MANIPULATIF

1228 Kata
Aku berjalan keluar, menatap betapa manjanya hujan turun, suaranya membuatku damai. Aku tidak mau mendengar apapun lagi tentang kasus hari ini, semakin ku dengar aku semakin merasa muak, jadi aku putuskan duduk di teras, aku heran kenapa bapak tiriku sekejam itu. Hujan bukan tanda kalau kita kalah, karena kita tidak sedang menangis. Tapi kita sedang menatap langit agar mentari segera bersinar. Artinya aku selalu berharap mentari segera bersinar setelah hujan menutupi hangat dan cerianya. Tapi, aku sering bertanya. Apakah aku pantas untuk merasakan kebahagiaan itu? Seringkali aku menyentuh butiran hujan, entah kenapa malam hari membuatnya lebih dingin dari biasanya. Aku memeluk peluhku, tetesan air hujan seperti menusuk sampai ke hatiku. Aku mendefinisikan bahwa hidupku sedingin air hujan di malam hari, yang merasuk sampai ke dalam kalbu. Siapa yang tau faktanya siapa sebenarnya ayahku? Bapak selalu bilang ayah ku orang yang tidak baik. Aku ingin berlari-lari mengejar bayang-bayang ayah yang telah tiada, bagaimana aku bisa? Aku hanya berhalusinasi dia ada disini, dan aku hanya berpura-pura sedang bercerita dengannya. Padahal dia sudah tiada. Aku selalu membayangkan betapa teduhnya tatapan matanya, mungkin tawanya juga merdu. Di balik bilik rumah pedesaan yang terbuat dari rangkaian bambu tua yang sudah keropos, terdengar merdu suara suling. Seorang pemuda yang sedang bermain suling begitu menghayati terpancar wajahnya yang memancarkan jiwa seorang laki-laki sejati yang berhati lemah lembut namun berwibawa. "Ingat ya ayahmu itu tukang main judi dia bukan apa-apa dia hanya menyusahkan saja, " ucapan itu terus terlintas di kepalaku hingga membuat aku merasa cedera, dalam hati karena terus mengingat ucapannya. "Sedang apa ?" tegur seseorang membuyarkan lamunanku, tante Endi, dia seperti paham dan mengikuti aku sampai ke teras. Aku menoleh lalu berusaha mengatakan beberapa kalimat,"Apa iya almarhum ayahku seorang penjudi akut ?" tanyaku. "Ayah mu itu adalah seorang seniman yang handal," ucap tanteku tersenyum. Dalam hal panggilan kami biasa menggunakan bahasa daerah kami sendiri, jadi sedikit sulit mengartikannya dalam bahasa indonesia. "Tapi bapak bilang ayah itu tukang judi dan suka main perempuan," sahut ku kebingungan, entah siapa yang benar diantara mereka. "Enggak sayang ayahmu tidak seperti yang dikatakan oleh bapak mu," balasnya lembut sambil mengusap rambut ku. Dia berhasil membuat kami percaya, dan berfikir bahwa ayahku adalah orang yang baik. "Jadi dia bohong ? Ayah tidak seperti itu ?" balasku sambil berusaha menahan air mata, karna saat kami mengobrol bapak ku masih berbincang di ruang tamu dengan saudara yang lain. "Jangan dengarkan apapun ucapan dia, dia itu berbohong kepadamu," balas bibiku sambil memelukku, lalu meneteskan air matanya. "Kenapa tega sekali ya, bapak mereka kejam sekali mengatakan hal itu pada anak di bawah umur, walaupun anak-anak ini dari ayah yang berbeda tetap saja mereka masih sedarah karena almarhum adalah Abang kandung bapakmu. Tidak sepantasnya dia mengatakan hal buruk tentang almarhum kepada anaknya," ucap tante Endi pelan, seperti menahan rasa sesak di dadanya. "Abang kandung ? Pernikahan sedarah kah ?" aku bergumam dalam hati, nampaknya ada sesuatu yang masih belum aku ketahui. Aku seketika terdiam karena pikiran di kepalaku, kemudian spontan bertanya " Tante apakah Tuhan itu jahat ?" "Kenapa kamu tanya seperti itu nak ?" balas bibi melepaskan pelukan dan menatap wajahku yang sudah menangis lagi. "Iya kenapa Tuhan mengambil ayah ?" tanyaku merengek dengan kencang. "Enggak nak, Tuhan itu tidak jahat, semua sudah ditakdirkan, semua sudah ada garisnya, semua sudah diatur oleh Tuhan, jadi jangan bilang begitu, nanti Tuhan sedih mendengarnya," ucap tante menghapus air mataku. Dia sedang berusaha menghibur anak yang patah hati karena ayahnya diambil lebih dulu oleh Tuhan. "Tapi tan, aku belum melihat ayahku, tahu saja tidak seperti apa wajahnya, yang aku tahu hanya namanya dan foto batu nisan milik ayah," ucap ku menarik nafas mengontrol tangis, karena takut bapak dan yang lain mendengar. "Terkadang aku juga tidak mengerti dengan Tuhan," sela kaka ikut menimpali, dia mengucapkan dengan penuh rasa putus asa. Pada saat itu usia ku masih enam belas tahun, aku belum terlalu paham banyak mengenai bapak ku yang jahat dan kejam itu. Yang ku tahu hanyalah ayahku telah meninggal, namun itu pun masih misterius. "Dengar ya nak, ayahmu adalah seorang seniman yang handal, dia jago sekali bermain banyak alat musik, dia pandai membuat orang tertawa dan ramah," sahut bibiku sambil tersenyum lalu menghapus air mataku. "Jadi suatu hari nanti kamu harus bisa seperti ayahmu, jadilah seorang seniman handal," ucap bibi terus mengusap wajah ku. Walaupun Saat itu masih belum terlihat bakat dan minat kami. "Ia, baiklah aku pasti akan berjuang dan semangat," balas ku terus mengusap mata. "Mungkin aku juga akan berusaha, dan berjuang," balas kaka ikut merasa sedikit termotivasi. " Iya ka, meskipun dijatuhkan, dipukul lagi. kita harus tetap Hidup dan berjuang," balasku menatapnya dengan penuh semangat. Kaka hanya membalasnya dengan senyuman yang tipis sambil sedikit memiringkan kepalanya. Seorang ibu berambut keriting memeluk kakak dengan erat dan mengusap rambutku. Ia mengusap air matanya melihat kami berdua yang berdiri kebingungan. Dia mencium pipiku dan pipi kakak juga, lalu berkata "Kuat terus ya Gisell dan Nathalia, kalian kuat bibi tau kok," ucap bibi anggun menarik tangan kami mengajak ke ruang tengah, untuk acara maaf-maafan. Ku rasa mereka ingin merajut semua kembali, tapi aku sebenarnya malas harus melakukan hal seperti ini. Tapi aku menatap bibi Angun dengan seksama, mengapa ya dia sedih sekali kelihatanya? Di ruang tamu sudah banyak manusia yang mengelilingi ruangan, mereka duduk rapi dengan berbagai makanan yang dihidangkan. Beberapa diantaranya seperti berbincang-bincang, mataku segera mencari bapa imitasi. Dia duduk di tengah-tengah kerumunan bapak-bapak lainnya, sepertinya dia sedang mendapat nasihat dari orang lain. Aku tidak lega melihat itu, karena di wajahnya ada urat amarah, dia seperti membantah semua nasihat itu. Kemudian mataku mencari dimana ibu? Dia duduk di kumpulan ibu-ibu, dia seperti dinasihati juga. Ibu hanya menundukkan kepala, kemudian terlihat beberapa perlawanan, entah apa yang mereka sedang bicarakan. Aku duduk disebelah kaka, kami hanya diam dan memperhatikan. Tidak lama kemudian ruangan ini mendadak sunyi, setelah seorang lelaki berdiri dan menyapa semua. "Kita mulai saja ya sekarang ?" tanya lelaki itu, semua mata tertuju padanya. Pembukaan dibuka dengan tangisan bibi Anggun, disusul dengan tante Endi dan tante Lita yang memohon agar bapak berubah, agar tidak keras kepala. "Apa sih yang masih kau permasalahkan? Ini Gisel dan Nathalia juga anakmu," lanjutnya menangis dengan terengah-engah. "Lihat mereka, sudah gadis. Tega kau memukul anak gadismu? Mereka sebentar lagi akan menikah, apa kamu tidak pikirkan mentalnya ?" menangis kuat seketika jatuh pingsan, membuat panik seisi ruangan. Dia hanya mematung, seolah tidak memiliki hati. Kemudian membantah perkataan bibi Anggun. "Kalian enggak paham dengan saya," pekiknya terus menyangkal, sebenarnya bapak memang keras kepala, dan tidak mau mengalah. Padahal diam atau mengalah bukan berarti kalah. Ruangan ini penuh dengan debat, entah mengapa aku hanya melihat emosi lagi di wajah bapak. Bapak mengatakan hal yang melenceng jauh dari aku dan kakak, dia mengatakan bahwa semua ini salah ibu. Kemudian dia menceritakan hal buruk soal ibu. "Dia karena gajinya lebih besar dari saya, jadi seenaknya dia berbuat kepada saya," teriaknya ruangan ini semakin memanas, aku hanya terdiam menyaksikan perdebatan itu. setelah beberapa jam perdebatan berlangsung, mereka semua ingin tetap keluarga ini utuh. Jadi bapak dan ibu disuruh saling bermaafan dan merajut kembali hubungan keluarga ini. Aku di suruh menyalam tangan bapak imitasi ku. Semua berjalan membaik sejauh ini, entah harus berapa purnama lagi harus tersiksa dengan perlakuannya yang tidak terdeteksi. Ini sudah cukup larut, sebagian orang masih berbincang. "Besok akan kita buat acara pernikahan ulang," ucap seseorang. Aku terkejut, mereka ingin membuat pernikahan ulang untuk bapak dan ibu ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN