IL. 15

1024 Kata
Yudha pulang ke rumah kosan dengan wajah yang berseri kebahagian membuat Agas dan Ferry menatap bingung dan penuh tanya pada Yudha. "Dha, ada apa? Kau, terlihat begitu bahagia." Ucap Agas cepat penuh dengan tanda tanya. Mendengar ucapan Agas sontak Yudha tersenyum penuh dengan wajah bahagianya yang dan tentu saja tambah membuat kedua orang yang sedari tadi sedang menunggunya itu tambah bertanya-tanya. "Dha, kamu ini kenapa sih?" Tanya Agas kembali dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha tersenyum lebar tak berapa lama ia tertawa kecil yanh membuat ruang tamu itu tiba-tiba suram dan terasa menegangkan akibat tawa dan senyuman aneh Yudha itu. "Dha, jangan bikin kita takut deh.. ada apa sih?" Ucap Agas kembali dengan wajah takutnya itu. "Agas, Ferry.. aku juga tidak tau kenapa, tapi, rasanya aku sangat bahagia saat ini." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Bahagia? Kenapa? Kasih tau kita ada hal apa, Yudha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu. "Entahlah, rasanya sedih aneh setiap kali aku bertemu dengannya." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersenyum tersipu malunya itu. "Aneh? Dengannya? Maksud mu, siapa Yudha?" Tanya Ferry cepat dengan wajah bingungnya itu. "Wanita itu," Ucap Yudha lirih dengan wajah tersipu malunya itu. "Wanita? Wah, ternyata kau sedang jatuh cinta! Wah, selamat ya.. Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Jatuh cinta? Maksud mu, aku sedang jatuh cinta?" Tanya Yudha cepat dengan wajah bingungnya itu. "Yaps, lalu apa lagi? Selamat ya." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Ngomong-ngomong, siapa wanita itu? Cepat katakan." Ucap Agas kembali dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Namanya Alya, wanita itu adalah wanita yang waktu itu ketemu dengan ku di gedung futsal itu." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk memerahnya itu manahan rasa malunya. "Eh, pantas saja kau terlihat aneh setelah bertemu wanita itu di tempat futsal waktu itu.. ternyata itu alasanya! Wah, Dha.. kamu pria yang penuh teka-teki." Ucap Agas cepat dengan tawa kecilnya itu. Yudha menggaruk tengkuknya yang tak gatal lalu segera berlari masuk menaiki anak tangga untuk segera sampai di kamarnya, sementara itu Agas terus saja tertawa lebar bahkan Yudha masih bisa mendengar suara tawa dari Agas yang menertawakan dirinya itu. Drap.. suara pintu kamar tertutup dengan cepat Yudha segera membuka tasnya dan menjatuhkannya ke lantai dengan sembarangan, Yudha pun langsung merebahkan dirinya di atas kasur dan menutupi sebagian wajahnya dengan satu tangannya. "Huh, jadi aku sekarang sedang jatuh cinta? Rasnaya seperti terbang tinggi ke langit! Aneh dan terasa indah, aku menyukai mu Alya." Gumam Yudha lirih dengan wajah tersenyum kecilnya. Pagi hari terasa begitu indah bagi Yudha bahkan Yudha kini sudah siap untuk berangkat ke kampus walau jam mata kuliahnya masih nanti siang alias jam 11 siang. Agas yang melihat Yudha pagi-pagi sekali sudah rapih dan wangi sontak menggoda Yudha. "Ck, gini nih yang termakan omongannya sendiri.. katanya tidak mau berpacaran kok malah sekarang sudah rapi dan wangi, mau jemput sang pacar ya?" Ledek Agas cepat dengan wajah tersenyum jahilnya itu saat melihat Yudha tengah berjalan ke ruang tamu. Yudha tertawa kecil lalu ia berkata "Bisa saja kamu, Agas.. aku cuma mau datang lebih awal agar tak tertinggal jam pelajaran doang kok." Ucap Yudha cepat dengan wajah tersipu malunya sendiri. "Yang benar? Bukanya amu ngapelin si doi?" Tanya Agas cepat dengan wajah tersenyum jahilnya itu. Yudha menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berkata "Cuma aku yang merasakan jatuh cinta, Agas.. aku tidak tau dia juga merasakannya atau ndak, soalnya setiap kali kita bertemu ia terlihat risih dan memandang ku dengan tatapan yang sulit ku artikan." Ucap Yudha cepat dengan wajah tertunduk sendunya itu. "Apa? Apa dia sudah memiliki kekasih karna itu dia bersikap seperti itu pada mu, Dha." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha yang kini duduk di sebelahnya. Yudha terlihat murung dan tak bersemangat saat Agas berbicara bahwa mungkin saja Alya sudah memilik kekasih, Agas yang peka pun segera menepuk pundak Yudha dengan cepat dan sedikit keras. "Dha, jodoh ngga akan kemana! Jika wanita itu memang benar jodoh mu mau seberapa banyak kekasihnya maka ia akan tetap menjadi wanita mu." Ucap Agas cepat dengan wajah tersenyum kecilnya itu berusaha menyemangati Yudha yang kini terlihat galau akan ucapan Agas tadi. "Kau benar, Agas.. jodoh memang tak akan kemana, tapi aku takut jika Alya memang bukan jodoh ku." Ucap Yudha cepat dengan wajah terlihat panik dan tak relanya itu. Agas terdiam sesaat memang benar ucapan dan pemikiran Yudha ini, Agas pun segera berkata "Dha, mungkin saja dia bersikap seperti itu karna sifatnya yang tertutup dan tak mau di dekati oleh pria bukan karna dia sudah memiliki kekasih, bagaimana jika kau mencoba mendekatinya saja! Aku akan membantu mu." Ucap Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dengan semangat yang membara. "Ya, bisa saja begitu," Ucap Ferry cepat segera masuk ke dalam pembicaraan Yudha dan Agas. "Sorry, bukan nguping omongan mu Agas, Yudha.. tapi aku dari dapur pun masih kedengaran obrolan kalian berdua." Ucap Ferry kembali dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha dan Agas silih berganti. "Benar bukan, Ferry? Nah, Dha bagaimana? Kau siap untuk berjuang mendapatkan hatinya tidak?" Tanya Agas cepat dengan wajah seriusnya itu menatap lekat ke arah Yudha. Yudha terdiam sesaat sebelum ia mulai mengaggukan kepalanya dengan cepat dan berkata "Mau! Aku mau berjuang." Ucap Yudha cepat dengan semangat yang membara. "Oke, ngomong-ngomong seperti siapa wanita itu Dha?" Tanya Agas cepat dengan wajah penasarannya itu. Disisi lain, kini Alya baru saja sampai di depan kampus yang mana disana ia sudah di sambut dengan hangat oleh sang temanya yang bernama Citra itu. "Alya," Panggil Citra cepat dengan nada suara rindunya itu. "Citra." Ucap Alya cepat segera berjalan menghampiri Citra yang baru sama-sama tiba di depan kampus setelah mobil keluarga mereka mengantarnya itu. "Rindu," Ucap Citra cepat dengan wajah memelasnya itu segera memeluk erat tubuh Alya. "Mm, aku juga." Ucap Alya cepat dengan wajah tersenyum lebarnya itu. "Yasudah, ayok! Masuk, kita harus membuat otak ini untuk selalu berkerja dan belajar agar tidak terus bermalas-malasan saja!" Ucap Citra cepat dengan suara penuh semangatnya itu. "Hahaha, ayo!" Timpal Alya cepat dengan tawa kecilnya itu tersenyum lebar sambil berjalan beriringan masuk ke area halaman depan pintu masuk kampus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN