Menyerahkan Ana

1713 Kata
Ana terus berlari tanpa mengucapkankan apapun. Dia menarikku dengan sangat keras. Lelaki tua itu dan dua pengawalnya terus mengejar kami hingga kita berbelok, dan Ana membuka ruangan kecil itu. Dia membuat kami kembali masuk ke dalam sana. Ana spontan menutup pintu dengan sangat rapat lalu menutup bibirku dengan jemarinya. "Kejar mereka! Jangan sampai lolos. A harus pulang ke rumah. Sekarang dia tidak boleh lari dan pergi. Aku akan mencari siapa lelaki itu. Besok dia dan akan aku beri pelajaran." Aku bergemetar melihat apa yang dia katakan. Memberiku pelajaran? Lalu yang kedua Ana harus pulang ke rumah. Apakah dia sebenarnya .... Aku melepaskan tangan Ana perlahan. Lalu menggelengkan kepalaku dan dia terus menatapku. Aku mendekati telinganya kemudian berbisik kepadanya menanyakan siapa yang sudah berlari itu mengejar kita. Ana katakan, siapa dia dan kenapa berlari mengejar kita? Aku kau harus kembali ke rumah. Jangan seperti ini. Aku tidak mau kau berlari dari kenyataan. Ayolah Ana ceritakan kepadaku, siapa dia? "Dia ... ayahku." Jawaban Ana yang sangat singkat dan membuatku melotot tajam. Spontan sekujur tubuhku kaku. Tidak mungkin itu adalah Ayah Ana. Berarti dia sudah mengetahui hubungan kita. Ini sangat gawat. Aku sudah membawa Ana dalam kehancuran. Ana kita tidak sebaiknya berlari. Kau harus kembali ke rumahmu, dan temui ayahmu. Berbicaralah kepada dia. Ini tidak mungkin. Aku tidak mau kau hancur gara-gara aku. Ana, aku mohon. Ini yang terbaik buat kita "Jadi, kau mau kita putus? Seperti itu maksud kamu? Aku tidak mau pulang Midas. Dia mau menjodohkanku dengan laki-laki sialan itu. Aku sendiri saja tidak mau menyebutkan namanya. Dia b******k Midas. Apalagi yang harus aku lakukan selain lari. Jika aku ke rumah Ayah, dia akan mengurungku, dan ibuku membiarkan dia melakukan itu. Mereka hanya menginginkan kedudukan saja tanpa memandang perasaan anaknya sendiri. Aku tidak mau pulang. Jika kau tidak menginginkanku, ya sudah. Aku akan pergi, tapi aku tidak mau pulang." Ana, jangan seperti itu. Baiklah kita akan cari solusinya. Tapi, aku mohon kau sekarang tenanglah dan biarkan ayahmu pergi dulu. Kita akan cari solusinya dan aku akan berbicara dengan ayahmu. Bagaimana? "Kamu akan berbicara dengan ayahku? Itu adalah suatu ide yang sangat bagus dan aku menyukainya. Terima kasih Midas, kau kekasihku yang luar biasa." Aku memeluk Ana dan membelai rambutnya. Aku berusaha menenangkan hatinya. Aku akan membawa dia ke rumahnya dan menyerahkan pada orang tuanya. Itu hal yang terbaik yang harus aku lakukan. Kita tidak boleh melarikan diri. Ini tidak bagus untuknya. Aku kembali menciumnya. Kami seperti biasa saling membalas. Bibir kami bersatu dengan dalam dan hangat. Aku sama sekali tidak mau melepaskannya. Lumatan saling membalas ini benar-benar nikmat. Hingga kami melakukannya cukup lama. Melepaskan perlahan untuk mengambil napas, lalu melakukannya lagi. Andaikan dia istriku. Aku akan sangat bahagia menerima ini setiap hari. Aku akan menunggu hal itu. Aku melepaskan bibirku, mengeratkan kening. Kami saling melempar senyuman. Baiklah kita akan keluar dari sini perlahan. Lalu segera menuju ke rumahmu. Aku akan menemui ayahmu dan mengatakan jika aku akan melamarmu. Aku akan mengatakan jika kamu adalah kekasihku. Itu yang akan aku lakukan. Ana menganggukkan kepala. Kemudian, perlahan aku membuka pintu itu. Aku mengamati kanan kiri, lalu berjalan cepat menggandeng erat tangan Ana menuju kamarku. Aku segera masuk ke dalam. Rey dan Putri terkejut melihatku sangat pucat. Begitu juga dengan Ana. "Midas?" Dia segera berlari mendekatiku dan menyodorkan dua botol minuman. Kami segera mengambilnya dan meneguknya tanpa sisa. "Apa yang terjadi Midas? Aku lihat kau sangat pucat. Apakah lelaki itu ada di sini dan mantan istriku Amelia? Katakan kita akan pergi dari sini. Aku tidak mau merepotkanmu. Apalagi dokter Ana. Kau juga terlibat dalam masalah ini. Hah, ini membuatku sangat frustasi. Tidak seharusnya aku membawa kalian terjun ke dalam masalah aku yang dipenuhi konflik ini. Maafkan aku. Nyawa kalian terancam gara-gara aku." Udah Rey. Ini bukan karena kamu. Aku bertemu dengan Ayah Ana tadi. Dia sangat marah dan mengejar kami. Tapi Ana mengajakku berlari. "Apa berlari? Lalu kalian?" Aku akan membersihkan diriku dan berdandan sangat rapi. Aku akan mengantar Ana menuju ke rumahnya. Aku akan menuju ke sana dan mengatakan jika Ana ekasihku. Rey, aku akan melamarnya. Tapi aku membutuhkan seseorang yang membsntuku. Kau harus ikut Rey. "Kau tidak bisa melakukan itu, Midas. Jika kau melamar seorang gadis, kau harus membawa sesuatu. Apa yang kau berikan? Hanya cinta tidak bisa, Midas. Apalagi zaman sekarang tidak seperti itu. Sebaiknya kau tidak melakukannya. Kalau kau nekat, kau malah akan mendapatkan caci maki yang sangat luar biasa. Lupakan hal itu." Ana spontan melotot melihat Rey. Dia mendekati Rey, dan itu sangat buruk. "Jadi kau melarang Midas untuk melamar ku, Tuan? Apakah keberatan? Tuan tahu, itu adalah suatu rencana yang bagus yang harus Midas lakukan untukku. Kenapa kau melarangnya?" protes Ana sangat keras. "Maafkan saya, Dokter Ana. Anda lebih baik memikirkan ini sekali lagi. Dokter sangat paham bagaimana keadaan rumah orang-orang kaya. Mereka menginginkan lebih. Mereka tidak peduli dengan perasaan. Yang terpenting adalah sebuah kehormatan yang bisa mengangkat harga diri mereka. Itu sudah sangat Dokter ketahui. Kenapa membawa Midas dalam masalah ini? Perkataan Rey sangat benar namun. Aku melihat Ana menundukkan kepala dengan wajah yang sangat sendu. Apalagi air mata sudah mulai mengalir di kedua matanya. Aku sangat tidak tega melihat dia. Apa yang harus aku lakukan? Ana, aku tidak peduli dicaci-maki. Tunggulah, aku akan berganti pakaian. Spontan anak mengangkat wajahnya dan tersenyum. Sementara Rey menggelengkan kepala lalu mengangkat kedua tangannya. Dia tidak mengerti dengan keputusan yang aku buat. Akhirnya dia berharap aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan segera. "Baiklah, lakukan saja. Aku harap kau segera menyelesaikan masalah ini dan kembalilah tanpa menambah luka di wajahmu yang sudah babak belur itu. Setiap hari kau bertengkar, bahkan kau menolong semua orang. Hatiku tersentuh sekali denganmu, Midas. Bagaimana aku membalas budi untukmu?!" Aku tidak menjawab teriakan Rey. Aku terus membersihkan diri, lalu memakai kemeja dan celana kain yang rapi. Aku akan mengembalikan Ana ke rumahnya. Jika nanti kita mendapatkan caci maki atau tidak, yang terpenting aku harus dengan kuat bisa menerima ini. Ana, ayo kita pergi kita harus menuju ke rumahmu sekarang. Ana menganggukkan kepala dengan tersenyum. Kemudian aku berjalan dan mendekati Putri, lalu memeluknya. Dia sangat cemberut melihatku melakukan ini. Untung saja aku membawa 1 permen dan memberikannya. Dia akhirnya tersenyum dan membalas pelukanku. "Om, cepatlah pulang," ucapnya resah. Aku kembali memeluknya. Rey jaga Putri dengan baik. Jangan keluar. Jangan buka pintu jika aku tidak mengetuknya. Kau tempelkan tulisan sedang pergi di depan pintu. Jadi tidak akan ada yang datang ke sini untuk menemuiku. Lagipula aku juga tidak mengenal semua mahasiswa di sini. Jadi kemungkinan kau akan aman. "Aku mengerti Midas. Baiklah. Semoga cinta kalian tidak berakhir seperti Romeo dan Juliet. Jangan mati karena tidak enak. Nikmati hidup kalian. Pergilah sana, jaga diri baik-baik." Kami tersenyum lalu segera keluar dari kamar dan berjalan cepat tanpa menolehkan pandangan sedimitpun. Kami menuju ke halaman samping dan memakai mobil Ana yang terparkir di sana. Dengan cepat aku menyalahkan mesinnya, dan mengendarainya. Sepanjang perjalanan hatiku bergetar. Begitu juga dengan Ana. Dia terduduk terus memejamkan kedua matanya untuk menenangkan hatinya. Aku tahu bagaimana perasaannya. Pasti dia sangat ketakutan. "Midas. Aku tahu ini sangat berat buatmu. Tapi, tolonglah. Aku juga sangat mencintaimu. Jika kau membiarkanku di rumah itu, berarti kau sudah membunuhku. Aku tidak ingin kau melakukan itu, Midas. Bawalah aku pergi tanpa restu kedua orang tuaku. Mereka sangat jahat. Mereka menjodohkanku pada lelaki b******k. Dia suka main perempuan. Midas, aku tidak mau memiliki suami seperti itu." Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Aku kembali konsentrasi dengan menatap jalanan, terus memainkan kemudi ini, hingga sampai akhirnya di depan rumah Ana yang sangat megah. "Ana, kau harus berada di rumah ini. Tinggallah di sana. Tunggu aku menjemputmu lagi. Entah kau istri orang atau tidak, aku akan tetap menjemputmu dan menikahimu. Apa kau mengerti?" "Jadi kau menginginkanku di sana. Lalu menikahkan aku dengan dia? Dan, kau akan datang lagi? Begitu maksud kamu? Kenapa kau lakukan itu? Aku tidak mau!" Sekarang kita turun dan kita lihat hasilnya nanti. Bagaimana pun juga aku akan menunjukkan pada kedua orang tuamu jika aku bukan pengecut yang terus berlari. Kami keluar dari mobil lalu bergandengan tangan berjalan akan masuk ke dalam rumah. Aku melihat kanan kiri, terdapat beberapa mobil sudah terparkir rapi di sana. Ini sungguh membuatku ketakutan. Yang terpenting Ana selamat. Karena hanya itu yang harus aku lakukan. "Tidak kusangka, ayahku sudah mengundang semua orang untuk melakukan ini. Apa yang harus kita lakukan, Midas? Kta pergi saja dari sini," kata Ana dengan sangat ketakutan. Aku menatapnya dan menggelengkan kepala. Kita hadapi apapun yang terjadi, Ana. Percayalah kepadaku. Perkataanku sedikit menahan hati yang semakin bergemetar. Hingga kita melanjutkan melangkah dan mulai membuka pintu dengan perlahan. "Ana Smith. Ayah yakin kau akan pulang, karena aku tahu kau tidak akan bisa hidup di sana tanpa uang dan tanpa kedudukanmu yang diberikan Ayah. Oh, ternyata dia yang membawamu. Syukurlah, kau akhirnya sadar jika kau tidak pantas dengan anakku." "Ayah hentikan. Aku tidak mau membuat keributan. Dia adalah Midas. Dia memiliki nama. Dia adalah kekasihku, calon suamiku. Pilihanku. Aku ingin menikah dengannya. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan Ayah karena dia b******k!" "Terserah kamu setuju atau tidak yang penting Ayah akan menikahkan dengan laki-laki yang pantas bersanding denganmu karena harga dirimu sangat tinggi, tidak dengan laki-laki seperti dia!" Ayah Ana menunjukkan jemarinya tepat di wajahku. Dia sekali lagi mengingatkanku kepada pamanku sendiri yang sudah menginjak harga diriku. Tpi aku harus menahan ini semua. Ana yang penting kembali dan aku akan menjemputnya. Jika dia bersamaku akan sangat tidak baik. Saya kesini untuk mengembalikan anak Anda Tuan. Tpi saya juga akan melamar anak Anda entah hari ini atau besok. Saya akan menikahinya ketika sudah menyelesaikan semua urusan dan membawa gelar yang kau inginkan. Tapi satu hal yang tidak bisa saya berikan yaitu suara ini. Saya memang seperti ini sejak lahir. Tapi kelemahan bukan akhir dari segalanya. "Hahaha. Kau ... bisu tetap bisu. Kau tidak akan pernah berubah atau memperoleh kedudukan setara dengan kami, walaupun kau membawa gelar apapun. Sekarang pergilah dan jangan temui anakku lagi!" "Midas! Kau berjanji akan membawaku! Kenapa kau membiarkanku berada di sini? kau sudah berjanji!" Ana berteriak kencang saat aku hanya diam melihatnya. Dia terpaksa masuk ke dalam kamarnya karena beberapa pengawal wanita ayahnya perintahkan mendadak membawanya. Aku tidak bisa membawa Ana ke dalam kehidupanku. Ini sangat bahaya. Aku akan dengan cepat menyusulnya kembali. Itu adalah janjiku. "Midas! Kau sudah berjanji! Aku membencimu!" Maafkan aku, Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN