KETIMPANGAN

1166 Kata
"Violin !!!!!!" teriak bapak kuat. TIDAKKKKKKK....... DEG... DEG... DEG... DEG... Aku terbangun, dadaku sesak seperti seseorang habis menutup hidung dan mulutku menggunakan bantal. Aku segera melihat sekitarku, aku masih dikamar, mata memperhatikan kamar, disana sudah tidak ada kakak. Kemudian aku meraba perutku, aku menarik nafas panjang. Syukurlah hanya sedikit mimpi buruk, aku tertidur saat membuat puisi semalam, aku segera mandi dan bergegas ke sekolah. Tidak ada seorangpun atau apapun yang paham mengenai apa yang sedang aku alami, apa yang aku rasakan dan bagaimana keadaanku. Aku hancur, bukan tubuhku namun batinku, tulisan di kertas semalam kulipat manis dan ku masukkan ke dalam album usam bekas foto ayah dan ibuku. Terkadang dunia itu bisa terlihat menyeramkan seketika, bisa mematikan namun sedikit bisa membuat seseorang merasa bahagia. Aku hanya berjalan sendiri dalam masalah, ini terasa sangat berat, bagiku rumah seperti neraka bukan seperti istana seperti yang dimuat pada puisi, dalam buku paket dituliskan rumahku adalah istanaku terdengar seperti hinaan untuk kehidupanku. Tapi bagiku rumahku adalah neraka ku, bayangan buruk yang aku peroleh mendengar kalimat rumah adalah kekejaman. "Hari ini hujan deras sekali," ucap Ku sendirian menatap air hujan yang turun saat waktu pulang sekolah. Biasanya aku pulang sekolah berjalan kaki, itu memang sengaja aku lakukan agar sampai di rumah agak sedikit lebih lambat, menggunakan jaket dengan rok panjang dan menempelkan earphone (alat pendengar lagu) di telingaku, rasanya musik sendu membawaku berimajinasi tentang hidupku, aku bisa menghayal sambil berjalan kaki, menikmati kebebasan tanpa rasa takut dan khawatir, karna aku benci sampai di rumah cepat. Terkadang temanku bertanya padaku "Apa kamu tidak lelah berjalan kaki sampai rumah ? Rumahmu itu jauh sekali, aku tidak kuat berjalan sejauh itu," Namun aku hanya menjawab dengan penuh kepalsuan "Aku kan calon atlet pernafasannya harus kuat," itu saja yang aku ucapkan untuk menutupi kesedihan tersebut. Sesungguhnya aku merasa miris, merasa sedih, merasa kesakitan. Coba perhatikan jalan yang panjang ini, jalan yang kosong ditemani oleh hujan yang mengisi suara sunyi jalanan, rasanya aku hanya sakit sendiri saja. Mereka berteduh sambil tertawa bersama dengan ayahnya, mereka berteduh sambil duduk bersama dengan keluarganya, makan bersama di tengah hujan yang dingin ini. Rasanya tidak adil aku berjalan seorang diri di tengah hujan, aku langsung berlari menghindari tempat makan tersebut kurasa aku tak tahan lewat disana itu hanya akan membuat rasa pilu di hatiku. "Hujan terimakasih ya sudah menemani aku pulang sekolah, kau selalu tau perasaan ku yang hancur ini, kau adalah kehangatan yang tidak orang lain dapat rasakan," gumamku. Aku pulang kerumah dengan rasa tegang dan rasa takut di hati, aku selalu berdoa untuk masuk kedalam neraka itu, semua dimulai di saat kaki ku melangkah masuk kedalam. Adik-adik ku yang manis mereka masih sangat kecil dan lucu tak sepantasnya mendapat perbuatan jahat dari bapak. Kupandangi wajahnya yang masih manis dan polos, mereka tidak mengerti tentang apa yang terjadi dengan rumah ini, namun terkadang senyumnya lah yang mengobati rasa luka melihat tindakan bapaknya. Aku membuka pintu, masuk ke kamar mandi, lalu membasuh diriku. Aku menggunakan baju lalu mengambil beberapa buku untuk dipelajari. Di dalam rumah ini setelah jam tujuh malam semua wajib belajar, walau terkadang Leo dan Angel tidak belajar. "Kaka lihat gambarku sudah mirip belum dengan kakak ?" ucap adik perempuan ku. "Ehh kamu menggambar aku ?" tanyaku. "Iya, yang di tengah mamah, di samping mamah ada bapak, liat deh mereka pegangan tangan, trus di samping mamah ada kaka Gisel, baru ada kakak, lalu di samping bapak ada abang dan aku," balas gadis kecil yang tidak mengerti apapun namun gambarnya melambangkan sesuatu, aku dan