Aku beristirahat semalaman. Tubuhku rasanya sangat hancur. Ngilu, bahkan terasa sakit di semua tulangnya. Aku membutuhkan vitamin. Untung saja Rey memiliki kotak obat dan berisi lengkap semua obat suplemen yang kita butuhkan. Dengan cepat aku meminum salah satunya. Napasku mulai lemah karena aku memang sangat capek. Aku mulai memejamkan kedua mataku dan terlelap begitu cepat. Walaupun dalam pikiranku masih saja mengingat Ana dan tidak tega meninggalkannya dalam keadaan seperti itu.
Ana. Maafkan aku. Keputusan ini adalah yang terbaik untukmu. Aku sangat mencintaimu. Tunggulah aku datang, Ana.
Aku memejamkan kedua mataku dan terlelap. Aku sepertinya bermimpi berada di Padang rumput yang sangat luas. Tidak ada bunga di sini. Yang ada hanya tanaman hijau yang terlihat sangat subur. Bahkan saat aku menyentuhnya, rumput itu sangat lembut seperti karpet yang terbentang luas. Rasanya seperti bulu domba yang sangat halus dan mahal. Hingga jika kita menidurinya, pasti akan terasa sangat nyaman dan empuk.
Aku melihat sosok yang sangat tidak asing. Dia adalah .... berdiri dengan tegak dan pandangan mengerikan. Aku perlahan mendekatiknya. Hingga aku sadar dia adalah Ana. Perlahan aku memegang pundaknya dengan kedua tanganku dan menatapnya. Dia membalas tatapanku dengan menusuk. Ini sangat tidak baik. Bukankah dia mencintaiku? Kenapa dia melakukan itu?
Ana kau ada disini? Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku sudah melakukan sesuatu hal yang buruk kepadamu, hingga kau mengalami hal ini. Aku berjanji akan menjemputmu segera Ana.
"Kau jahat Midas. Kau meninggalkanku seperti itu. Kau sudah berjanji akan membawa aku pergi jauh dari rumahku. Tapi kau tidak melakukannya. Midas, kau laki-laki tidak tahu diri! Aku ...aku membencimu!"
Ana! Tidak! Argh!
Aku terbangun dengan berteriak kencang. Rey dan Putri segera menuju ke kamarku. Mereka terpaku melihatku yang masih bergemetar. Tubuhku dipenuhi keringat.
"Midas apa yang sudah terjadi? Kau memanggil nama Ana dengan sangat keras. Midas, jangan kau ulangi lagi. Bagaimana jika teman kamar di sebelahmu itu akan mendengarnya? Pasti mereka akan ke sini. Dan, akhirnya mengetuk pintu lalu mengetahui jika kita bersembunyi di sini. Apa yang sudah kau alami? Apakah kau bermimpi buruk?"
Rey mengusap keringatku dengan cepat. Putri menyodorkan minuman. Aku meneguknya hingga habis.
Ya, aku bermimpi sangat buruk, Rey. Ana sudah sangat marah dalam mimpi itu. Dia mendorongku dengan sangat keras dan berteriak. Dia mengatakan, jika dia membenciku. Aku tahu. Rey, aku tidak menepati janjiku. Ini sangat salah. Aku sangat bersalah kepada Ana.
Ucapanku dengan sangat bergemetar. Rasanya jantungku semakin sangat sesak. Ingin sekali aku segera menyusul Ana untuk mengambilnya kembali keluar dari rumah mengerikan itu. Tapi. Apakah aku harus melakukannya? Hah, aku tidak bisa. Aku harus menahannya dan ini sangat membuatku tersiksa.
"Midas sebaiknya kau mandi dan bersiap. Ingalah, sepanjang malam kita sudah merencanakan sesuatu untuk Amelia dan kekasihnya yang kurang ajar itu. Kita akan melakukannya hari ini. Lebih baik kau sekarang tenangkan dirimu, lalu bersihkan tubuhmu yang sangat berkeringat itu agar segar kembali. Aku sudah membuatkan sarapan yang sangat enak. Aku akan menunggumu di luar."
Rey menepuk pundakku. Aku menganggukkan kepalaku. Putri dengan sangat cemas meninggalkanku bersama Rey.
Ana. Tolonglah jangan membenciku. Aku mohon. Kau pasti sangat membenciku, hingga kau hadir dalam mimpiku. Aku tidak ingin kau seperti itu. Hatiku tersiksa karena aku sangat merindukanmu. Aku harus melakukan ini. Tolong bertahanlah di sana. Hanya sebentar hingga aku selesai memperoleh semuanya. Aku berjanji akan menjemputmu. Itu adalah jalan yang sangat terbaik buat hubungan kita.
Aku berdiri, segera membersihkan tubuhku dengan cepat. Aku mengenakan pakaian, kemudian melangkah keluar untuk bergabung dengan Putri dan Rey melakukan sarapan.
"Om sepertinya sudah sangat segar. Tertawa dong. Wajahnya jangan cemberut terus seperti itu. Aku menjadi sangat sedih. Bukankah kita akan menjadi detektif? Hari ini aku tidak sabar untuk melakukannya."
Aku terkejut mendengar perkataan Putri. Tidak seharusnya dia ikut untuk melakukan penyelidikan yang sangat membahayakan ini.
Rey. Apakah Putri harus ikut? Semua rencana ini sangat bahaya untuk Putri. Rey, tidak seharusnya Putri ikut andil dalam rencana kita.
"Lalu, siapa yang menjaganya, Midas. Jika dia ikut, dia akan lebih aman. Jika Putri berada di sini sendiri, bagaimana jika ada seseorang yang masuk dan dia harus mengatasinya sendiri. Sementara Kita tidak berada di sini. Sudahlah. Biarkan Putri ikut saja. Dia nanti berada di kursi belakang. Lagi pula kita hanya mengamati apa yang mereka lakukan setiap harinya."
Sepertinya memang itu adalah jalan keluar yang harus kita lakukan. Perkataan Rey sangat benar.
"Baiklah, kita sudah siap. Ayo kita segera berangkat," ucap Rey dengan sangat bersemangat.
Aku membuka perlahan pintu kamar. Kedua mataku mengedar, mengamati kanan kiri. Saat suasana sepi, aku keluar menggandeng Putri dan menggendongnya. Rey segera menutup pintu rapat, kemudian menguncinya dua kali tekanan. Dengan sangat cepat kita berjalan menuju ke sebelah gudang tempat rahasia Ana. Aku menurunkan Putri. Secepatnya tanganku membuka terpal yang menutupi truk Ana. Kali ini kita memutuskan untuk menggunakan trus itu. Kebetulan sejak aku memakainya kemaren bersama Ana, kunci truk ini masih aku pegang. Akan lebih baik jika kita menggunakannya. Karena, menggunakan mobil Rey maka Amelia pasti akan mengetahui. Amelia sangat hafal dengan jenis mobil yang digunakan Rey.
Putri duduk di kursi belakang, sementara Rey duduk di sebelahku. Aku mengemudikan mobil ini. Tanpa berpikir lagi, dengan cepat aku menekan pedal gas dan melesatkan mobil ini menuju ke sebuah alamat yang tertera di kartu pengenal kekasih Amelia.
Kami memarkirkan mobil sedikit jauh dari posisi rumah itu. Tidak aku sangka. Memang aku melihatnya. Rumah itu sangat megah, ditambah keberuntungan kami melihat lelaki sialan itu keluar menggunakan mobil dan pergi ke suatu tempat.
"Ikuti dia, Midas," ucap Rey keras. Dengan cepat aku segera melakukannya.
"Ternyata setiap hari Sabtu dia pergi untuk berolahraga. Hmm, mobil itu terparkir dengan rapi di sana. Kita akan tahu apa yang selanjutnya akan dia lakukan." Ucapan Rey terus mengamati mobil kekasih mantan istrinya itu, hingga dalam waktu 1 jam kami melihat dia keluar kembali bersama dengan seorang wanita.
"Wow, seorang wanita. Ini sangat menarik sekali," kata Rey tersenyum.
Kami sangat terkejut melihatnya. Entah itu siapa. Kami akan terus mengikutinya dan mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan kekasih Amelia setiap harinya.
"Midas. Ayo, perlahan-lahan kita akan mengambil gambar dia bersama wanita lain. Bukankah ini sangat bagus untuk Amelia. Hmm, dia akan sangat marah dan memutuskan lelaki sialan itu secepatnya." Rey segera mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan semua gerak-gerik kekasih Amelia itu.
Kami terus mengikuti mobil laki-laki itu yang cukup mewah. Sedan hitam yang sangat mahal harganya. Bahkan mungkin, jenis mobil itu hanya terdapat beberapa saja di negara ini. Ternyata .... dia sangat kaya. Kenapa dia menginginkan kekayaan yang lebih? Ini sangat tidak masuk akal. Pasti ada sesuatu di balik keinginannya itu.
Kami terus mengikutinya hingga sampai di sebuah rumah yang sangat antik. Seperti rumah tempo dulu.
"Rumah siapa ini? Kenapa ada wanita yang berada di sana? Lalu ... dia ... memeluk wanita itu. Apakah dia menyukai wanita? Maksud aku, wanita itu menyukai wanita? Lihatlah mereka sangat mesra dan kekasih Amelia itu hanya duduk di dalam mobil menikmati rokoknya." Rey dan aku terpaku melihat kemesraan itu. Aku menolehkan ke belakang dan segera menutup wajah Putri.
"Om, kenapa menutup wajahku?" Putri berusaha melepaskan tanganku.
"Putri, pertunjukan itu tidak baik untukmu," ucap Rey tegas.
"Baiklah, aku tidak akan melihat. Tapi, jangan tutup wajahku."
Rey melotot melihat Putri membantahnya.
"Ayolah, Ayah. Aku berjanji," ucapnya meyakinkan Rey dan mengangkat kedua tangannya.
Rey dan aku kembali fokus dengan tujuan utama kami.
"Rumah siapa ini? Tidak aku sangka, Amelia di kelilingi orang menjijikkan," ucap Rey pelan sembari menarik napas panjang.
Ketika kita sampai di sebuah rumah yang entah siapa pemiliknya, mobil itu terhenti. Wanita yang semula duduk di sebelah kekasih Amelia itu, keluar lalu memeluk wanita lain yang keluar dari sana. Kedua wanita itu saling menatap dengan sangat mesra. Sementara laki-laki sialan itu masih diam duduk di depan kemudi dan menikmati rokoknya. Ini benar-benar di luar dugaan.
Rey. Aku punya rencana. Aku harus masuk ke dalam kamar wanita itu dan mengambil salah satu perhiasannya. Lalu kita akan mengikuti kekasih Amelia. Dan ... meletakkan perhiasan itu di kamarnya. Selanjutnya kita akan membuat Amelia masuk ke kamar itu dan mengetahui jika kekasihnya itu sudah melakukan hubungan dengan wanita lain. Karena perhiasan, ditambah lagi hmm .... pakaian dalam wanita itu yang berada di sana. Rey, mereka akan bertengkar hebat dan akhirnya putus. Bukankah itu rencana yang sangat baik?
Rey terpaku dengan rencana yang aku katakan. Dia tidak menyangka aku bisa mempunyai ide cemerlang seperti ini. Rey menganggukkan kepala dan memberikan aku jempol. Spontan dia tersenyum dan tertawa dengan sangat keras.
"Hahaha. Kau ternyata sangat jenius, Midas. Kau tidak hanya jenius menyembuhkan orang, menyelamatkan orang, sekarang kau sangat jenius dalam mengatur sebuah rencana yang sangat-sangat licik untuk mantan istriku. Haha, aku sangat menyukainya dan kita harus segera melakukannya. Tapi, bagaimana kau bisa mengambil perhiasan di dalam rumah itu. Lihatlah, pagarnya saja sangat tinggi. Bagaimana kau melompatinya?"
Lihatlah di sana, Rey.
Aku menunjukkan sebuah pohon yang bisa aku naiki dan pohon itu tepat di sebelah pagar yang menghubungkan rumah wanita itu.
Rey. Aku akan sangat mudah melakukannya. Naik, melompat, dan berhasil masuk ke dalam.
Kemudian mencari kamarnya ketika mereka pergi dari sana.
"Baiklah, kau akan masuk ke sana ketika mereka pergi dari sana. Bukankah seperti itu, Midas? Dan ... kita akan menuju ke rumah laki-laki itu. Kemudian melakukan apa yang sudah kamu rencanakan."
Kau mengatakan yang ada di dalam otakku ini, Rey.
Kami saling tos dan tersenyum puas. Aku berharap ini rencana yang yang akan berhasil aku lakukan.
Baiklah, Rey. Tunggullah aku. Doakan aku selamat.