DIKUCILKAN

1005 Kata
Aku sudah menduganya ini pasti akan ada keributan yang terjadi namun aku harus tenang dan tidak menanggapinya dengan sangat serius.  Aku tidak merasa terhebat di sini kalian pun juga sangat hebat. Aku diprioritaskan dan mendapatkan pengamatan akibat kelemahan yang aku miliki. Kalian tahu sendiri kan aku ini tidak bisa berbicara dan mustahil bisa menjadi seorang dokter. Bagaimana bisa mereka tidak memperhatikanku, itu bukan sesuatu yang spesial itu malah sesuatu yang ibaratnya aku seperti penjahat yang selalu diamati polisi. Apabila aku mengalami kesalahan pasti aku akan mendapatkan sebuah ganjaran yang sangat keras, bahkan aku bisa dikeluarkan dari kampus ini. Aku harus melakukan sesuatu agar aku bisa di sini.  "Tapi, kau seperti mahasiswa yang sangat sok. Kau selalu saja menjadi yang terhebat menurut kamu. Padahal tidak."  Aku tidak pernah berpikiran seperti itu Mana mungkin aku melakukannya?  "Kau selalu saja mengangkat tanganmu dan menjelaskan semuanya. Bukankah seperti itu kau ingin memperlihatkan dirimu pintar?"  "Sudahlah cukup, jangan berdebat di sini. Sebentar lagi kita akan ke ruangan mayat dan membedah. Aku menginginkan mahasiswa yang aktif. Kalau kau bisa melakukannya, kau bisa mengangkat tanganmu. Jangan hanya Midas yang melakukannya. Kalian semua pun bisa. Aku tidak membela laki-laki bisu yang ada di sebelahku ini. Tapi aku mempertahankan apa yang menjadi pendapatku. Karena aku ini dosen kalian, berhak memilih dan menunjuk siapa saja. Sudah jangan ribut ayo kita segera ke sana."  Aku berjalan dengan bergemetar. Apalagi semua mahasiswa itu berjalan memisahkan diri dariku. Aku tidak enak dengan harto dia ikut andil dalam masalahku. Sebaiknya aku berbicara dengannya. Harto, kamu sebaiknya jangan dekat denganku. Lihatlah itu. Mereka semua tidak mau aku bersama mereka. Semua membenciku. Jika kau ikut denganku, kau tidak akan pernah punya teman. Nanti kau akan menjadi buruk di sini. Sebaiknya kau menjauhiku, Harto.  "Itu ngomong apa. Tangan kok muter, muter, muter," ucapnya sambil menirukanku. Aku ingin tertawa namun aku tahan.  "Ngomong kok kaya angin topan. Wes, jangan pernah bingung ama aku. Pokoknya aku mau sama kamu. Jangan pikiran apa-apa. Yang penting kamu lakukan apa yang menurut kamu benar. Kakekmu itu sang legenda. Namanya membayangi kamu. Kalau kamu ndak cucunya, kamu ndak bakal ke sini. Terima kasih sama kakekmu nanti malam. Pas mimpi."  Aku semakin tertawa mendengar ucapan Harto. Dia memang sangat lucu. Akhirnya kita sampai di ruangan bedah. Aku terkejut melihat mayat seorang gadis di hadapanku. Kasihan sekali dia. Aku memang sering melihat mayat yang selalu Kakek dan Ayah bawa untuk dibedah. Namun, selalu mayat laki-laki. Kali ini ... aku harus membedah mayat gadis. Berat rasanya.  "O walah Midas. Lihatlah, mayat itu gadis. Hmm, umurnya sekitaran 19 tahun. Kasihan banget. Makanya, kamu itu harus bersyukur. Masih muda wes sukses dan sehat. Wes ayo, kita bedah. Jangan lupa berdoa. Biar nanti malam ndak mimpi. Kalau kita di datangi gimana. Hii ... ngeri." Dosen sudah mulai menjelaskan apa yang akan dia tugaskan kepada kami. Dia memberikan tugas untuk masing-masing orang melakukan pembedahan dan kami harus mencatat bagiannya. Semua aku amati dengan sangat saksama. Bagian-bagian yang sudah aku baca di buku yang diberikan dosen itu kepada kami untuk digunakan sebagai petunjuk melakukannya. Dosen Itu menjelaskan apa saja yang harus kita ikuti. Aku memperhatikannya dan sangat