Bros itu kembali. *** Tubuh Bela menggigil kedinginan. Rasa dingin terasa tak hanya menembus kulit saja, melainkan juga sampai ke sumsum-sumsum tulang. Bela duduk bersandar pada tembok luar salah satu rumah yang kosong. Kakinya ditekuk dalam sampai menyentuh dadanya. Dengan sengaja Bela menguatkan diri untuk tetap duduk daripada tiduran. Ia khawatir dirinya akan tertidur dan kehilangan momen. Suatu keberuntungan, mungkin karena diiringi niat baik. Rumah yang terasnya diam-diam Bela pakai untuk duduk, berada di depan rumah kekasih Danisa. Dan suatu kebetulan lagi, Danisa pernah mengundangnya tiga kali untuk menginap di rumah itu. Tepatnya saat si kekasih Danisa harus keluar kota. Sebulir air mata jatuh perlahan pada pipi yang bengkak dan memar. Bela teringat masa-masa indah bersama Dani

