33. Keputusan Andra

2264 Kata

Andra : Aku menahan Siska untuk tidak pergi. Sebisa mungkin aku menahan amarah, tidak mau memperlihatkan emosi di hadapan Papi. "Bentar, Sayang. Jangan ke mana-mana," pintaku. "Papi, apa impian Papi masih sama seperti dulu, saat aku berusia 17 tahun?" Aku menatap Papi. "Tentu, Papi sampai saat ini selalu berdoa buat kebahagiaan kamu." Papi menjawab dengan lembut. "Mami, impian Mami juga masih sama?" Kali ini aku menatap Mami. "Apa maksud kamu?" Mami mengernyitkan dahinya. "Iya, punya menantu yang sepadan dengan kita, berpendidikan, dan berkelas." Aku menerangkan dengan melirik Hani, tentu saja dia tersenyum lebar. "Hmm, itu memang sudah seharusnya. Kamu penerus Wirata, lulusan Jerman, CEO, apalagi yang tidak kamu punya? Sudah sepantasnya kamu punya pasangan yang sempurna." Mami m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN