“Dijah, kamu….” Kuambil bendapipih yang berada di tangan ibu. Seketika dua bola mataku pun menatapnya denganharu. Dua garis tergores di dalamnya, menandakan adanya benih di rahimku.Netraku kini mengemnun, berikut dengan ibu yang bibirnya gemetaran, dipeluknya akudengan erat, berikut dengan suara tangisan yang terdengar. “Kamu hamil,Dijah,” ucapnya. Masih dengan posisi memelukku. Dielusnya punggungku begitulembut. “Iya, Bu. Alhamdulillah,”ucapku masih tak percaya. Allah begitu baik kepadaku, di tengah rasa suudzonku terhadapNya.Sang pemilik semesta terus memberikanku kejutan dengan hal yang membahagiakan. Allahmenjawab doa-doaku untuk kembali menghadirkan Mas Ammar di sisiku. “Ya Allah, Nduk.Ibu bahagia sekali,” ucapnya yang melepas pelukan dan langsung mengelus perutku.“Cucunya nenek b

