Kembali Terbebas

1355 Kata
Mereka masuk ke dalam kamar. Ada sebanyak lima orang. Bahkan salah satunya sangat garang dan membawa senjata api. Ini sangat berat. Apa yang harus aku lakukan? Tapi, aku akan melawan. "Hmm, laki-laki bisu. Di mana dia? Aku benar-benar akan melepaskanmu. Tapi ... sepertinya kau lebih memilih mati." Laki-laki itu. Dia menodongku. Aku tidak bisa melawan. Aku lebih baik menurut. "Ikat dia!" Perintahnya. Aku terkena tamparan keras. Plak! Tubuhku tersungkur seketika. Aku tidak bisa melawan. Ikatan dengan cepat melilit di tangan dan kakiku. "Kau sudah aku ingatkan berkali-kali. Kau harus membantuku. Maka ... kau akan sukses dan tidak akan pernah aku temui. Urusan kita selesai sampai di sini. Kau bisa hidup dengan tenang. Seharusnya kau memilih jalan itu dari pada kau membuang waktumu untuk melindungi seseorang yang tidak kau kenal, lalu nyawamu sangat terancam. Bahkan kau bisa mati hari ini. Semua cita-citamu itu tidak akan pernah tercapai. Akan ku berikan kesempatan paling terakhir. Katakan di mana, siapa yang aku cari! Aku akan menjamin kau selamat. Aku biarkan kau pergi dari sini, begitu juga dengan kekasihmu." Ana? Ini tidak ada hubungannya dengan Ana. Dia tidak boleh celaka gara-gara masalah ini. Tapi aku juga tidak mau menyerahkan Putri dan Rey karena aku tidak mau mereka celaka. Apa yang harus aku lakukan? Dengan siapa aku harus mengatakan masalah ini? Dan, dengan siapa aku harus meminta bantuan? "Ayolah jangan banyak berpikir. Katakan saja. Di mana mereka. Oh tentu saja, aku lupa. Kau tidak bisa mengatakan apapun. Kau tidak bisa berbicara. Lebih baik aku memberikanmu bolpoin dan secarik kertas. Tuliskan di sana sebuah alamat. Aku akan pergi ke sana dan kau bisa bebas dengan kekasihmu. Bukankah itu tawaran yang sangat menarik buatmu?" Ini tidak bisa ku biarkan. Aku harus mengambil sebuah cara. Semoga saja Rey dan Putri bisa melewati atap itu untuk pergi dari sini. Aku akan memikirkan cara. Dia benar-benar mengambil bolpoin secarik kertas. Lalu, salah satu dari mereka membuka ikatanku yang berada di tangan mereka. Kertas dan bolpoin itu tepat berada di hadapanku. Aku menerimanya dengan perlahan. "Tuliskan alamat itu dan kau akan bebas. Segera lakukan karena aku tidak memiliki banyak waktu!" bentaknya sangat keras, dan aku segera menuliskan sebuah alamat. Aku menyerahkannya. Dia melotot membacanya, kemudian mengernyit ke arahku. "Jika kau berbohong, aku akan menikmati kekasihmu itu di hadapanmu, bergantian dengan semua pengawalku." Semua pengawalnya tertawa. Kurang ajar! Kenapa dia mengatakan hal yang membuatku marah. Aku ingin sekali memukulnya. Brak! Aku melemparkan vas bunga yang aku raih di sebelahku. Kepala laki-laki itu berdarah. Saat mereka lengah, aku melepaskan ikatan kakiku yang memang longgar. Prak! Mereka akan memukulku, aku menampisnya dan kembali melempar dengan vas lainnya. Senjata api yang akan mereka arahkan, aku tendang, dan terhempas jauh. "Kurang ajar! Kepalaku berdarah! Aku akan membunuhmu!" teriaknya keras. Sementara aku masih melawan semua pengawal yang akhirnya satu demi satu. Kini hanya ada kita berdua. Dia mengarahkan senjata itu dan siap dilesatkan. Aku sudah memberimu alamat. Dia ada di sana. Kau berjanji tidak akan membunuhku. "Hahaha, aku tidak mengerti bahasamu, bodoh! Kau bisu, dan selamanya akan seperti itu. Aku akan membunuhmu sekarang!" Ceklek! Aku memejamkan kedua mata, dan akhirnya membuka setelah aku tidak merasakan lesatan peluru yang menembus jantungku. Peluru itu habis? Haha, kau celaka. Rasakan ini. Buk!Buk! Aku memukulnya berkali-kali hingga tumbang. Sebaiknya aku segera pergi dari sini. Tanpa berpikir lagi, aku berlari meninggalkan hotel. Aku mengamati atap yang menjurus ke kamar. Aku sebaiknya membuka kamar di sebelahnya. Aku menekan bel kamar itu dan tidak ada yang membuka. Ternyata kamar itu kosong. Ceklek! "Midas!" Rey ternyata ada di dalam. Dia menarikku dengan cepat untuk masuk ke dalam. Putri, kau tidak apa-apa? Om sangat kawatir. Ayo pergi dari sini. "Baiklah!" Rey menarikku. Aku menggendong Putri yang sangat pucat. Kami segera menuju pintu lift. Aku bersama Rey terdiam tegang. Semua tamu menatap kami. Aku berusaha mengabaikannya. Biar saja Roy yang mendapatkan tagihan. Kamar itu atas nama dia. Yang penting, aku pergi dari sini bersama mereka. Rey, aku membawa truk kecil milik Ana. Kita ke sana. Rey menganggukan kepalanya, kemudian dia dengan cepat mengikutiku menuju parkiran. Aku terus berlari menggendong Putri dan segera membuka truk. Aku mendudukannya di belakang. Dia sangat pucat dan menangis. Aku sangat kasihan kepadanya. Dia tidak seharusnya mengalami hal seperti ini. Pasti kondisi psikisnya yang masih kecil akan sangat terganggu. Putri dengarkan Om. Sebaiknya tenang dan kita akan pergi. Nanti Om akan mengajakmu membeli es krim dan beberapa kue. Kita akan bersenang-senang, bagaimana? Tapi sekarang Om ingin kau kuat seperti pahlawan wanita yang seperti itu. Kau akan terlihat cantik jika menjadi pahlawan super. Bagaimana? "Aku sangat menyukai pahlawan super dan aku selalu membayangkan untuk menjadi seperti mereka. Apakah aku pantas?" jawaban Putri melegakanku. Tentu saja kau pantas. Sekarang kau menjadi pahlawan super. Tolong lindungi aku dan ayahmu, oke. Duduklah dengan tenang di sini. Putri menganggukan kepalanya dan membuatku sangat lega. Aku kemudian duduk di kemudi. Rey sudah bersiap di sebelahku. Dengan cepat aku segera menyalakan mesin dan menlesatkan mobil itu sangat kencang. "Midas, untung saja kau dengan cepat memberikan keputusan untuk menaiki atap itu. Tapi ... aku melihatmu dihajar mereka. Aku sangat kaget. Apa kau baik?" Aku menganggukkan kepala. Sedikit senyuman aku perlihatkan kepada Rey agar dia tenang dan tidak cemas denganku. "Kita akan ke mana? Aku sudah tidak mempunyai uang. Amelia mengambilnya. Bahkan, semua surat kuasa. Aku tidak mengerti. Bagaimana dia melakukannya. Saat aku menghubungi pengacara, kami tidak bisa menggunakan uang Putri sebelum dia berumur 17 tahun. Kau tahu, itu 7 tahun lagi. Apakah aku bisa memperoleh pekerjaan jika terus melarikan diri seperti ini?" Masalah menjadi sangat rumit aku masih tidak mengerti harus melakukan apa. Tapi, yang Rey katakan semuanya benar. Selama 7 tahun itu sangat lama. Dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk menghidupi Putri? Sedangkan dia selalu saja lari dari kejaran mantan istrinya itu dan kekasihnya. "Apakah aku harus menyerahkan semua uang Putri kepada Amelia? Biar saja dia menikmatinya. Namun, aku terbebas dari kejaran itu dan aku bisa bekerja, lalu menghidupi Putri. Sepertinya itu jalan keluar yang harus aku tempuh untuk terbebas dari ini. Aku sudah capek Midas. Aku tidak ingin kehidupan Putri seperti ini secara terus-menerus." Aku hanya meliriknya dengan tajam. Hah, tidak seharusnya dia melakukan itu dan menyerah. Aku tidak bisa berbicara dengannya karena aku masih mengemudi. Aku tidak bisa menggerakkan tanganku. Aku diam saja membiarkan Rey memikirkan sesuatu hal agar dia bisa berpikir jernih dengan apa yang seharusnya dia lakukan. "Jadi kau pergi ke kampus lagi? Midas, ini truk siapa? Apakah aman berada di sana?" Aku masih diam hingga terus membawa truk ini sampai masuk ke dalam tempatnya semula. Aku segera keluar diikuti Rey yang segera membuka pintu belakang mengambil Putri. Aku segera mengambil terpal itu dan menutupi kembali truk Ana. "Kita ke mana? Apakah ke kamarmu kembali?" Aku menganggukan kepala lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam. Kami mengendap-ngendap dan memastikan tidak ada siapapun yang melihat. Itu yang terbaik yang harus kita lakukan. Sepertinya berada di sini memang cukup aman. Aku menutup pintu dengan rapat setelah melihat kanan kiri memastikan tidak ada siapapun yang melintas atau melihat kami. Kini aku menatap Rey dan mulai berbicara dengannya. Kau tidak seharusnya berpikiran seperti itu, Rey. Jangan menyerah, lakukan dan lawan mereka. Kita akan mengambil jalur hukum Rey. Itu yang harus kita lakukan. Mencari pengacara dan mereka akan membantu kita. "Dari mana aku mendapatkan uang untuk membayar semua pengacara itu Midas?" Aku akan mencari cara. Sekarang kita harus melawan mereka. Percayalah kepadaku, Rey. Kita harus melawan dan membuat mereka jera. "Melawan mereka? Hah, aku ingin sekali melakukannya. Tapi, bagaimana caranya?" Menyelidiki. Setelah aku menyelesaikan kuliah, kita akan menyelediki mereka. Kita akan mengikuti mereka. Aku akan menitipkan Putri kepada Ana. Dia akan aman bersama Ana. "Bagaimana kita menemukan mereka, Midas? Kau tahu sendiri. Kita tidak mungkin bisa melakukannya! Hah, aku benar-benar gila." Aku menunjukkan sebuah dompet. Aku mengambilnya saat lelaki sialan itu tersungkur ke lantai akibat pukulanku dan sedikit tidak sadar. Di dalam dompet ini pasti ada identitas dan alamat dia tinggal. Kita akan membuat Amelia merasa dihianati oleh kekasihnya. Kita akan membuat mereka putus. Sekarang kita hanya akan mengamati kegiatan mereka sehari-hari, lalu kita akan mengubah itu semua. Rey berkacak pinggang ke arahku. Dia tersenyum dan akhirnya tertawa. "Hahaha. Kau memang jenius. Baiklah, kita akan lakukan itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN