Siang hari terasa begitu runyam karna kini jadwal kuliah Yudha hampir saja bertabrakan dengan jam masuknya berkerja di salah satu Restoran di kota Jakarta itu, untung saja tiba-tiba sang Dosen mengumumkan bahwa hari ini tidak ada jam mata pelajarnya dan di ganti menjadi hari lain. Yudha segera melajukan motornya untuk ke arah Restoran namun di tengah jalan motor tiba-tiba terkena paku di ban depanya yang mana membuat Yudha panik dan bingung Yudha pun segera mendorong motornya ke bengkel terdekat lalu segera mencari tukang ojek untuk berangkat ke restoran setelah menaruh motornya di bengkel untuk di perbaiki.
Sesampainya di dalam Restoran, Yudha sudah di sibukkan dengan beberapa tumpuk cucian piring kotor serta perlataan makan lainya. Sekitar 30 menit berlalu kini Yudha telah selesai mencuci semua peralatan makan yang kotor dan tugasnya sekarang adalah memastikan bahwa meja dan kursi pengujung bersih dan tak ada satu pun setitik bekas makanan menempel di meja.
"Yudha, setelah selesai merapihkan meja segera ke ruangan saya." Ucap pemilik restoran Jepang itu cepat dengan nada bahasa indonesianya yang terdengar masih belum lancar.
"Baik, Pak." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu membungkuk hormat ke arah pemilik restoran.
Setelah 20 menit berlalu kini Yudha mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan pemilik restoran makanan khas negeri sakura itu. Detak jantung Yudha seakan mau loncat ketika ia mengetuk pintu ruangan pemilik restoran tempatnya berkerja itu.
"Ya, masuk." Ucap Pemilik restoran itu cepat terdengar serius dalam berucap.
Yudha segera masuk ke dalam ruangan dan pandangan seketika tertuju pada sang pemilik restoran tempatnya berkerja itu.
"Duduklah, Yudha.. jangan terlihat tegang seperti itu saya tidak akan berbuat hal jahat pada mu." Ucap pemilik restoran Jepang itu cepat menatap lekat ke arah Yudha.
"Baik, Pak." Ucap Yudha cepat dengan wajah yang masih terlihat tegangnya itu segera duduk di kursi.
"Sudah berapa lama kau berkerja disini, Yudha?" Tanya pemilik restoran itu cepat terdengar serius.
"Baru saja sebulan, Pak." Jawab Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu tak berani menatap sang pemilik restoran lebih tepatnya sang Bosnya itu.
"Baru sebulan ya? Kinerja mu sangat baik bahkan di luar ekspektasi saya, jujur saya sangat-sangat menghargai kerja keras mu di restoran ini.. namun saya tak bisa lagi memperkerjakan mu di restoran ini, Yudha." Ucap pemilik restoran Jepang itu cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha.
"Kenapa, Pak? Apa saya punya salah?" Tanya Yudha cepat dengan wajah sedihnya itu.
"Kau tak memiliki kesalahan apa pun, tapi saya memang sengaja memberhentikan mu karna saya ingin mengirim mu berkerja di salah satu restoran milik teman saya.. melihat kinerja mu yang cekatan sebulan ini saya rasa kamu pantas untuk berkerja disana dan mendapat bagian penting di restoran teman saya itu." Ucap Pemilik restoran makan khas negeri sakura itu cepat terdengar memuji kinerja Yudha yang memang cekatan dan rapi.
"Karna jujur saja, disini kamu hanya akan terus menjadi tukang cuci dan pembersih meja karna peran penting di restoran saya ini sudah memiliki orang-orang ahli dan sudah berkerja lama dengan saya dan saya tak mungkin memberikan mu posisi mereka di restoran ini.. apakah kamu mau menerima tawaran saya ini Yudha? Jika kau bersedia maka saya akan segera memindahkan mu berkerja di restoran teman saya itu." Ucap pemilik restoran itu cepat terdengar serius.
"Saya sebenarnya mau berkerja dan mengambil kesempatan emas itu, Pak.. tapi, saya berkerja disini karna restoran ini satu-satunya tempat yang mau menerima lamaran perkerja saya pada waktu itu walau menjadi tukang cuci piring saya iklhas menerimanya karna niat saya berkerja adalah untuk mencari uang yang bisa menghidupi saya dan keluarga saya.. walau kesempatan emas itu tak datang dua kali, saya akan tetap memilih tidak! Sebab, walau pun menjadi tukang cuci piring saya dapat menghasilkan uang yang halal untuk saya dan keluarga saya.. dan saya akan sangat tak bersyukur jika saya malah mau meninggalkan restoran ini demi berkerja di tempat lainnya." Ucap Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah sang pemilik restoran.
Pemilik restoran itu sontak tertawa kecil lalu berkata "Kau ternyata setia dan juga cermat! Saya, merasa bangga karna memiliki perkerja seperti mu di restoran saya ini.. sebenarnya saya hanya ingin mengetes mu saja dengan menyuruh mu berpindah tempat yang memiliki gaji dan jabatan yang lebih tinggi dari tukang cuci piring, namun kau ternyata menolaknya dengan alasan tak bersyukur itu.. saya rasa kamu pantas menggantikan posisi kasir! Sebab, Mbak kasir restoran itu akan segera cuti melahirkan selama 4 bulan jadi kau akan menjadi kasir selama 4 bulan itu, Yudha.. tentunya gaji mu akan sama seperti kasir di restoran ini." Ucap pemilik restoran Jepang itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
Yudha yang sedari tadi menyimak ucapan sang pemilik restoran itu sontak membuka kedua matanya dengan lebar dan berucap "Terimakasih banyak, Pak! Saya, benar-benar merasa terkejut akan semua ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Ya, ya.. saya mengerti perasaan mu saat ini, maafkan saya yang lebih dulu mengecek sifat asli mu terlebih dahulu sebelum mempercayakan satu bagian terpenting di restoran ini yaitu posisi kasir." Ucap Pemilik restoran itu cepat terdengar tak enak hati karna telah mempermainkan Yudha.
"Kalau begitu besok kau bukan lagi di bagian bersin-bersin melainkan di bagian kasir ingat itu, Yudha." Ucap Pemilik restoran itu kembali dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Baik, Pak." Ucap Yudha sigap dengan wajah tersenyum bahagianya itu.
Yudha segera keluar dari ruangan pemilik restoran itu setelah selesai berbicara, di luar Yudha sedikit berteriak kecil untuk menyuarakan kebahagianya ini. Dan tak sedikit pengujung restoran menatap aneh ke arah Yudha dan dengan tatapan bingung mereka.
Setelah pulang berkerja karna shift Yudha berkerja kini sudah usai yang dimana Yudha segera mencari tukang ojek untuk menuju ke bengkel yang dimana tempatnya menitipkan dan memperbaiki ban motornya yanh terkena paku itu.
"Berapa, Pak?" Tanya Yudha cepat yang mau memberikan ongkos tukang ojek saat sudah sampai di depan bengkel itu.
"15 ribu saja," Ucap tukang ojek itu cepat dengan wajah ramahnya itu.
"Ini ya Pak, terimakasih banyak sudah mengantar saya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu.
"Sama-sama, saya permisi balik." Ucap tukang ojek itu cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
Langkah kaki Yudha segera berjalan ke arah bengkel yang dimana ia kini segera bertemu dengan sang pemilik bengkel di pinggir jalan itu.
"Pak, apa motor saya sudah siap untuk di pakai kembali?" Tanya Yudha cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah tukang bengkel itu.
"Sudah-sudah! Ban depannya sudah kami tambal sesuai permintaan Mas-nya, dan rem yang Mas-nya bilang kalau agak tak pekam itu juga sudah saya perbaiki." Ucap tukang bengkel itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Kalau begitu saya perlu bayar berapa ya, Pak?" Tanya Yudha cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu.
"Sekitar lima puluh ribu saja, Mas." Ucap tukang bengkel itu cepat segera menjawab pertanyaan Yudha.
"Ohh iya, ini ya Pak.. terimakasih banyak sudah membenarkan motor saya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu sembari menyerahkan selembaran uang lima puluh ribu pada tukang bengkel itu.
"Sama-sama, Mas.. kalau begitu silahkan di coba dulu bawa jalan-jalan kalau terjadi pecah ban lagi silahkan langsung ke bengkel ini saja." Ucap pemilik bengkel itu cepat dengan wajah tersenyum ramahnya itu.
"Iya, Pak.. saya sekalian pulang saja deh sudah mau maghrib juga." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu.
"Ohh iya-iya, kalau begitu jika terjadi sesuatu besok pada motornya bawa saja kesini 24 jam maka masih mendapatkan garansi perbaikan ban di bengkel ini." Ucap tukang bengkel itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Iya Pak, sekali lagi saya berterimakasih." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu sebelum menjalakan motornya melaju ke arah pulang rumah kosannya itu.