Menanggung Beban Berat

1116 Kata
Kita sepakat akan melakukan rencana itu. Rey menarikku dan berbisik, "Jangan sekarang. Kita akan membuat Putri tidur dan setelah itu kita akan membicarakannya. Bukankah kau harus kuliah dulu?" Kau benar, Rey. Sekarang kau sebaiknya membuat makanan. Di sana ada beberapa roti. Aku akan menemui Ana dan mulai dengan pelajaran. Rey menganggukkan kepalanya, kemudian memelukku. "Hati-hati, Midas. Kau ... jangan sampai terganggu dengan ini. Aku mohon," ucap Rey dengan wajah sendu. Aku paham perasaannya. Aku akan menjaga diri. Kau tahu dan lihat. Tubuhku kuat, dan tinggi. Bagaimana bisa aku kalah? Rey tersenyum. Aku masuk ke dalam kamar dan membersihkan diriku, lalu memakai pakaian rapi. Aku akan berjuang di sini. Aku kembali memeluk Putri. Dia tersenyum manis ke arahku. "Om, jangan pergi ya. Aku tidak mau dititipkan dokter wanita itu!" ucapnya cemberut. Sepertinya Ana memiliki saingan yang sangat cantik. Tapi, tentu saja kau yang paling cantik. Tidak ada lawannya. Putri tersenyum setelah aku memujinya. Dia memelukku erat. Aku melepaskannya, lalu melambaikan tangan dan segera berlalu. Aku berjalan cepat tanpa menolehkan pandangan. Aku tidak mau ada hal apapun. Perlakuan Dokter Alberth yang membuatku seakan spesial, sangat tidak baik. Aku takut jika semua mahasiswa akan iri denganku. Ana! Tiba-tiba Ana menarikku dan berjalan cepat, segera masuk ke dalam sebuah ruangan kecil berisi sapu dan alat membersihkan. "Sst, jangan berisik," bisiknya sambil menutup mulut dengan jemarinya. Aku melotot melihatnya. Aku mendengar seseorang. "Cari semua arah. Aku mendengar laki-laki bisu itu ada di sini dengan Ana. Sialan!" Aku menarik napas. Tunangan Ana mengarahkan semua mahasiswa yang setia dengannya untuk mencariku. Ini benar-benar buruk. Tapi .... Ana, kau sangat cantik. Perkataanku tanpa sadar saat dia tersenyum menatapku sangat dekat. Kami memang sangat dekat. Ruangan ini sangat sempit. Tubuhku yang tinggi ini, semakin membuat ruangan ini sempit. Ana mau tidak mau harus memelukku. Dia terkekeh melihatku bersemu. Wajahnya selalu tenggelam di d**a kekarku. Aku bergemetar. Ana, terima kasih sudah menolongku. Jika tidak, aku pasti akan babak belur. "Apa yang harus aku lakukan jika tidak menolong kekasihku." Aku semakin terpana. Dia mengatakan hal yang membuatku damai. Perlahan aku membelai pipinya. Dia memejamkan kedua matanya untuk menikmati belaianku. Aku mulai mendaratkan bibirku. Kami kembali menikmati hasrat kecil ini. Tempat ini sangat pas. Aku bisa melakukannya dengan bebas. Bibir Ana adalah candu bagiku. Kami tersenyum saling memandang dan saling memainkan kecupan manis. Bahkan Ana kadang sedikit memberikanku gigitan kecil di ujung bibirku. Aku membalasnya. Tawaan kecil keluar dari mulutnya. Lima belas menit lagi aku harus masuk ke kelas. Apa yang harus aku lakukan selama itu? "Kau bisa memelukku di sini. Kita bisa saling memandang. Dan melakukan seperti tadi." Aku kembali menikmati bibirnya. Ana selalu saja membalasnya. Kami saling mencintai, dan itu sangat indah. Kami saling memainkan bibir kami. Kecupan demi kecupan saling membalas. Indah dan nikmat rasanya. Aku tidak mau melepaskannya. Ana, aku harus pergi. Kita akan bertemu setelah aku selesai. Aku ... mencintaimu, Ana. "Aku juga mencintaimu, Midas. Kita akan bertemu kembali." Persatuan bibir kembali terjadi. Kami masih bersemu. Tapi, kita harus berpisah. Aku perlahan membuka pintu dan mengamati kanan kiri. Situasi aman, aku segera berlari. Ana melambaikan tangan juga berlalu. Aku semakin bersemangat. Aku berlari dan terus berlari tanpa menolehkan pandangan sama sekali. Hingga aku sampai di depan kelas. Aku segera masuk dan mengedarkan pandangan. Harto melambaikan tangan kepadaku dan aku segera berjalan cepat untuk menghampirinya. “Kamu ini ke mana saja? Kurang 2 menit lagi dosen sudah datang, kamu tidak juga muncul batang hidungnya. Hmm, ngaku saja. Kamu pasti lagi pacaran. Ayo ngaku." Kamu selalu saja tahu apa yang aku lakukan. Apakah kamu seorang dukun? "Hahaha. Tentu saja aku tahu. Lihatlah. Bibirmu itu merah, bahkan ada sedikit membiru di ujungnya. Apalagi kalau ada gigitan. Lalu ... hmmm ... ada bekas lipstik. Sudah, ini ambil saja tisunya. Sebelum semua menyadari apa yang terjadi sama kamu." Aku terkejut mendengar apa yang dikatakan Harto. Tentu saja lipstik Ana pasti menempel di bibirku. Saat kami melakukannya sangat dalam. Bahkan kami melakukannya berkali-kali. Jika aku membayangkannya, aku selalu tersenyum sendiri. Ternyata memang benar. Aku sangat mencintainya. "Wes. Jangan ngelamun saja. Ayo, konsentrasi sama pelajaran. Di kampus Ini semua mahasiswa sudah mendengar apa yang akan terjadi sama kamu. Kamu adalah mahasiswa beasiswa yang diberikan kesempatan hanya 4 tahun. Bukankah seperti itu?" Jadi semuanya sudah mengerti dan tahu apa yang terjadi sama aku? Apakah mereka menerima, atau Ada yang iri denganku, Harto? Aku sebenarnya sangat khawatir. Pasti ada mahasiswa yang tidak menyukainya karena kamu tahu sendiri aku ini bisu. "Sudah, jangan khawatir. Lebih baik kamu sekarang bersiap.Dosen udah masuk, tuh. Lihatlah, sekali masuk kamu yang dipandangnya. Untung saja aku di sebelahmu. Jadi namaku bisa ikut terkenal." Kamu jangan membuatku melayang. Heh, semuanya tidak seperti itu. Mereka itu heran kenapa aku yang bisu ini malah mendapatkan perlakuan yang spesial dan kesempatan seperti ini. Aku berat membawanya, Harto. "Berat? Emangnya batu berat. Wes, ayo konsentrasi." Apa yang dikatakan Harto memang benar. Dosen itu melambaikan tangan ke arahku dan membuat aku berdiri seketika. "Apakah kau yang bernama Midas?" Pertanyaannya yang seketika juga membuat aku menganggukkan kepala. "Kalau begitu kamu turunlah ke sini karena aku ingin melihat kemampuanmu," katanya yang sangat mengejutkanku. Tentu saja aku segera turun dan mendekatinya. Aku sedikit melirik ke semua mahasiswa yang menatapku dengan sangat tidak enak. Aku pasti tahu dalam batin mereka ada sesuatu yang mengganjal. Mungkin mereka lebih pintar dari aku tetapi tidak mendapatkan kesempatan ini dan malah orang yang bisu sepertiku yang mendapat kesempatan itu. Pasti membuat mereka merasa iri dan membenciku. "Kau tahu semua orang membicarakanmu dan aku sangat penasaran. Baiklah, aku akan memberikan semua praktek yang akan aku berikan untuk kalian semua. Aku ingin tahu apa kemampuanmu dan bagaimana kau menanggapi apa yang sudah aku katakan. Hmm, pada awalnya memang aku menolak untuk melakukan ini karena aku tidak tahu bagaimana caranya kau akan menjelaskan apapun denganku nanti. Kau tahu sendiri kau tidak bisa berbicara. Tapi, karena pimpinan dokter di sini mengatakan jika kau mampu, baiklah, aku akan melihatnya apa yang akan kau lakukan sekarang. Duduklah di situ dan perhatikan aku. Jika aku menginginkanmu untuk maju ke depan, kau harus melakukannya." Sungguh berat. Ini sangat berat. Perkataannya yang sama sekali tidak membuatku tenang. Hah, beban berat sudah aku tanggung. Sekarang aku akan mendengarkan apa yang sudah dia sampaikan. Tentu saja aku harus menjelaskan itu semua. Aku tidak memiliki cukup ilmu karena aku hanya mendengarkan apa yang kakekku katakan. Lebih baik pulang nanti aku harus menuju ke ruangan rahasia Ana dan mempelajari semuanya dalam waktu yang cukup singkat. Semoga saja otakku ini bisa bekerja dengan baik. Waktu berjalan cukup singkat. Hingga dia menatapku dan melambaikan tangan. "Majulah!" Aku perlahan maju ke depan. "Dia bisu! Kenapa kalian memperlakukan spesial? Aku sangat pintar dan bisa mengalahkannya. Untuk apa harus dia?!" Seperti dugaanku. Mahasiswa pasti iri denganku. "Bisu, kau tidak pantas!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN