Siska : Aku kembali menyiapkan makan malam untuk Andra. Kali ini terong balado dan pepes tahu. Tidak setiap hari sebenarnya, hanya sabtu minggu. Kupikir ini lebih baik, dari pada Andra tidak makan sama sekali. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, tibalah aku di depan rumah berpagar putih. Bangunan mewah dan megah, sepadan dengan para penghuninya. Aku menengokkan kepala ke sana ke mari. Sepi, tak tampak rupanya Pak Samin yang selalu berdiri di pos jaga. Bagaimana caranya agar makanan ini sampai pada Andra? Tidak mungkin jika aku harus masuk ke dalam. Aku meluruhkan pundak, putus asa. Melepas selendang dan kaca mata, lalu berbalik. "Astaga!" Aku terperanjat kaget, menyadari ada seseorang yang mungkin sejak tadi mengawasiku. "Kenapa?" Dia bertanya, lalu diakhiri senyum simpul. "

