Sepulangnya Sambara, Lia dan Andin duduk di meja makan dengan pandangan terpekur. Keduanya bingung menghadapi apa yang terjadi. Senang tapi ada yang mengganjal. Merasa bingung, tetapi terasa ini adalah kepastian. Ada seorang lagi yang menunjukkan keseriusannya. Saat mereka ingin mendiskusikannya dengan sang putri, ternyata waktu tak berpihak. "Bagaimana ini, Pa?" tanya Lia gelisah. "Kita bahkan belum memberitahukan apa-apa ke Kahayang." Andin tak menjawab selain menghela napas panjang. "Kita sudah meng-iya-kan. Aduh." Lia menepuk keningnya sendiri. "Pa! Kan Deon bilang mo datang. Jam berapa sekarang?" "Mau datang ngapain?" tanya Andin mengabaikan pertanyaan istrinya. "Aduh kamu ini. Deon mau bicara sendiri juga ke Kahayang plus mau belikan Kahayang baju untuk nanti malam." "Aduh, iya

