Sepertinya aku harus melawan saja dia memperlakukan Ana seperti itu dan aku tidak mungkin untuk membiarkan hal itu terjadi.
Kau memang sangat pengecut. Kenapa mengambil kesempatan ini untuk menggunakan seorang wanita sebagai ancaman. Yah, kau ternyata laki-laki penakut. Yang tidak aku sangka, kau membawa semua pengikutmu dan semua mahasiswa untuk menjatuhkanku. Apakah kau tidak berani melawanku sendirian saja?
"Hahaha, sangat sombong sekali. Aku tentu saja berani melawanmu. Untuk apa aku tidak berani melakukannya? Kau akan dengan mudah dikalahkan. Laki-laki, bisu!"
Kalau begitu jangan bawa Ana dalam masalah ini. Jangan bahwa semua mahasiswa itu dan kita lakukan berdua saja di tempat ini dengan sedikit orang sebagai saksi. Untuk apa memperlihatkan ke semua orang? Kau akan kalah dihadapanku. Lihat saja. Apakah kau mau menanggung malu?
"Masih saja sombong. Aku tidak tahu kau mengatakan apa. Haha, tidak bisa berbicara. Lihatlah, tanganmu itu terus berputar memberikan bahasa isyarat yang sama sekali tidak aku mengerti. Kau sangat bodoh. Sudahlah, jangan memperpanjang waktu. Lebih baik kita bertanding sekarang, karena aku tidak sabar untuk menghajarmu."
Tidak aku sangka ternyata pilihan Ana memang benar. Dia tidak harus menikah dengan laki-laki yang sangat menyebalkan dan sombong seperti itu. Ana adalah wanita baik dan tentu saja lelaki baik-baik yang bisa mendampingi dirinya. Aku akan menghajarnya dan membuat malu di depan semua mahasiswa ini. Lihat saja nanti.
Aku berdiri menatap Ana dan melambaikan tanganku. Aku tidak ingin terjadi apapun dengannya. Aku melempar senyuman dan dia akhirnya diam tidak meronta. Aku menganggukan kepala, memberikan isyarat kepada dia agar dia diam di situ dan menungguku untuk menjemputnya.
Tunggulah aku, Ana.
Dia tersenyum melihatku menggunakan bahasa isyarat.
Aku mencintaimu. Aku akan menjemputmu segera.
Dia menganggukkan kepala dan membalas senyumanku. Semua mahasiswa terpaku melihat kami yang sangat romantis ini.
Kini aku membalikkan tubuhku dan menatap kembali laki-laki yang sudah siap mengepalkan kedua tangannya untuk menyerangku. Namun, kali ini aku melihat dia berjalan mendekatiku, lalu mengambil sebuah besi yang cukup panjang dan diarahkan tepat kepada wajahku. Tentu saja aku dengan cepat menghindarinya.
"Hah, rasakan!" teriaknya keras.
"Kau akan aku hajar, Midas. Rasakan ini!" teriaknya kembali sangat keras. Dengan cepat dia mengayunkan besi itu dan menyerangku berkali-kali. Spontan aku menghindarinya. Aku menunduk, lalu mengepalkan tangan kananku dan memukul perutnya sekuat tenaga. Seketika itu juga pukulanku membuatnya tersungkur.
Semua Mahasiswa yang semula menyoraki kami dengan sangat keras, kini terdiam spontan menematiku dengan sangat tajam. Mereka tidak menyangka tunangan Ana tersungkur dan tidak sadarkan diri. Sekali pukulanku membuatnya tumbang
Ilmu itu, aku mempelajarinya dari kakek. Jika aku memukul di daerah sebelah perutnya, aku bisa menumbangkan dia dan membuat dia pingsan dalam beberapa menit. Itu adalah pelajaran yang aku ingat dari kecil dan sekarang aku melakukannya. Aku berdiri mengamati semua mahasiswa dan hanya terdiam di tengah.
"Midas!"
Ana segera berlari dan mendorong semua mahasiswi perempuan yang menghalanginya. Dia menuruni tangga, terus berlari cepat menghampiriku dan memelukku di depan semua mahasiswa yang masih terpaku melihat kami. Sementara tunangan Ana masih saja tersungkur di di tanah dan aku sebenarnya tidak tega saat melihatnya seperti itu. Dia sekarang sudah sangat malu dan membayar apa yang sudah dia lakukan padaku.
Entah kenapa seluruh pengikutnya tidak mengangkat lelaki itu. Mereka malah terdiam dan membiarkannya begitu saja.
Ana, sebaiknya aku menolongnya. Aku tidak mau dia seperti ini. Ini adalah tanggung jawabku dan aku yang membuatnya terluka.
"Untuk apa kita membantunya? Midas, dia sudah memperlakukan kita dengan sangat buruk. Biar saja dia seperti itu."
Kita tidak boleh seperti itu. Sudahlah aku akan mengangkatnya dan membawanya ke unit kesehatan. Sebaiknya itu yang harus kita lakukan.
Semua mahasiswa menatapku saat aku mengangkat tubuh tunangan Ana dan membawanya pergi. Mungkin dalam pikiran mereka tidak paham dengan apa yang aku lakukan. Seharusnya aku membiarkannya saja dan memperlakukan dia sama, dengan apa yang dia lakukan kepadaku. Atau membiarkan saja dia tergeletak seperti itu, yang membuatnya malu.
Aku sekuat tenaga membawanya ke unit kesehatan. Untung saja tubuhku kekar. Aku bisa mengangkatnya dengan mudah, walaupun sebenarnya berat juga.
"Ada apa ini?" ucap suster jaga terkejut melihatku membawa tunangan Ana. Aku tidak suka menyebut namanya. Nama itu tidak mau aku ingat. Sama dengan semua orang yang sudah menyakitiku. Aku tidak mau menyebut namanya. Dengan begitu, aku bisa melupakan mereka dengan mudah.
Suster itu memeriksa dia dengan saksama. Aku sebaiknya pergi. Ana menarikku keras hingga aku benar-benar keluar dari ruangan itu.
"Midas, kau tidak apa-apa?" tanya Ana memandangiku dan aku tersenyum. Dia memelukku dengan mendadak. Aku membalas senyumannya dan pelukannya. Aku juga sangat kawatir dengannya. Bagaimana tidak, dia memperlakukan Ana seperti itu. Aku sangat kawatir dengannya.
Ana, aku sangat takut terjadi hal buruk denganmu. Mereka menarikmu? Atau memukulmu? Apa yang sudah mereka lakukan? Aku sangat takut ter jadi hal buruk denganmu. Apa kau baik-baik saja?
"Kau tidak lihat? Aku sangat baik. Mereka memang menarik dan sempat akan memukulku. Tapi ... tentu saja aku membalasnya. Emangnya kamu saja yang memiliki keahlian bela diri?"
Aku terkekeh pelan. Syukurlah dengan Ana. Aku sempat kawatir. Jika mengingatnya, jantungku rasanya mau copot.
Kita lebih baik pergi. Aku mau memakan sesuatu. Perutku sangat lapar. Pasti Rey sudah memasak untukku.
"Kebetulan aku juga lapar," balas Ana menggenggam erat tanganku dan kami berjalan.
Tawaan masih saja menyertai kami. Namun, langkah kami terhenti saat berjalan di tengah lorong. Seorang laki-laki cukup tua dengan sedikit kumis dan berkaca mata menatap kami dengan tajam. Di sebelahnya tiga pria berjas setinggi diriku siap untuk menyerangku. Siapa dia? Ada apa lagi ini?
"Ana?!" teriaknya keras.
Dia mengetahui Ana? Bahkan dia memanggil Ana dengan sangat keras? Siapa dia?
Ana siapa dia? Kenapa diam saja. Jangan mempersulit keadaan. Kita akan menghadapi semua rintangan. Tapi, kau jangan diam saja.
"Kau ... benar-benar bisu? Ini tidak mungkin! Kau ... akan benar-benar mempermalukan keluargamu, Ana!"
Teriaknya kembali sambil mengulurkan tangan kanannya. Menunjukkan jemarinya tepat di wajah kami. Lelaki tua itu mulai melangkah mendekati kami. Aku tidak mengerti.
"Midas, sebaiknya kita lari saja!" ucap Ana mengejutkanku.
Apa? Ana, siapa dia?
Pertanyaanku yang masih saja tidak Ana jawab.
"Midas, lari!"
Ana ... kau!
Tidak aku sangka Ana menarikku, dan mengajakku lari kencang.
"Kejar, mereka!" teriak lelaki itu membuat semua pengawal mengejar kami.
Gawat! Siapa mereka, Ana!