mengingat apa yang diajarkan Kakek saat itu. Entahlah. Seharusnya ketika masih kecil, aku sangat takut melihat sebuah mayat. Namun, aku biasa saja dan malah mengingat semua yang diajarkan Kakek, persis dengan apa yang dikatakan dosen itu. Aku mengingatnya dengan jelas dan aku akan melakukannya dengan sangat cepat. Aku harus menyelesaikan sekolah ini selama 4 tahun dan membawa gelar dokter yang mereka janjikan. Kesempatan itu tidak akan aku buang. Ini kesempatan yang sangat luar biasa. "Sudah mengerti apa yang sudah aku jelaskan? Sekarang lebih baik kalian praktek dan segera kerjakan. Waktu kalian hanya 1 jam. Jangan sampai ada kesalahan karena sebuah nyawa ada di tangan kalian. Seorang dokter adalah penolong nomor satu. Orang yang mengalami sakit atau kecelakaan, semua nyawa itu bergantung pada kalian. Jadilah dokter yang hebat. Silakan kerjakan." Aku bersemangat melakukannya. Harto mengamatiku dengan melongo dan malah tidak melakukan tugasnya. Aku melambaikan tangan kepadanya dan mengarahkan kepalaku. Dia segera mengambil pisau bedah itu dan melakukan bagiannya. Aku akan mengamati bagian otak di mayat ini dan Harto membedah bagian perutnya. Kami memiliki tugas masing-masing yang sudah ditentukan. "Kamu ini sepertinya sudah hafal sekali dengan semuanya, Midas. Kakekmu itu sang legenda. Makanya kamu seperti ini. Sudah sepantasnya mereka memberikan kesempatan sama kamu. Jadi kamu itu harus bangga." Aku tersenyum dan kemudian melanjutkan apa yang harus aku lakukan dalam waktu 20 menit saja aku bisa menyelesaikan dengan pasca memberikan sebuah catatan yang sangat lengkap Aku berjalan kemudian menyerahkannya kepada sang dosen yang terkejut melihatku. "Kau sudah melakukannya? Sudah mencatatnya semua?" tanyanya dengan sangat serius. Aku menganggukkan kepala lalu menyodorkan kertas itu. Dia menerimanya dengan perlahan sambil melirikku dan sepertinya tidak percaya aku bisa melakukannya. Dibacanya dengan sangat serius kalimat yang aku sudah tuliskan. Bahkan aku menjelaskannya secara detail, membuat dia mengangguk-anggukkan kepala ketika membaca susunan yang aku tulis kan di sana. Tulisanku memang kurang rapi. Tapi dia paling tidak cukup jelas dan bisa membacanya. "Baiklah, aku akan membawanya. Kau boleh keluar," jawab dosen itu membuatku tidak mengerti. Dia hanya berkata seperti itu? Baiklah, paling tidak dia sudah membacanya.  Aku melambai ke Harto yang membalasnya. Dia belum menyelesaikan tugasnya. Semua mahasiswa melirikku dengan sinis. Terutama dia, yang tadi menentangku.  "Oh, jadi pacar gelap tunanganku sudah menyelesaikan tugasnya. Hmm, bangga menjadi spesial di depan semua dokter. Haha, padahal gembel. Kasihan sekali."  Sekali lagi tunangan Ana berbuat seperti ini. Aku sungguh kesal. Ingin sekali memukulnya. Tapi, itu tidak bisa aku lakukan. Sebaiknya aku meninggalkannya saja.  "Kau! Kurang ajar! Beraninya seperti ini kepadaku. Kau mau aku hajar, hah?!" Dia menarik lenganku dan aku menatapnya tajam. Kedua tanganku sudah mengepal. Ingin rasanya aku hantam mulut dan wajahnya itu. Jangan pernah membuatku marah, karena aku bisa saja menghajarmu. Kau tidak kenal siapa diriku. Aku bisa saja tidak peduli dengan statusku, dan puas untuk menghabisimu. "Hahaha. Sangat luar biasa. Sudah mulai berrani melawanku. Kau kira aku takut, hah?!" bentaknya sangat keras. Kali ini aku tidak takut dan akan membalasnya. Kita akan bertanding, satu lawan satu. Bagaimana. Kenapa, takut?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN