Seusai pertemuan itu, Mas adam tak lagi menghubungiku. Ponsel yang beberapa hari penuh notif pesan darinya. Kini kosong. Untuk sekedar menyapa menanyakan kabarpun tidak. Aku semakin dibuat merasa bersalah karenanya. “Mbak Dijah, kenapa beberapa hari ini sering bengong?” tanya Dinda sambil berjalan perlahan ke arahku. Tangannya sudah tak lagi memegang tongkat penyangga, melainkan merambat ke dinding ketika kehilangan keseimbangan. “Tidak, Dek, mbak gak bengong kok,” ucapku sambil melipat pakaian yang kuambil dari jemuran. “Mbak ada masalah?” Aku menggeleng. Ia duduk di bibir ranjang, lalu berbaring di atas kasurku menatap langit-langit kamar. “Mbak dijah ingat almarhum mas ammar ya?” tanyanya lagi yang kujawab dengan senyuman. “Sehari setelah kalian menikah, Mas ammar menganta

