Keningku berkerut dalam. Aku masih saja berpikir. Siapa kira-kira orang yang sudah melakukan ini semua? Tidak mungkin aku salah dalam memberikan obat dan makanan yang sudah sangat aku persiapkan dengan baik. Seseorang telah menjebakku dan itu sangat pasti.
Semua operasi berjalan dengan lancar. Ini adalah operasi kedua kalinya yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit lelaki itu. Aku tidak akan pernah meninggalkan dia sendirian. Berada di rumah sakit ini sangat membahayakan. Mereka yang tidak menyukaiku, melakukan aksi sekejam ini. Semuanya benar-benar sesuai dugaanku. Siapapun yang aku tangani pasti akan semakin menderita setelahnya, dan aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi.
"Apakah kau memikirkan jebakan yang sangat menyeramkan itu? Hah, mereka sudah benar-benar melakukannya, dan ini adalah perbuatan yang sangat kejam." Ana mendekatiku, menyodorkan minuman kepadaku. Dengan cepat aku segera menerimanya. Aku memang membutuhkan hal itu. Aku segera meneguk minuman itu hingga habis.
Semua yang aku katakan akan terjadi. Siapapun yang dekat denganku pasti akan terkena imbasnya. Sekarang lebih baik kau kembali ke desa dan membantu Mira di sana. Aku akan menunggu pasien itu sampai dia tersadar dan segera membawanya kembali. Aku akan merawatnya di desa. Aku tidak akan pernah mempertaruhkan nyawanya di sini.
"Apa kau sudah tidak waras. Jika aku kembali ke desa, lalu siapa yang akan berbicara jika kau memerlukannya? Sudahlah, jangan memikirkan suatu hal yang tidak perlu kau pikirkan. Aku akan tetap di sini dan itu adalah keputusan aku."
Tapi, aku tidak akan pernah membiarkan ini terjadi karena aku harus menemui pamanku dan bertanya semuanya. Namun, sebelumnya aku akan menemui Rio. Dia pasti mengetahui sesuatu tentang ini. Aku sudah menduganya. Dia akan melakukan sesuatu hal agar aku benar-benar tersingkir dan sangat malu.
"Aku akan mengantarmu. Kau membutuhkan seseorang untuk mendampingimu. Jangan pernah melarangku untuk melakukannya."
Aku tidak ingin kau andil dalam masalah ini Ana. Karirmu benar-benar menjadi taruhannya. Bagaimana jika kau mendapatkan sesuatu yang buruk dan keluar dari sini. Aku tidak akan pernah membiarkan. Tolonglah hargai permintaanku ini. Ini adalah permasalahanku. Dan, aku sendiri yang haru menghadapinya. Kau jangan ikut campur.
Ana semakin kesal melihatku. Dia menghentakkan kakinya, lalu mendorong tubuhku dengan sangat keras. Dia benar-benar sangat keras kepala. Dia tidak mau menurut kepadaku. Padahal aku ingin sekali dia menghindar dari situasi yang rumit ini. Aku tidak ingin melihat dia terjun ke dalamnya.
"Kau memang sangat menyebalkan. Sekarang diam dan kita akan pergi ke ruangan Rio. Kita akan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika dia tidak mengaku, aku akan benar-benar membuat dia melakukan itu!"
Ana menunjukkan jemarinya dengan tegas ke arahku. Kemudian dia berjalan cepat meninggalkanku. Dia pasti akan pergi ke ruangan Rio. Aku tidak akan pernah membiarkannya. Aku segera berlari dan menarik lengannya. Dia menghempaskan sangat keras. Pelototan itu membuatku sangat takut. Kenapa aku harus selalu menurut dengannya? Aku tidak berani jika dia sudah memberikan tatapan itu.
"Kau jangan mencegahku. Sekarang kita akan pergi bersama ke dalam dan menanyakan hal ini. Aku sudah ikut andil dalam masalah ini. Aku sudah tidak akan bisa keluar dari jurang yang sangat curam ini. Percuma saja kau melarangku. Aku akan tetap melakukannya."
Dia masih saja terus berjalan. Kakinya mengayun terus dengan kencang. Saat aku menarik lengannya, dia masih saja menghempaskan dengan sangat keras. Ini benar-benar membuatku sangat resah. Bagaimana jika terjadi sesuatu di dalam dan membuat Ana terluka?
langkah kaki kami terhenti di depan pintu ruangan Rio. Ana masih saja memperlihatkan pelototan itu. Aku menarik napas panjang. Kali ini aku memang benar-benar tidak bisa mencegahnya. Jadi aku harus membiarkan dia membantu semua urusanku.
"Kenapa diam saja? Segera ketuk pintu itu. Aku akan panggil dia dengan keras jika kau tidak melakukannya. Aku tidak akan pernah membiarkan dia lari, Midas. Dia orang yang sangat jahat. Dia akan selalu membayangi kehidupanmu. Kita harus menyingkirkannya."
Baiklah, aku akan mengetuk pintu itu. Tapi satu hal yang harus kau lakukan. Tolong pendamlah emosi. Kita harus melakukan semuanya dengan pikiran yang jernih. Itu adalah salah satu karakter diriku. Aku tidak pernah menggunakan kekerasan jika tidak situasi dan kondisi yang memaksa aku untuk melakukan hal itu. Kau harus mengerti dengan perkataanku, Ana.
"Aku selalu mengerti dengan dirimu. Kau yang tidak pernah mengerti dengan diriku. Sudah, jangan kita bahas masalah pribadi ini. Sekarang ketuk pintu itu atau aku yang akan melakukannya."
Ana menarik telapak tangan kananku. Dia mengarahkan ke pintu yang masih terdiam. Sekali lagi dia memberikan pelototan tajamnya. Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya benar-benar mengetuk pintu dengan sangat keras. Dalam sekejap Rio membukanya. Dia sangat terkejut kami berada di depan pintu ruangannya.
"Untuk apa kalian ke sini? Apa kalian tidak tahu aku sedang sibuk," ucapnya sangat tegas.
"Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku tidak ingin kau menolak kehadiran kami di sini. Ini sangat penting dan jangan pernah membuat kami terusir, karena kami tidak akan pernah melakukannya " balas Ana dengan lebih tegas.
Rio kita harus berbicara. Ini sesuatu hal yang sangat penting, dan ada hubungannya dengan pasien yang sudah aku tangani itu.
"Tidak ada sesuatu hal yang sangat penting yang harus aku bicarakan dengan kalian," balasnya dengan sangat kesal. Dia segera menghentakkan pintu untuk menutupnya. Namun, aku dengan sigap menahan pintu itu.
"Kenapa kau menghindar dari kami? Apakah kau mengetahui sesuatu?" tanya Ana sembari menepukkan telapak tangannya ke pintu hingga mengeluarkan suara yang sangat keras. Rio semakin melotot melihat perlakuan Ana.
"Sopanlah Dokter wanita. Kau bukan siapa-siapa di sini. Kau ini adalah dokter yang sangat murahan," ucap Rio dengan sangat menyebalkan. Dia terus menekan pintu itu agar tertutup. Aku terus menahannya.
"Kau berkata sekali lagi, aku benar-benar akan menamparmu dengan sangat keras! Justru kau yang sangat murahan. Kenapa kau menghindari kami? Apakah kau melakukan kesalahan yang tidak kamu ketahui?"
Aku mendorong pintu itu dengan sangat kuat, hingga kami benar-benar bisa masuk ke dalam. Dengan cepat aku menutup pintu itu dan menguncinya dua kali tekanan.
"Malian benar-benar sangat menyebalkan. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian melakukan ini kepadaku. Aku akan menghubungi satpam agar mereka mengusir kalian dari sini!"
Aku segera menarik telepon yang sudah Rio genggam. Dengan cepat aku mengembalikan telepon itu sangat kasar.
Kita harus berbicara dan ini sangat penting. Kau tidak bisa menghindar. Aku harus melaporkan sesuatu. Kau sebagai kepala rumah sakit jangan pernah membawa masalah pribadi dengan keselamatan semua pasien. Apakah pantas seorang kepala rumah sakit bersikap seperti itu?
"Hahaha sangat lucu sekali. Lihatlah, kau berbicara dengan menggerakkan tanganmu seperti roller coaster saja. Berputar-putar tidak jelas. Kau yang sangat memalukan, Midas. Aku akan mendengarkan apa yang ingin kalian katakan. Tapi aku hanya akan memberikan kalian waktu 5 menit saja. Tidak lebih! Setelah itu kalian harus keluar dari sini atau aku memanggil satpam untuk mengusir kalian!"
"Bagaimana bisa pasien itu terkena makanan alergi, sedangkan aku sudah menghubungi ahli gizi. Aku sudah menemui dia dan dia tidak mengetahui tentang makanan itu. Aku tahu pasti ada seseorang yang sudah menjebak kami. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku sudah mengatakan tujuan kami ke sini. Sekarang, jelaskan kepadaku apa yang harus kamu lakukan?"
Tanpa berbasa-basi Ana mengatakan semua itu kepadanya. Rio seketika terpaku tegang. Dengan cepat dia mengarahkan tangannya agar kami duduk di hadapannya.
"Aku tidak tahu apa yang kalian katakan. Bukankah aku sudah menyerahkan pasien itu kepada Midas? Lalu apalagi yang harus aku lakukan?"
Rio kau tahu sendiri dia tidak bisa memakan makanan yang mengandung kacang. Aku sudah memberitahukan semua menu itu kepada ahli gizi yang berada di rumah sakit ini. Tapi kenapa makanan itu sampai ke dalam kamar itu?
Rio menarik napas panjang. Dia tertawa sangat keras, lalu mengusap wajahnya yang sedikit berkeringat. Kemudian menatap kami kembali dengan tatapan dingin. Ini adalah pertanda yang sangat tidak baik.
"Jadi kau yang menuduh aku sudah melakukan itu? Hei, sadarlah. Dia adalah tamu yang sangat penting. Dia adalah orang yang sangat kaya raya. Jika dia berada di sini dan sembuh nama rumah sakit ini ikan melambung sangat pesat. Kenapa aku harus melakukan itu? Kau pikir aku adalah penjahat kelas kakap?" bantahnya sembari menghentakkan tangannya di atas meja. Aku bersama Ana saling menolehkan pandangan. Jika dia tidak melakukannya. Lalu siapa?