Sudah sebulan berlalu sejak Yudha menjadi mahasiswa di salah satu kampus ternama di Ibu kota Jakarta ini, di samping kuliah Yudha pun berkerja di salah satu restoran bernuansa Jepang yang mana menjual dan menyajikan berbagai makanan khas negeri sakura itu.
"Permisi, saya sudah selesai makan." Ucap Seorang pengunjung wanita itu cepat memanggil Yudha yang kini bertugas untuk membereskan sisi piring makanan yang sudah tak terpakai lagi.
"Yudha," Panggil seseorang dengan cepat dari arah dapur.
Setelah membereskan piring bekas Yudha pun segera melangkah mendekati ke arah dapur yang dimana sesorang koki tengah menunggu kedatangannya.
"Yudha, tolong bereskan semua pisau kotor dan beberapa peralatan masakan ini dalam waktu tidak lebih dari 15 menit." Ucap Pak kepala koki di resto itu tegas dengan menatap lekat ke arah Yudha.
"Baik, Kepala Koki." Ucap Yudha sigap segera membereskan beberapa pisau dan beberapa peralatan masak di ruangan pencuci piring.
Setelah 10 menit berlalu kini Yudha sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik semua peralatan dapur pun sudah bersih semuanya dan sudah berada di tempatnya semula.
"Kerja bagus! Saya bangga pada mu Yudha." Ucap Pak Kepala Koki cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu, mengapresiasi kinerja cepat Yudha yang berkerja dengan cepat tampa membuang-buang waktu.
Mendapatkan apresiasi dari sang koki kepala sontak saja membuat Yudha tersenyum kecil merasa bangga pada dirinya sendiri. Sekitar sudah jam 5 sore Yudha pun segera merapihkan bajunya dan ingin segera pulang ke kosan karna shift kerjanya telah usai hari ini.
"Yudha, bawa lah ikan ini.. untuk orang rumah." Ucap Sang kepala koki cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Terimakasih, Pak! Terimakasih banyak." Ucap Yudha cepat membungkuk hormat dengan rasa penuh bersyukurnya itu.
"Sama-sama, hati-hati di jalan ya." Ucap Pak Kepala Koki itu cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu.
"Baik, Pak." Ucap Yudha cepat dengan rasa penuh hormatnya.
Yudha segera menjalankan motor meticnya dengan cepat keluar dari pakiran motor restoran itu, semilir angin dingin membuat tubuh Yudha bergemetaran karna rasa dingin yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tangannya. Kini sedang musim hujan yang mana langit selalu mendung di sore dan di pagi hari, Yudha yang sudah mengenakan jaket sekali pun masih merasakan hawa dingin dari semilir angin.
Jderr.. kilat dan air hujan tiba-tiba saja turun dengan begitu derasnya dari langit yang mana membuat Yudha segera mencari tempat meneduh di salah satu ruko. Tidak hanya Yudha yang menumpang meneduh di salah satu ruko warung sembako itu namun banyak orang-orang lainya yang berkumpul disana untuk meneduh dari derasnya air hujan yakni tukang ojek dan para pembeli.
"Bu, beli rokok sebungkus." Ucap seorang bapak-bapak tukang ojek berbicara pada sang penjual warung.
"Ini, Pak." Ucap penjual warung itu cepat dengan wajah ramahnya segera memberikan sebungkus rokok pada Bapak-bapak tukang ojek itu.
"Terimakasih." Ucap Bapak-bapak tukang ojek itu cepat segera mengambil sebungkus rokok dari penjual warung itu.
Di tengah-tengah derasnya air hujan Yudha hanya mampu terdiam di dekat ruko yang mana ia kini menyaksikan seorang Bapak-bapak kini tengah menyalakan sepuntung rokok di dekat Yudha. Yudha yang tak terbiasa untuk menghirup asap rokok sontak segera berjalan menjauh untuk menghindar dari Bapak-bapak itu.
Tepat di sampingnya hanya berjarak beberapa centi meter saja atap ruko telah habis yang mana membuat tetesan dan cipratan air hujan kini mengenai pakaian dan tubuh Yudha. Hujan yang tak mau berhenti membuat Yudha semakin lama terjebak di ruko itu tampa berbuat apa pun.
Ding.. bunyi pesan di ponsel Yudha berbunyi cukup keras yang mana membuat Yudha segera membuka ponselnya untuk melihat siapakah yang telah mengirimkan pesan padanya.
"Dha, kamu dimana?" Isi pesan teks itu di baca cepat oleh Yudha yang mana pesan itu dari Agas yang mungkin sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Kejebak hujan di salah satu warung, Agas.. mungkin jika belum reda-reda juga aku akan segera pulang." Balas pesan Yudha cepat segera terkirim ke ponsel Agas.
