“Mas ....” ucapku yang kini mendekat ke meja kantornya. Masih dengan buku yang kubawa, dan satu jari di sela halaman yang kubuka. “Iya.” “Maafkan aku ya!” “Untuk?” “Kesalah pahaman ini.” Mas Ammar terkekeh. “Kenapa harus minta maaf? Aku yang salah telah berlaku buruk padamu, Dek. Khadijah itu istri soleha yang dipilihkan oleh Tuhan untukku,” ucapnya dengan lengkungan indah di bibirnya, membuat pipiku kembali memerah karena tersipu. “Kalau Mas Ammar salah melamar, lalu kenapa Mas tetap melanjutkan hubungan kita?” “Kalau baca sesuatu jangan setengah-setengah ya,” ucapnya yang kini membelai rambut panjangku. Aku tersenyum, harusnya tak menanyakan itu kepada Mas Ammar. Buku ini sudah lebih dari cukup untuk mengetahui jawabannya. Aku kembali duduk di bibir ranjang, dan membuka halaman

