Yudha terdiam dan menatap bingung ke arah Alya beberapa saat sebelum Alya membuka suaranya dan berhenti untuk tertawa.
"Nama mu Yudha bukan? Apa kau memang orang yang selucu ini?" Tanya Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
Yudha merasa bingung namun sesaat kemudian ia tersipu malu akan ucapan Alya itu, tap.. tap.. tap.. suara drup langkah kaki dengan cepat menghampiri Alya dan juga Yudha.
"Ada apa ini? Sudah ku peringatkan bukan, jangan coba-coba untuk mendekati Alya." Ucap Citra cepat dengan wajah kesalnya itu sontak mendorong jauh tubuh Yudha.
"Citra! Apa yang kau lakukan." Ucap Alya cepat merasa panik akibat kedatangan Citra yang begitu tiba-tiba dan langsung mendorong jauh Yudha.
"Dia berusaha mengganggu mu bukan? Alya, katakan saja pada ku maka aku akan langsung menghajarnya." Ucap Citra cepat dengan wajah kesalnya itu yang sengaja ia tunjukan agar membuat Yudha ketakutan.
"Tidak, sama sekali tidak! Yudha, tak mencoba mengganggu ku Citra.. kami berteman." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu segera berdiri di depan Yudha agar menghalangi Citra yang ingin memukul Yudha itu.
"Kalian berdua berteman? Sejak kapan? Kenapa aku tidak tau, ahh.. tidak-tidak! Kenapa kau baru sekarang memberitahukan tentang pertamanan kalian ini pada ku, Alya." Ucap Citra cepat dengan raut wajah kecewanya itu pada sang sahabatnya yaitu Alya.
"Aku merasa kau tak lagi menganggap ku sebagai sahabatmu." Ucap Citra kembali dengan wajah tertunduk sedihnya itu.
"Citra, bukan itu maksud ku." Ucap Alya cepat dengan gelisah mencoba membuat temannya itu mengerti.
"Lalu apa? Sejak kapan kau berteman dengan pria yang modelnya seperti dia, ketinggalan jaman dan kumal." Ucap Citra gamblang menyuarakan pendapatnya tentang Yudha yang memang berpenampilan seperti gaya trend baju dulu dan tak bermerk.
"Baru saja, kami berteman." Ucap Alya cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Citra lalu menatap ke arah Yudha di belakangnya itu.
"Bukan begitu, Yudha?" Tanya Alya cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
Yudha tersenyum membalas senyuman Alya entah mengapa jantung Yudha sedari tadi tak bisa berdetak dengan seperti biasanya ketika ia sedang berdekatan dengan Alya.
"Baru saja? Maksudnya kalian baru saja menjadi teman tadi? Saat aku pergi mengambil buku yang tertinggal di kelas baru saja, begitu Alya?" Tanya Citra cepat dengan wajah bingungnya dan terkejutnya itu.
Alya dan Yudha sontak menganggukan kepalanya dengan cepat dan bersamaan dengan kompak yang mana tambah membuat Citra merasa bingung dan tak mengerti.
"Hah, kau itu begitu mudah percaya pada orang lain Alya.. dan dengan mudahnya kau mau berteman dengan pria sepertinya yang bahkan kau sendiri tak tau asal usulnya?" Ucap Citra cepat dengan wajah bingungnya itu merasa kasihan pada Alya yang memang mudah sekali terpedaya oleh orang lain.
"Hey! Kau, siapa pun nama mu aku tidak mau mengenal mu! Katakan apa maksud mu untuk berteman dengan sahabat ku ini? Cepat katakan dengan jujur." Ucap Citra cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dengan tatapan tajamnya mengintimidasi Yudha.
"Aku, ingin ber.." Ucapan Yudha sontak terhenti tak kala Ferry segera membungkam mulut Yudha dengan satu tangan besarnya itu cepat.
"Siapa kau?" Tanya Citra cepat menatap bingung ke arah Ferry.
"Aku teman, Yudha." Ucap Ferry cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Kau temannya? Lalu untuk apa kau menutup mulut taman mu tadi, kau tau dia tadi ingin berbicara sesuatu pada kami." Ucap Citra cepat terdengar menyelidik.
"Ohh, benarkah? Ah, maafkan aku.. soalnya kami berdua senang bercanda dengan menutup mulut kami seperti perang menutup mulut lawan." Ucap Ferry epat berbicara asal yang ia sendiri tak tau sedang berbicara apa.
Alya dan Citra sontak segera menatap satu sama lainya yang mana membuat Ferry merasa takut kalau ucapan asalnya tadi tak di percayai oleh mereka berdua.
"Sepertinya seru, tapi waktu yang pas untuk mu menutup mulut teman mu itu disaat ia sedang mau berbicara pada kami.. bukankah itu aneh? Yudha, itu nama mu bukan? Cepat katakan apa yang ingin kau katakan tadi." Ucap Citra kembali insting negatifnya tentang Yudha masih besar membuatnya tak mempercayai ucapan Ferry itu.
"Aku ingin serius berteman dengan mu Alya, aku ingin banyak belajar tentang mu." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu berbicara gamblang dan jujur menjawab pertanyan Citra itu.
"Apa?" Pekik Alya dan Citra bersamaan merasa terkejut akan ucapan Yudha yang baru saja mereka dengar itu.
"Bukan! Bukan itu maksud dari Yudha.. namun seperti, Yudha ingin Alya membantunya belajar bersama karna Yudha baru saja masuk dan ia belum tau betul dan mengerti akan pelajaran yang dosen berikan.. karna itu Yudha ingin meminta Alya yang notabennya adalah kating di jurusan ekonomi agar mau membantunya mempermudah belajar." Ucap Ferry cepat segera menjelaskan panjang kali lebar yang mana memang bukan itu maksud dari ucapan Yudha yang sebenarnya tadi.
"Ohh, begitu.. jadi kita ini satu jurusan ya? Tentu saja aku mau membantu mu, Yudha." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Benarkah? Terimaksih banyak," Ucap Ferry cepat segera menepuk pelan pundak Yudha berisyarat bahwa jalan kedepan untuk mendekati Alya akan lebih mudah bagi Yudha.
"Ohh, minta di ajarkan rupanya.. tapi, aku akan selalu memperhatikan mu! Awas saja jika kau melakukan sesuatu yang aneh dan menggangu Alya sekali saja, maka aku akan membuat perhitungan langsung dengan mu." Ucap Citra cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Hahaha, santi saja.. aku percaya pada teman ku ini, dia tidak mungkin melakukan hal yang mengganggu teman mu." Ucap Ferry cepat dengan wajah terpaksa tersenyum lebarnya itu menanggapi ucapan Citra yang amat ketus akan hadirnya Yudha di sekitar Alya.
Setelah kejadian di taman kampus itu waktu berjalan begitu cepat yang dimana kini Yudha, Agas, dan Ferry sedang duduk bersama di kursi meja makan untuk secara makan malam bersama.
"Aku tak menyangka kalau mantan pacar mu yang bernama Citra itu amat sangat bersikap tegas dan sedikit menakutkan, Agas." Ucap Ferry cepat membuka percakapan di tengah-tengah makan malam bersama itu.
Agas yang mendengar itu sontak terbatuk kecil lalu ia segera berkata "Benar bukan? Sikap keras kepalanya itu yang membuat ku putus dengannya, walau saat itu aku masih mencintainya." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke Ferry.
"Apa sekarang kau masih mencintainya, Agas?" Tanya Yudha cepat dengan wajah penasarannya itu.
Agas tersenyum kecil lalu ia segera berkata "Kenapa kau menanyakan hal ini pada ku, Dha? Menurut mu bagaimana jawabnya?" Tanya Agas balik dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Kau masih menyukainya," Jawab Yudha dan Ferry secara bersamaan yang mana membuat tawa Agas pecah dan terbahak-bahak.
"Kalian berdua ini benar-benar bisa menebak isi hati ku ya?" Ucap Agas cepat dengan wajah terlihat sedih walau sesaat kemudian ia kembali terlihat ceria dan bersemangat.
"Kenapa kau tak memperjuangkan cinta mu kembali, Agas? Sepertinya Citra juga tak memiliki pasangan." Ucap Ferry cepat dengan wajah serius nya itu menatap lekat ke arah wajah Yudha.
"Tak semudah itu, Ferry.. ada beberapa hal yang membuat ku bimbang untuk kembali padanya." Ucap Agas cepat menanggapi ucapan Ferry itu.
"Benar, cinta itu rumit sekali.. lebih rumit dari rangkuman yang di berikan Dosen." Celetuk Yudha cepat yang mana sesaat kemudian membuat Agas dan Ferry terawa bersama.
"Hahaha, kau benar Dha! Cinta itu rumit." Ucap Agas cepat dengan wajah merah karna tertawa sedari tadi merasa begitu lucu akan Yudha yang secara gamblang berbicara bahwa cinta itu rumit.
Yudha ikut tersenyum kecil, baru pertama kali ia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Alya dan Yudha pun merasa bingung dan baru mengatahui bahwa cinta itu begitu rumit untuk orang awam sepertinya yang baru merasakan hadirnya cinta di kehidupannya itu.