kakakku berasal dari ibu dan ayah yang telah tiada, dan adik ku dan abangnya berasal dari bapak dan ibu ku. "Hahaha gambar yang menarik de, aku juga jadi ingin menggambar," sahutku lagi. Ku gambarkan ibu dengan wajah yang murung, dan seperti menggenggam tangan seorang laki-laki yang tampak seperti bayangan menggunakan sayap, dan menggendongku ketika kecil serta memegang tangan kakak ku. "Wahhh kaka gambarnya keren," ucap adik ku dengan senang. "Yang di gendong mamah ini abang ya ka ? Terus yang kecil ini siapa ? Kakak atau kaka gisel ? Aku nya yang mana ka ? Kok bapak punya sayap kayak malaikat ?" tanya si gadis kecil yang tidak berdosa. "Ini belum selesai, nanti kalau udah selesai baru kamu tau okay," balasku mengusap wajah halusnya. Terkadang selain tulisan gambar juga merupakan alat komunikasi pemuas perasaan sedihku, yang di gendong ibu adalah aku, yang tangannya di pegang oleh ibu adalah kakak Gisel dan bayangan ini adalah ayahku. Malam tiba, ibu pulang semua anaknya sedang di ruang tamu. Peraturan malam yang harus kami jalani adalah setiap jam tujuh malam sampai jam sembilan malam semua anak harus belajar atau mengerjakan tugas di ruang belajar. Aku sibuk menulis berlembar-lembar puisi, kakak belum pulang karena masih kuliah dan pulang sedikit larut, si Leo sedang menonton televisi dia anak laki-laki kesayangan bapak ku. Angel menyusul kesana. hahahahaha... Suara tawa Leo, Angel dan bapak, mereka sedang menonton televisi bersama sambil bercanda gurau menghabiskan waktu. "Leo kenapa kamu enggak belajar ?" ibu bertanya mengambil posisi duduk. "Enggak ada tugas kok mah," balasnya, masih fokus pada televisi. "Yaudah biarin aja. Dia lagi nonton disini kok nemenin saya," bapak menimpali, entah kenapa harusnya dia menyuruh anaknya belajar, justru mengajak anaknya menonton televisi. "Lalu kamu kenapa enggak belajar Angel ?" tanya ibu. "Aku juga enggak ada tugas dari sekolah mah, ini filmnya lagi bagus," balasnya, menatap ke arah televisi. Ibu hanya bisa menghela nafas, antara kebingungan ingin marah atau bagaimana. Akhirnya dia ke dapur mengambil makanan, lalu berjalan ke ruang belajar menghampiriku. Dia berbisik pelan berbicara " Udah kamu hubungin kakak ?" "Memang kenapa mah ?" balasku pelan. "Ini sudah jam berapa, dia belum sampai di rumah," bisik ibu pelan. "Oh iya mah, biar aku hubungin," balasku, ikut berbisik. "Tapi jangan sampai bapak tau," balas ibu lagi, kemudian kembali ke ruang televisi agar bapak imitasi tidak sadar. Aku berdiri mengantongi ponselku, segera berjalan keluar rumah. Di teras sepertinya aman, ku buka ponsel dan segera menghubungi kaka. "Hallo," sapaku. "Iya kenapa de ?" Kaka segera membalas tanpa basa-basi. "Kaka dimana? jangan terlalu larut pulangnya," ucapku langsung pada intinya. "Tenang kakak, baik-baik aja kok," balasnya lagi meyakinkanku. "Iya aku tau kakak enggak Kenapa-kenapa, tapi ini sudah jam delapan, tadi mamah suruh aku nelpon kakak untuk mengatakan kepada kakak untuk segera pulang, jangan lama-lama," ucapku berbisik pelan, agar tidak ada yang mendengar. "Keadaan di rumah baik-baik sajakan ?" tanya kakak, untuk memastikan. "Baik-baik saja kok, tidak akan baik kalau kaka balik terlalu larut. bisa bahaya, nanti bapak bisa ngomel-ngomel," balasku meyakinkan Bahwa dia harus segera pulang, kalau tidak bisa ada masalah baru yang timbul. "Iya-iya kakak pulang, paling jam setengah sepuluh sudah sampai di rumah," balasnya lagi. "Waduh larut banget," gerutuku kebingungan. "Yaudah ya," balasnya, lalu langsung mematikan telponnya, mungkin dia sedang menghibur dirinya atau sedang membuang suntuknya. Kemudian aku kembali ke ruang belajar, tidak lama ibu datang. "Sudah kamu telepon?" tanya ibu yang juga khawatir dan takut bapak marah. "Sudah, katanya lagi di jalan," balasku pelan. "Kok lama banget dia pulangnya !" balas bapak tiba-tiba entah datang dari mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN