Mas Ammar begitu bahagia, ketika mendengarkan panggilan dari sebrang sana. Transferan royalti dari penjualan buku telah diterima. Bahkan hasilnya jauh lebih dari apa yang dibayangkan. “Dek Dijah, harapanku membangun tempat yang layak untuk anak-anaknya segera terealisasi,” ucapnya yang tiba-tiba mendekat ke arahku dan memelukku begitu saja. Ia mendekap begitu erat, sambil terus berbicara panjang kali lebar tentang cita-citanya itu. Ya, tempat yang saat itu kami kunjungi adalah tempat sengketa. Diberi waktu tiga minggu untuk pindah tempat dari sana. Mas Ammar sudah mendapatkan lahan yang dibelinya dari donasi para dermawan. Hasil dari tumpukan proposal yang ia layangkan dari satu perusahaan ke perusahaan lain. “Mas, Dijah gak bisa nafas,” ucapku ketika tubuhnya terus menekan tubuhku. “

