan terkejut. Aku selalu berkawan dengan wanita. Aku laki- laki normal. Tapi, jangan katakan apa pun kepada Sarah!"
Roy, kenapa kau memainkan perasaannya? Aku pikir kau sangat cocok dengan Sarah. Dia wanita hebat, dan kau ... sangat nyaman dengannya.
"Midas. Ketika kau melihat wanita nanti di dalam, kau pasti juga akan mengatakan dia hebat dan cocok denganku. Argh, sudahlah. Kenapa kalian malah membahas semua teman wanitaku?"
"Aku tidak akan ikut campur dalam urusan ini. Kita akan kembali ke tujuan semula." Rey menyela kita. Dia keluar dari mobil mendahuluiku kemudian Roy. Aku menyusul mereka. Aku kesal melihat Roy memiliki wanita cukup banyak.
Di dalam ruangan, seperti biasa. Roy memeluk wanita itu yang sangat senang dengan kedatangannya.
"Roy, kenapa kau lama sekali tidak mengunjungiku. Kau ... tahu. Aku sangat merindukanmu," ucap wanita itu dengan sangat manja. Dia mulai merabanya. Aku benar-benar kesal. Aku duduk, menatapnya dengan tegang. Sementara, Rey hanya diam saja. Aku tahu, dia pasti kesal namun dia tahan.
"Hey, aku mau meminta tolong. Periksalah berkas itu. Dan, kita akan berkencan setelahnya. Bagaimana?" Rayuan Roy kembali membuat wanita itu tersenyum. Dia menerima beberapa berkas yang disodorkan Rey. Aku segera menarik Rey dan menatapnya.
Roy, jangan memeluknya di depan kami. Sudahlah, aku sangat kesal melihatnya. Apakah tidak ada cara lain selain merayu yang seperti itu? Kau pikir kami apa, harus mengawasimu seperti itu. Kau sangat menyebalkan, Roy.
"Jika aku tidak melakukannya, apa dia mau memeriksa dokumen itu dengan gratis? Hei tenanglah. Ini salah satu strategiku," bisiknya pelan sambil terus tersenyum ke arah pengacara wanita itu.
Pengacara itu menatap kami. Sepertinya dia sudah selesai membacanya. Aku harap kami tidak mendapatkan kabar yang sangat buruk. Rey sangat cemas. Dia terus mengeratkan kesepuluh jemarinya. Aku menekan pundaknya dan menganggukkan kepala agar dia tidak merasakan cemas ketika mendengar sesuatu yang membuatnya akan sangat terkejut.
"Jadi kau pemilik dokumen ini?" tanya wanita itu pada Rey yang menganggukkan kepala dengan cepat.
"Yah, aku adalah pemilik dokumen ini. Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya ada masalah yang sangat serius. Apa yang sudah kau baca. Tolong jelaskan kepadaku. Tidak perlu ditambah atau dikurang. Katakanlah yang sejujurnya."
"Jadi dia sudah menguasai semua kekayaan ini. Aku yakin dia memalsukan tanda tangan ini. Karena ini tidak sama dengan aslinya. Kau beruntung membawanya. Aku bisa merubah semuanya. Ada dokumen palsu yang, diselipkan. Ini dia," tunjuknya ke arah kami yang menatap tegang.
Jadi dokumen surat kuasa itu bisa kita singkirkan?
Pengacara wanita itu terkejut ketika melihatku memberikan bahasa isyarat. Dia menggelengkan kepala sambil mengernyit.
"Ternyata kau sangat tampan tapi tidak bisa berbicara. Baiklah, tidak masalah. Yang mempunyai dokumen ini aku harap seseorang yang bisa berbicara," jawabnya mengamati kami secara bergantian.
"Aku adalah pemilik dokumen itu dan namaku yang ada di sana. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat dokumen itu menjadi milikku kembali?" tanya Rey sembari menarik napas panjang. Dia sangat pucat pasi.
"Aku bisa mengusahakannya. Tapi, dokumen ini membutuhkan biaya yang cukup banyak. Bahkan, mungkin Rey pun tidak sanggup untuk membayarnya."
Roy berdiri dari duduknya dan menatap pengacara wanita itu. Dia mendekatinya, lalu bersedekap di hadapannya. "Apa yang tidak bisa aku bayar? Hei, katakan berapa biayanya. Tentu saja aku bisa memberikannya. Kau tau sendiri aku adalah pemuda yang sangat kaya raya. Tidak mungkin aku tidak bisa membayar."
Pengacara wanita itu tertawa di hadapan Roy dan menggelengkan kepala. "Tentu saja kau bisa membayarnya. Aku sangat tahu itu. Tapi bayarannya sangat mahal. Aku harus senang baru aku akan melakukannya. Jika kau membuatku tidak senang. Aku tidak akan mengerjakannya."
Sudah aku duga. Pasti wanita itu akan mengatakan hal seperti itu. Tapi aku akan mencegahnya. Aku mengambil ranselku dan mengeluarkan buku tabungan yang berisi ratusan juta. Yah, itu uang yang diberikan Abdul saat itu. Rey melotot saar melihatnya. Dia tidak percaya aku memiliki uang segitu banyak."
"Midas. Kau memiliki uang yang sangat banyak? Hei dari mana uang itu? Cepat katakan kepadaku! Ah, ini benar-benar luar biasa!"
Setelah masalah selesai, kita akan membicarakan. Sekarang yang terpenting kita sudah memiliki uang dan cepat lakukan apa yang harus kau lakukan Nyonya. Aku ingin kau menyelesaikan masalah ini. Tolonglah, aku tidak ingin semuanya terhambat oleh suatu hal yang sangat konyol. Aku hanya ingin kembali ke Universitas dengan secepatnya. Aku ingin menemui dokter Alberth.
"Tunggu dulu! Maksud kamu Dokter Alberth pemilik universitas kedokteran itu? Hmm, aku sangat mengenalnya. Dia kemarin juga menghubungiku dan ingin membicarakan suatu hal bersama dengan wanita yang sangat sakit parah sepertinya."
Kamu bertiga tidak menyangka pengacara wanita itu mengatakan tentang Amelia dan aku yakin pasti itu dia.
Apa kau mengenal Amelia? Lalu, kapan kau bertemu dengan Dokter Alberth? Tolonglah Nyonya. Aku sangat membutuhkan dia. Yah, aku harus bertemu dengannya. Katakan kepadaku. Kau membutuhkan uang berapa untuk menbuatku bertemu dengannya.
"Hei, tunggu dulu teman. Kau ini selalu terburu-buru. Kita pasti akan bertemu dengannya. Aku akan mengaturnya. Kita akan perlahan melakukannya," ucap Roy sambil menatapku. Aku seketika menghentikan ucapanku.
"Kau tahu apa yang aku inginkan. Kau harus membantuku untuk menemukan dokter itu. Aku ... akan menuruti semua kemauanmu."
Semoga saja Roy bisa membuat Dokter itu luluh.
"Baiklah, siang ini aku bertemu dengannya. Dokter itu."