Siska : Aku menarik napas panjang, sesak sekali rasanya. Ah, pantas saja! Tangan Andra begitu erat melingkar. Kulepas tangan Andra perlahan, agar tidak mengganggu tidurnya. Setelah semalaman menungguku, kini dia terlelap tidur. Lapar, itu yang aku rasa. Aku keluar kamar, membuka pintu perlahan. "Astaga! Apa ini?" Aku tersentak kaget, melihat meja di ruang tengah yang begitu berantakan. Berbungkus-bungkus kemasan rokok berjajar di meja, asbak yang penuh, bahkan gelas pun dipakai sebagai asbak! "Andra ...." Aku memijat pelipis. "Kamu habisin ini semua?" bisikku tak percaya. Jelas hanya dia, karena Dicky memang tidak merokok. Pantas saja Dicky enggan meninggalkan Andra, kalau Dicky tidak menemaninya, entah apa yang terjadi. Malas, aku hanya berlalu melewatinya. Dapur, itu tujuanku.

