PUISI KELABU

1634 Kata
"Kalian harusnya malu dengan anak-anak kalian yang sudah dewasa," balas seseorang. Aku pergi meninggalkan ruang tengah, masuk ke kamar. Mulai menggambar, mereka masih saja menasehati kedua orang tua kami. Aku bingung, kenapa orang lain harus bersih keras mencampuri urusan keluarga kami. Padahal ibu bersikeras ingin bercerai, itu menurutku juga keputusan yang baik. Aku berusaha mengabaikan dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Tanpa sadar, aku tertidur di kamar. Besok paginya seseorang mengajak aku dan ka Gisel pergi ke pasar, aku melihat tante Endi membeli ikan mas yang besar, beberapa bumbu lain. Ayam dibeli dengan jumlah yang cukup banyak, setelah selesai berkeliling pasar, kami memutuskan untuk pulang. Sesampai di rumah, semua ibu-ibu sudah sibuk memasak di dapur. Mereka membuat ikan di arsik ( pesmol) di letakkan dua biji pada nampan. Mereka membuka tikar, lalu mandi secara bergantian. Sore harinya, kami berempat di kumpulkan, kedua orang tua kami duduk di ruang tengah. Disaksikan oleh banyak tamu, mereka dinikahkan kembali, Ikan yang dimasak tadi dikeluarkan, di letakan di tengah mereka berdua. Mereka berdua memegang nampan itu, kemudian kepala bapak dan ibu diberi segenggam beras. Mereka saling suap menyuap ikan dengan nasi, semua orang di ruangan terlihat bahagia. Beberapa orang datang, memberi mereka nasihat baik mengenai hubungan rumah tangga. Katanya ada cekcok, masalah, dan berantem itu hal biasa dalam hubungan pernikahan, yang terpenting kita bisa memperbaikinya lagi. "Semoga kalian makin menjaga satu sama lain, dan sayang kepada anak-anak," tante Endi tersenyum pada bapak dan ibu. Aku tersenyum sambil menyesal, kenapa mereka harus dipersatukan lagi ? Apakah mereka semua bisa menjamin bahwa bapak tidak akan melukai atau berusaha membunuh kami lagi ? Aku muak sebenarnya dengan ini semua, tapi mau tidak mau harus mengikuti yang ada sekarang. Aku mulai berpikir, bagaimana nanti jika mereka semua pulang ? Sore itu aku memutuskan untuk menenangkan diri di tempat favorit ku, di sawah kecil dekat rumah. Aku terus mengingat dan terdiam di atas pohon yang keropos, sambil memandangi sawah kecil yang ada di desa ku. Sawah ini nampak terpencil bayangkan saja sekitar empat ratus meter ke depan adalah supermarket atau lebih pantas disebut mall yang sangat besar yang memiliki fasilitas lengkap, di seberangnya ada kolam renang yang berjarak dekat dengar BAR (seperti tempat hiburan malam). Di Tengah-tengah bangunan mewah seperti ini masih ada sawah dan kebun walaupun tempat ini kelihatan tidak terurus. Telepon masuk dari ibu Anggun membuatku mengambil posisi duduk. "Halo iya kenapa ? Ohhh baiklah aku akan pulang tapi kalau sudah menyelesaikan misiku ya," balasku. Cepat sekali saudara jauhku ingin pulang, karena menurut mereka masalah sudah selesai, tapi menurutku masih belum selesai, masih banyak yang belum terungkap. Dibalik kematian ayah ku, rasanya banyak hal yang aku tidak pahami. Layaknya harta karun, tersembunyi dan sulit dicari tahu. Aku tidak pernah mendapatkan jawaban apapun, mereka hanya bilang almarhum ayah hanya pintar main musik, baik, ramah, dan sebagainya. Namun tidak pernah ada yang memberitahukan kenapa dia mati dan kenapa harus bapak tiri yang sekarang, yang harus menjadi ayah sambungku. Senyum terindah yang bisa ku berikan untuk kehidupan ini, meski terkadang aku cemburu dengan kupu-kupu di taman bunga. Mereka terbang mencari bunga untuk di hinggapi, indahnya mereka memberikan bunga kehidupan. Putik dan benang sari jadi rumah untuknya. Dengan terpaksa dan berat hati aku pulang, segera menemui beberapa saudara ku dengan tersembunyi. Pelukan sebelum Mereka pulang terasa hangat. "Bibi apa tidak bisa menginap beberapa hari saja ?" tanyaku "Maaf ya sayang, anak-anak bibi juga perlu sekolah," ucap bibi Anggun dengan mengusap wajah ku. "Aku takut bi, aku takut," balasku lagi merengek. "Tenang jangan takut, ingat di hatimu ada Tuhan yang menjaga dan ayahmu pun mengawasimu jadi jangan pernah takut, bibi pesan padamu untuk terus berdoa apapun yang terjadi," terdengar seperti ucapan yang pasrah namun proses ini memang harus terjadi dan harus dijalani. Agar semua kembali normal dan kami bisa hidup tentram seperti keluarga pada umumnya. "Baiklah bi," balasku dengan pasrah, sambil cemberut seperti sudah tau apa yang akan terjadi. "Tuhan tidak pernah memberi cobaan, pada umatnya diluar kemampuan umatnya, percaya lah Tuhan sudah mengatur semua," mungkin hanya itu ucapan yang menguatkan, yang bisa dikatakan sebagai doa terindahnya. Malam itu juga bibiku dan keluarga yang lain pulang, entah mengapa aku merasakan ketakutan dan kesakitan yang teramat dalam. Tuhan apalagi nantinya yang akan terjadi, aku takut sebenarnya. Semua orang telah pulang, aku hanya terpaku di depan gerbang hitam masih terngiang suara tawa dan senyum mereka. Sekarang aku harus mulai hidup dengan iblis itu lagi. Aku melihat wajah lesu kakakku dari balik pagar hitam yang menyelimuti rumah kami. Dan wajah ibu ku yang merasa kecewa di balik raut bergaris, ditekuk dan tanpa ku sadar rambut putih telah mulai tumbuh bertanda ibu kami semakin tua. Rasanya aku dan kakak sebentar lagi akan berakhir jika tidak ada ibu ku. Ku tarik gerbang hitam itu dan menutupnya dengan gembok. Sudahlah, mau bagaimanapun aku tidak bisa kabur dari kenyataan. Perlahan ku langkahkan kaki ku mendekat ke arah kakak ku yang sedang kebingungan. Tidak hanya aku, ternyata kakak pun seperti tau apa yang selanjutnya akan terjadi. "Kakak kita harus kuat," sahutku berikan senyum termanis, untuk membangkitkannya. "Pengecut," Balas kakakku singkat. "Ehh.. Kenapa ka ?" tanyaku kebingungan. "Kau mana berani melindungi mamah, sudah di pukul pun kau hanya berteriak. Yang aku tau kau mengikuti latihan khusus beladiri kenapa itu tidak kau gunakan melindungi mama ?" balasnya dengan geram melihat ku. "Bukan begitu ka maksudku, tidak mungkin aku melawannya karena dia yang mengajari aku beladiri," balasku pembelaan. "Pengecut !!!!" ucap kaka ku langsung meninggalkan adiknya, sendirian di gerbang rumah. Kedua adik ku sudah masuk kedalam kamarnya, dan kakakku nampaknya masih menyimpan amarah nya seperti gunung merapi yang akan meledak saja ekspresinya. Aku duduk di teras setelah mengambil kertas dan pensil dari ruang belajar, aku ingin menuliskan sesuatu yang dapat aku jelaskan mengenai perasaan ku padanya. Rasanya kesal sekali, sampai aku di bilang pengecut padahal aku memenangkan medali emas pada pertandingan bela diri tingkat provinsi Jawa barat. Kutulis pada lembar kertas dengan judul pemenang yang payah. Aku tidak pantas di sebut pemenang jika ibuku masih di pukul. "Ya suatu hari nanti aku akan memukulnya, aku masih kecil dan tidak mengerti apapun yang terjadi saat ini, dan aku tidak tahu harus bertindak apa," gumam kecil dalam hati penuh harapan. Kulanjutkan menulis dalam kertas biasa aku berkeluh kesah, baris demi baris kertas itu berisi. Kertas ini seperti tempat s****h, dimana aku bisa jelaskan apapun yang sedang aku rasakan. Aku memang pengecut saat ini Aku bukan apa-apa dan aku tidak bisa apa-apa, tapi ingatlah ada saatnya dimana matahari terbit dari barat dan terbenam di ufuk timur. Hei, apakah ini tulisan ketidakmungkinan bahwa suatu hari aku akan brontak? Aku menelusuri isi rumah, di ruang keluarga dia masih duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangannya. Untungnya ada suara televisi, sehingga memecahkan keheningan. Sehingga gerakku tidak begitu terdengar jelas olehnya. Ibu sedang mandi di kamar mandi depan, aku masuk ke kamar, melihat kakak sedang sibuk dengan ponselnya, Lalu perlahan duduk di dekatnya. Mungkin dia belum memahami bahwa aku memang tidak berani untuk memukul orang itu. Aku duduk lalu menuliskan puisi singkat. Malam itu selalu kelihatan kelabu, rasanya selalu dingin menyelimuti kulit, jalannya selalu berteman dengan gelap, seorang gkamerauta berlari dalam kelabu Aku terdiam, berhenti menulis puisi yang sedang ku coret di buku khusus puisiku. Aku meletakkan kepala, berfikir untuk menuliskan sesuatu. Aku mendengarkan suara langkah perlahan makin mendekat, keringatku mulai bersiap untuk keluar, tanpa sadar aku merasa merinding. Langkah kaki bapak imitasi berbelok ke arah dapur, aku masih bertanya apa yang dia lakukan? Bunyi stenlis di ambil dari tempat sendok, aku mendengar perlahan gerakan tangannya. Aku menebak-nebak bahwa itu adalah pisau, dia seperti membuka lemari piring yang ada di dapur. Perlahan-lahan dia memotong buah itu, aku merasa tenang dan mulai menyusun pikiran positif. Namun..... Suara langkah mulai terdengar, dia seperti melempar sesuatu yang dia makan. Perlahan dia berjalan dan aku mendengar jelas dia tidak meletakkan pisaunya, aku diam sejenak memfokuskan pendengaranku, banyak pertanyaan mulai muncul menghantuiku. Apa yang ingin dia lakukan? Apa dia ingin membunuh aku dan kaka? Atau apa? kakinya mulai mendekat kearah kamar kami, deg.. deg.. deg.. Dia seperti berjalan sambil membiarkan pisaunya tergores pada dinding, Tuhan apakah sudah saatnya? Apakah giliranku melindungi kaka ? Apakah aku harus melakukan hal terburuk jika dia ingin melukai kaka ? Suara langkah semakin terdengar jelas kearah kamar kami, tiba-tiba suara langkah itu terhenti. Tiba-tiba tangannya dengan cepat berusaha memegang gagang pintu dan ingin membukanya paksa, jantungku ingin melompat kesana kemari karena takut dan panik. Tidak mungkin aku membangunkan kakak, apakah aku benar pengecut? aku harus melindungi kakak, apapun yang terjadi. Kalau bisa cukup aku saja korbannya. Tangannya makin cepat berusaha membuka pintu, seketika listrik padam. Apa lagi ini Tuhan? kalau mati lampu apa bisa aku melindungi Kakak ? Lalu mana bisa aku melihatnya masuk dan mau melakukan apa. Suara tangannya berhenti, BRUKK... BRUK.. dia membenturkan tubuh agar pintu terbuka. Aku benar-benar panik, aku hanya bisa keringat dingin dan menyelimuti seluruh tubuh kakak dengan selimut agar bapak tidak mudah menemukannya. GUBRAKKK... aku tersenyum ikhlas, aku siap jika ini adalah hari terakhirku bisa bernafas. Lagipula aku ingin pulang ke surga bertemu dengan ayahku. Dia masuk dengan langkah pelan, ruangan sangat gelap, mungkin dia sedang menerka aku dimana atau kakak ku, dia melihatku yang ketakutan memegangi rambutku. Dia berjalan perlahan. "Aku mohon, jangan lukai kakak. Jika ingin aku saja," Aku berkata pelan agar kakak tidak bangun. Tidak ada balasan kecuali pisau yang menyentuh kulit keningku, aku hanya terdiam dan mengingat kalimat "PENGECUT" Apa benar aku pengecut? aku hanya bisa berpasrah, terdiam saat seperti ini. Mungkin jika aku adalah kakak dia akan berdiri, dan menantang bapak, dia tidak akan takut mati. Kaka pasti akan menjaga dan melindungiku, sedangkan aku? Pisaunya mulai menggores sedikit di keningku, aku benar-benar ketakutan. Pisaunya berpindah sudah ada di perutku, aku hanya bisa terus berfikir akan melakukan apa. ayolah Violin pikirkan apa yang harus kamu lakukan. "VIOLIN !!!!!!" dia berteriak keras mengayunkan pisau ke arah perutku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN