“Dek.” Mas Ammar memegang gagang pintu, hendak membuka benda tersebut. Namun, sekuat tenaga akupun menahannya. Berikut dengan denyut jantungku yang berdegup begitu kencang. Lagi-lagi sebuah sandi rumput terus merajai denyutan. Aku mendorong pintu lebih kencang, hingga benda tersebut tertutup dengan sempurna. Lalu, mengatur nafasku yang kini tak karuan. d**a seakan naik turun bersamaan dengan irama kerja jantung. Kupegang dadaku dengan telapak tangan, sambil menghirup udara lebih panjang dari biasanya. Kuhembuskan perlahan sambil menata hati, dan kembali ku tutup tubuhku dengan handuk. Aku berlalu dan mendekati ranjang, dimana Mas Ammar tengah duduk di bibir ranjang sambil mengulum senyum, menatapku dari atas ke bawah. “M-Mas, Di-Dijah ada yang lucu. Kenapa senyum-senyum?” tanyaku yang

