Aku tidak kuasa melihat Ana diperlakukan seperti itu. Aku hanya berdiri tegak menatapnya dengan pandangan yang sangat sendu. Hatiku tertusuk. Rasanya aku ingin menangis, tapi aku harus menahannya. Ini adalah yang terbaik buat Ana. Jika dia ikut denganku, masa depannya tidak akan baik. Dia harus mau menungguku untuk mencapai gelar itu. Ana. Maafkan Aku.
"Entahlah, aku harus berterima kasih kepadamu atau tidak. Ana sudah berada di sini dan aku tidak perlu mengejarmu untuk mengembalikannya. Tidak aku sangka kau adalah seorang laki-laki jantan yang sebenarnya. Tapi, perlu kau ingat. Ana tidak pantas untukmu. Pergilah dan biarkan dia hidup bahagia dengan kehidupannya. Kau harus mengerti akan hal itu, Pemuda."
Aku melirik ke kanan melihat secarik kertas dan pulpen yang berada di atas meja. Aku berjalan mendekatinya dan menuliskan namaku di kertas itu dengan sangat besar dan jelas. Lalu, aku kembali mendekatinya dan menyodorkannya agar dia melihat tulisan itu.
Namaku Midas. Aku memiliki nama dan aku memiliki hati. Aku akan kembali dan mengambil Ana secepatnya, setelah aku mendapatkan semuanya. Kehidupan yang lebih baik dengan kedudukan yang tinggi. Itu, kan, yang Anda inginkan, Tuan? Dan, aku akan memberikannya sesuai dengan permintaanmu saat itu.
"Aku tidak pernah menjanjikan apapun untukmu Midas. Tapi bolehlah apa yang kau katakan itu jika kau memang bisa berada di atas kami. Aku berjanji akan memberikan anakku kepadamu."
Aku tidak membalas perkataan Ayah Ana. Sekali lagi aku membalikkan tubuh, kemudian pergi dan meninggalkan rumah megah kekasihku yang sudah aku tinggalkan untuk sementara.
"Midas kau sudah berjanji kepadaku Keluarkan Aku dari sini!"
Teriakan Ana yang sangat keras terdengar hingga keluar ruangan. Aku menahan diriku untuk tidak menolehkan pandanganku sama sekali ke belakang. Aku harus kuat melakukan itu. Ini yang terbaik untuk kami.
Aku terus melangkah tanpa tujuan. Hatiku sudah sangat hampa. Ciuman dan pelukan yang sering kami lakukan akan sirna untuk sementara. Walaupun aku sama sekali tidak ingin berpisah darinya. Hatiku tertusuk. Jiwaku merana. Apakah bisa, aku ku hidup tanpa Ana?
"Kau sekarang tahu siapa yang lebih pantas untuk Ana. Haha, kau tidak pantas dengannya!"
Suara mengejutkan datang dari arah belakang. Spontan aku segera menolehkan pandanganku dan terkejut melihat tunangan Ana sudah berada di belakangku. Semua ini memang sangat mengejutkan. Dia ... tentu saja akan mengikutiku ke mana saja.
Apa yang kau inginkan dariku? Aku sudah melepaskan Ana dan mengembalikan ke rumahnya. Jika kau memang akan menikahinya, tolong jaga Ana dengan baik. Jangan sakiti dia.
"Hahaha. Dia sudah menyakitiku. Hmm, aku akan menyiksanya selama dia menjadi istriku. Aku tidak akan pernah memberikannya kebahagiaan dalam hidupnya. Dan ... aku akan menghamilinya. Tapi ... aku akan memperlihatkan kepada dia, jika aku bisa membuatnya sakit!"
Perkataannya yang semakin membuatku emosi. Ingin sekali aku menghajar dia sekali lagi. Namun, kedua tanganku yang sudah mengepal ini, aku tahan dengan sangat keras. Aku tidak mau terjadi hal buruk kembali.
Jika aku melihatmu menyakiti Ana sedikit saja, atau menggoreskan luka di dalam hatinya, kau akan aku buru walaupun aku sudah mati. Aku tetap akan membunuhmu! Ingatlah hal itu!
"Hahaha sangat lucu ketika si bisu marah. Tangannya berputar-putar seperti angin topan. Kau membuatku selalu tertawa jika berada di hadapanmu. Pergilah! Jangan menggangguku lagi, karena Ana adalah milikku l. Hei, ingatlah, aku tetap akan melakukan apapun yang akan aku lakukan."
Aku tidak sabar untuk menghajarnya dan kali ini aku akan benar-benar melakukannya. Dia akan aku habisi sekarang juga!
Aku melangkah mendekatinya, membuat dia spontan berjalan mundur. Begitu juga dengan pengawalnya. Mereka sangat paham jika aku sangat pandai dalam berkelahi. Aku tetap berlari dan menarik kerah bajunya. Lalu aku menamparnya dengan sangat keras.
Plak!
Aku mendorongnya hingga dia tersungkur ke ke tanah. Membuat semua pengawalnya maju ke depan. Mereka menghajarku dan aku menghindari mereka dengan sangat cepat. Aku mengepalkan keras telapak tanganku sebelah kanan. Kupukul punggung mereka. Lalu ... kulanjutkan dengan memutar dan kutendang perut mereka. Aku menghajar salah satunya hingga hidungnya memuncratkan darah. Mereka bertiga dalam sekejap tersungkur ke tanah. Kulirik lelaki itu dengan tajam. Aku kembali berjalan dan menghampiri tunangan Ana, menariknya keras, hingga dia terduduk. Aku kembali menatapnya dengan sangat tajam. Kini aku akan mengancamnya dan memberikan sebuah kata-kata manis yang akan dia ingat sampai seumur hidupnya.
Jika kau sekali lagi mengatakan hal itu kepadaku, dan aku melihat Ana akan merasakan penderitaan bersamamu, lihat saja! Aku tidak peduli akan di penjara seumur hidupku. Kau akan aku bunuh dengan sangat perlahan dan aku siksa. Ingatlah hal ini laki-laki tidak tahu diri!
Aku mendorongnya dengan sangat keras, hingga dia kembali tersungkur ke lantai. Aku berjalan dengan cepat tidak peduli tiba-tiba air hujan menderas turun ke bawah membasahiku. Aku menerabasnya dengan emosi yang aku tahan. Namun, aku puas bisa menghajarnya sekali lagi. Tidak peduli entah aku akan mendapatkan musuh yang lebih banyak atau tidak, yang terpenting aku akan mencegah dia melakukan itu kepada Ana. Wanita yang sangat aku cintai.
Lihat saja. Dia tidak tahu siapa Midas. Aku akan benar-benar melakukannya, jika dia menyakiti Ana.
Aku terus berjalan hingga akhirnya sampai di depan pintu kamar. Aku mengetuknya perlahan. Rey sedikit membuka pintu itu untuk melihat siapa yang sudah datang. Dia segera membukanya lebar dan menarikku untuk masuk ke dalam. Dengan cepat dia menutup kembali pintu itu sangat rapat.
"Kau .... sangat berantakan."
Rey mengamatiku dari atas sampai bawah. Dia menggelengkan kepala. Dia sangat kesal melihatku karena tidak menepati janji. Yah, sebuah janji kepadanya yaitu tidak lebam saat kembali atau babak belur.
"Aku sudah memperingatkanmu, Midas. Kenapa kau tidak mendengarkanku? Duduklah di sini. Aku akan mengobati lukamu."
"Om. Kenapa Om itu setiap hari harus berkelahi? Om apa tidak capek? Tolonglah Om, pulanglah dengan wajah yang tampan. Jangan seperti ini terus," ucap Putri menyodorkan handuk kering kepadaku. Aku menerimanya dengan tersenyum.
Om sangat kuat. Banyak sekali yang ganggu Om. Makanya Om membela diri. Kamu juga harus kuat. Jangan sampai temanmu mengganggumu. Kalau ada temanmu yang mengganggu, kau harus membela dirimu. Ingatlah itu Putri.
Putri menganggukkan kepala dengan tersenyum. Dia sangat manis. Sementara Rey mengolesi obat di wajahku yang lebam. Terasa sangat perih.
"Midas kau sudah melepaskan Ana?" tanyanya dan aku mengangguk pelan sembari menarik napas panjang.
"Midas, memang itu yang harus kau lakukan. Sekarang kau harus konsentrasi dulu dengan tujuanmu. Untuk menjadi seorang dokter. Setelah kau mencapai semuanya dan menjadi sang legenda menggantikan kakekmu, kau Jemputlah dia. Pasti kau akan mendapatkannya. Kau tahu orang zaman sekarang menginginkan semua kedudukan dan kekayaan. Tdak ada yang polos. Semua matre Midas. Kau lihat sendiri istriku rela akan menculik anaknya demi uang. Itu adalah kenyataan. Kita hidup tidak di negeri dongeng."
Aku mengerti Rey. Hah, aku melihatnya sendiri. Kini aku sadar, aku akan melakukan apa yang kamu katakan. Tapi kita membutuhkan uang Rey. Dan ... aku akan mencari uang itu.
"Ke mana kau akan mencari uang itu, Midas? Biarkan aku bekerja. Aku akan bekerja dan kembali ke ruangan praktek. Kita akan mendapatkan uang yang cukup banyak di sana. Kau tahu sendiri aku adalah dokter psikologis yang sangat terkenal. Mereka bisa membayar aku sangat mahal."
Tapi itu sangat membahayakanmu, Rey. Jika kau berada di sana, kau akan cepat tertangkap oleh mereka. Karena pasti mereka akan mengetahuinya. Bagaimana dengan Putri? Siapa yang menjaganya? Sudahlah, kau akan bekerja ketika situasi sudah menjadi aman. Tunggulah beberapa saat lagi. Bukankah kita akan melakukan penyelidikan kepada mereka. Kita akan lakukan besok. Karena besok hari libur dan aku tidak ada jadwal kuliah.
"Oh ya, aku sempat lupa akan hal itu. Hah ... semua ini gara-gara urusanmu dengan cinta yang sangat rumit itu. Baiklah, kita akan mengikuti mereka dan membuat merek putus. Itu adalah tujuan kita."
Aku tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Lihat saja nanti. Mereka akan mengalami suatu hal yang sangat buruk dan mereka akan bertengkar. Itu adalah tujuan utama dari rencana ini.