“Saran saya, nanti jangan sampe kamu salah panggil Mama jadi Tante kalau kamu enggak mau dengerin mama panjang lebar ngomong ke kamu padahal intinya Mama pengen kamu panggil sama kayak aku.” Aku meringis mendengar ucapan Pak Mahesa dan mengangguk. Mobil yang dikemudikan Pak Mahesa sampai di rumah kediaman kedua orang tuanya. Aku masih duduk menatap rumah megah di hadapanku disaat Pak Mahesa sudah beranjak untuk keluar dari dalam mobil. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum ikut keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah megah itu. Rasanya masih seperti mimpi karena tidak pernah terbayang dalam benakku kalau aku akan menjalani kesepakatan dengan Pak Mahesa yang notabene adalah anak dari pemilik perusahaan tempatku bekerja dan beberapa jam lalu Pak Mahesa bar