Waktu telah lama berjalan kini Yudha mulai kembali mendapatkan sebuah pesan dari Agas, yang berbunyi "Oke, tunggu saja sampai reda abis itu baru balik kosan.. Dha." Isi pesan Agas yang kini telah di baca oleh Yudha.
Yudha segera memasukan ponselnya kembali ke dalam tas tampa menjawab balik pesan Agas karna menurutnya pesan dari Agas tak perlu ia balas kembali, semakin lama hujan yang turun tak ada henti-hentinya padahal hari sudah menjadi malam yang mana membuat Yudha ingin nekat pergi dari depan ruko untuk menuju ke arah rumah kosannya itu.
"Bu, beli pembalut satu sama es krimnya rasa coklat dua." Ucap Seseorang wanita berbicara dengan penjual ruko itu cepat.
Nad suara itu amat Yudha kenal yang mana sontak membuat Yudha tak jadi memakai helmnya dan menatap dengan lekat ke arah sosok wanita itu. Deg.. dan benar saja sosok wanita itu adalah Alya yang mana kini ia sedang memakai rok panjang di atas mata kaki sedikit dengan kaus lengan panjang bahkan sampai jari-jari putih kecil miliknya hampir tak terlihat.
"Terimakasih, Bu." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu segera mengabil kresek yang berisi belanjaan dirinya.
"Alya," Ucap Yudha lirih namun suaranya masih bisa di dengar oleh Alya yang mana membuat pandangannya Alya teralihkan menatap ke arah Yudha dengan cepat.
"Yudha?" Ucap Alya cepat dengan wajah terkejutnya itu saat melihat sosok Yudha yang tengah memegang helm berwarna hitam di salah satu tangan kirinya dengan jaket cokelat yang terlihat basah seperti terkena air hujan.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Alya cepat dengan tatapan horornya merasa takut jika sosok Yudha sampai di ruko ini karna telah membuntuti Alya, jujur saja sikap aneh Yudha di kantin waktu itu masih membekas di ingatan Alya yang mana membuatnya sedikit takut akan sosok Yudha.
"Sedang meneduh, hujannya begitu deras." Ucap Yudha cepat menjawab pertanyaan Alya dengan jujurnya.
"Ohh, begitu." Ucap Alya lirih masih merasa sedikit tak percaya akan ucapan Yudha.
"Lalu kau sedang apa?" Tanya Yudha cepat seketika pandangan mata Yudha tertuju pada satu kresek putih yang mana membuat Alya seketika segera menyembunyikan kresek putih itu dari pandangan mata Yudha.
"Tentu saja belanja! Masa ke warung untuk tidur." Ucap Alya cepat dengan nada sedikit berteriak merasa malu saat mengetahui Yudha sempat melihat kemasan pembalut yang tadi Alya beli itu.
"Ohh, iya ya." Ucap Yudha cepat dengan gestur tubuh kikuknya itu merasa canggung setelah ia melihat sesuatu di dalam kresek berwarna putih itu.
Alya ingin melangkah pergi dari warung yang mana membuat Yudha segera berucap "Mau ku antar saja?" Tanya Yudha cepat dengan wajah malunya itu.
Alya seketika menatap wajah Yudha dengan cepat ia pun segera berkata "Naik motor di tengah hujan deras seperti ini?" Ucap Alya cepat sembari menatao lekat ke arah motor di samping Yudha sedang berdiri itu.
"Hah, iya ya.. maaf sekali lagi." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk tak enaknya itu.
Alya yang melihat wajah Yudha seketika berubah menjadi terlihat sendu sontak saja ia segera berkata kembali "Aku membawa payung, lagi pula rumah ku tak begitu jauh dari ruko ini." Ucap Alya cepat dengan wajah tak enaknya itu karna telah menolak keras niat baik Yudha yang ingin mengatarnya pulang itu.
"Ah, baiklah.. hati-hati." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu ke arah Alya.
"Hah, kau juga harus berhati-hati.. tunggulah hujannya reda terlebih dahulu baru setelah itu kau kembali menjalankan motor mu." Ucap Alya cepat dengan wajah tertunduk malunya itu segera melangkah pergi menjauh dari ruko setelah mengatakan hal itu pada Yudha.
Yudha masih menatap lekat ke arah Alya yang kini tengah berjalan di tengah-tengah air hujan turun, perkataan Alya tadi benar-benar membuat hati dan pikiran Yudha seketika menjadi kosong dengan perasaan aneh yang terus saja menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Perasaan ini, benar-benar aneh namun seperti ada sesuatu kebahagiaan di dalamnya." Ucap Yudha lirih dengan wajah terlihat bingungnya itu.
"Baiklah! Aku akan pulang nanti saja menunggu hujannya reda terlebih dahulu." Ucap Yudha kembali dengan wajah tersenyum lebarnya itu.