“Wah, pengantin baru habis jalan-jalan ini,” ucap ibu ketika aku masuk ke rumah. Mendapati pintu telah terbuka lebar dengan wanita paruh baya yang masih mengenakan gamis putih. Beliau sedang duduk di kursi tamu dengan beberapa kresek plastik hitam maupun bening di atas meja. Kujabat tangan beliau, yang kini terus tersenyum ke arahku. Dilihatnya aku dan Mas Ammar secara bergantian. “Sudah pulang, Bu? Bukannya besok.” Sapa Mas Ammar, yang turut menjabat dan mencium punggung wanita yang telah melahirkannya. “Iya. Kan bukan bulan ruwah, jadi gak banyak peziarah yang datang. Jalanan sedikit lebih sepi dan lancar,” tegas wanita dengan sorot mata teduh itu. Mas Ammar pamit untuk ke kamar terlebih dulu, sedangkan aku masih menemani ibu yang duduk di kursi tamu. Beliau menyandarkan punggungnya

