“Mbak Dijah jangan heran gitu lah. Beruntung sekali mbak dijah punya calon suami seperti Mas adam.” “Calon suami?” tanyaku semakin bingung. “Mbak Dijah suka bercanda ternyata. Mas Adam mau turun ranjang kan sama Mbak Dijah? Semua warga sini juga sudah tahu,” ucapnya dengan senyuman, lalu kembali mendorong gerobaknya pergi. “Ciye .... Mbak Dijah .... kenapa gak pernah bercerita sama Dinda?” terdengar tawa dari bibir adikku. Aku menoleh ke arahnya, sambil memanyunkan bibir. “Itu gak benar, itu cuman gosip.” “Fakta juga gak papa, Mbak. Lagian gak ada salahnya kan mbak dijah buka hati untuk laki-laki lain. Setahu dinda, mas adam juga rajin sholat, berbakti orang tua, idaman mbak banget kan?” “ah, sok tahu, Din.” “Bukan sok tahu, Mbak. Cuma ngasih masukan saja. Itu pun kalau ucapan Dinda

