“Dari mana kamu tahu kalau Raffa yang menabrak Mas Ammar?” Tubuhnya gemetar, berikut dengan bibir yang naik ke atas dan ke bawah tampak ragu berucap. “Dari mana, Dinda?” tanyaku menuntut jawaban. “Aku semobil dengan Mas Raffa, Mbak,” ucapnya lirihbersamaan air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya. Deg. Aku seakan dihujam oleh panah dan mengenai tepat di jantungku. Kurasakan ngilu di bagian d**a sebelah kiri. Rasanya aku tak percayadengan kalimat yang baru saja kudengar. “Astagfirullah,” ucapku lirih. Aku menggeleng. “kamu bohongkan, Dek?” tanyaku. “Maafkan Dinda, Mbak. Dinda minta maaf,” ucapnya dengansesenggukan. Sebuah kecelakaan itu memang takdir, meskipun tetap saja menggoreskanluka. Tapi, mengingat kejadian tabrak lari itu, sungguh tak mampu kuterima. Seorangpelaku yang m

