“Apa yang kamu lakukan disini, Vanala?”
Aku menahan nafas selama beberapa saat melihat dua orang yang aku lihat tepat saat pintu ruang istirahat milik Pak Mahesa kubuka. Dengan tangan yang masih berada di gagang pintu, Aku bersumpah kalau saat ini aku kebingungan harus menjawab apa. Otakku hank. Mulutku mendadak kehilangan kemampuan berbicara dan mataku sudah berkaca-kaca karena takut. Kepergok menggunakan ruang pribadi bos oleh si bos pemilik ruangan yang sedang ada tamu jelas bukan sesuatu yang sepele.
"Vanala. Saya bicara sama kamu. Bisa kamu jawab pertanyaan saya?"
Nada tegas yang keluar dari mulut Pak Mahesa membuatku takut luar biasa. Ya, Tuhan. Apa cobaan untuk hambamu ini masih belum cukup? Kemarin aku melihat sendiri bagaimana pacar dan sahabatku yang selingkuh dibelakangku lalu hari ini aku dipergoki ketahuan menggunakan ruang pribadi milik bos yang sedang ada tamu? Kok cobaan hidup borongan macem pekerjaan tukang bangunan begini. Bagaimana kalau Pak Mahesa sampai marah besar dan memecatku? Bagaimana nasib Ambu, Abah dan Jojo setelah ini?
“Saya tanya sama kamu. Apa yang kamu lakukan disini, Cantik?” tanya Pak Mahesa untuk kesekian kalinya dengan nada yang berbeda. Nada Pak Mahesa mendadak melembut dan biasanya orang marah yang menggunakan nada lembut tandanya sedang menahan kesabaran yang semakin menipis, kan?
Aku mengigit bibir menahan diri untuk tidak menangis melihat Pak Mahesa malah beranjak dari posisinya mendekatiku dan ketika Pak Mahesa semakin dekat akhirnya aku benar-benar menangis. Menangis karena takut dimarahi tapi tangisku spontan berhenti ketika Pak Mahesa malah memelukku. Otakku macet dan saat aku ingin melepaskan diri Pak Mahesa malah memelukku erat.
“I’m so sorry, baby. Kamu pasti denger apa yang aku bicarain sama Nena tadi, ya... Sshhh... Sshhh... Sudah.. Sudahh.. Jangan nangis lagi...”
Aku berhenti menangis untuk berfikir keras. Barusan Pak Mahesa panggil aku apa? b-a-b-y atau b-a-b-i? Baby? Sayang? Ah, tentu jelas bukan. Memangnya siapa Vanala Cantika sampai-sampai bisa dipanggil sayang sama Yang Mulia Tuan Mahesa? Dia pasti panggil aku babi. Ya, binatang babi maksudnya! karena kata itu lebih masuk akal terucap dan kalau dugaanku ini benar berati fix, Pak Mahesa sudah marah besar karena dia sampe panggil aku pake kata babi!
Pak Mahesa mengeratkan pelukannya, "Tenang... Tidak perlu menangis."
Eh tapi kok aku malah jadi dipeluk begini? Otakku macet tidak bisa berpikir terlebih jauh ketika mataku melihat ke arah lain ada seorang wanita yang sudah menatapku dengan ekspresi campur aduk. Ada ekspresi bingung yang bercampur dengan kesal. Mukanya terlihat seram bagiku tapi yang jadi pertanyaanku saat ini, siapa wanita itu?
Pak Mahesa menepuk kepalaku perlahan sambil terus memelukku, “I’m sorry, baby. Kamu nungguin aku karena pengen langsung ketemu Nena dan bilang aku punya kamu?”
Ya, Allaaahhhhh! Ada apa ini sebenarnya? Aku nungguin Pak Mahesa? Aku punya kamu? Aku siapa? Kamu siapa? Ini ada dimana sih? Aku kok bingung sendiri begini? Aku ini masih mimpi apa gimana? Ya, Allahhh tolong Vanala! Hamba terjerumus dalam masalah besar. Entah gimana nasib keluarga hamba setelah ini. Tolong Vanala, Ya, Allaahhhhh!
Pak Mahesa melepaskan pelukannya dan memberi jarak diantara kami. Kupikir Pak Mahesa akan memarahiku tapi yang terjadi lebih horor lagi. Pak Mahesas menangkup wajahku dan menghapus air mataku dengan ibu jarinya sambil tersenyum lembut kepadaku. SENYUM LEMBUTTTT! Ada apa ini?! Aku histeris sendiri dalam hati.
“Sudah jangan nangis lagi, baby.”
“Ba─ bapak marah?” aku memberanikan diri buka suara memastikan
Pak Mahesa tersenyum semakin lembut dan menggelengkan kepalanya membuatku semakin merasa horor, “Saya enggak marah. Kenapa kamu sampe nangis begini?"
"Ba─ pak bikin saya takut," jawabku jujur.
"Saya enggak marah sama kamu dan kamu enggak perlu takut, sayang. Semua akan baik-baik saja. Saya akan tetap pilih kamu dan cintanya sama kamu.”
HEH?! APA?! GIMANA?! CINTA?! SAYANG?! PAGI-PAGI GINI UDAH MABOK BOS?!
Suara decakan sinis membuatku semakin ketakutan, “Mas! Dia ini siapa? Kenapa-”
“Pak, Saya benar-benar minta─ ”
Pak Mahesa kembali menarikku kedalam pelukkannya membuat aku kembali menahan nafas sambil membulatkan mataku. Aku sangat terkejut oleh aksi yang dilakukan Yang Mulia Mahesa yang terhormat ini. Kini kepalaku berada tepat didada bidang pria itu dan aku bisa mendengar bagaimana jantung pria itu berdetak begitu jelas.
“Kamu enggak perlu minta maaf. Aku justru senang kamu disini. Kita enggak perlu lagi rahasiain semua─ ”
“Pak? Dia ini karyawan kamu, Mas? Apa maksudnya rahasia?”
Aku ingin segera menjawab tapi Pak Mahesa sudah menganggukkan kepalannya lalu dengan cepat menjawab, “Nena, kamu bertanya kenapa aku menolak perjodohan yang Mama dan Papa buat, kan?” Tatapan Tuan Mahesa yang menatap wanita yang ternyata bernama Nena itu kini sudah beralih kepadaku, “Dia alasan Mas.” Lalu tatapan Pak Mahesa kembali beralih ke arah wanita itu, “Aku sudah punya pacar, Na. Aku mencintai wanita ini dan akan menikahinya dengan segera.”
PACAR? NIKAH? YA ALAAAHHHHH, ADA APA INIIII..?!
Otakku semakin hank menatap horor Pak Mahesa dan ketika aku mengalihkan pandanganku ke arah wanita bernama Nena itu, pandangan permusuhan yang tidak wanita itu tutup-tutupi tertuju padaku. Fix! Dia anggep gue musuhnya. Wahai bumi yang kup
***
Aku duduk di kubikelku dengan kepala yang mendadak penuh. Pasca drama dadakan itu berakhir, aku keluar dari ruangan Pak Mahesa dan pergi ke toilet karyawan yang biasa aku dan keempat seniorku gunakan setiap hari. Aku dengan segera mengganti pakaianku dengan pakaian yang memang sengaja aku taruh dikantor untuk situasi darurat lalu duduk di kubikelku sambil berpikir betapa sialnya nasibku. Kesalahan besar apa yang sudah aku lakukan hingga nasibku bisa seburuk ini?
Aku melihat jam dilayar ponselku yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi dan biasanya tidak lama lagi para seniorku akan datang satu per satu dan bersiap memulai hari panjang kami tapi aku kehilangan tenaga dan fokus untuk bekerja karena apa yang terjadi tadi pagi.
Kalau kalian bertanya bagaimana aku bisa lepas dari drama yang di produksi oleh Yang Mulia Tuan Mahesa dan wanita yang bersamanya tadi jawabannya mereka sudah meninggalkan ruangan divisi R&D pergi entah kemana. Pada akhirnya tadi aku sudah seperti boneka yang hanya mengangguk mengikuti apa yang Pak Mahesa katakan ketika pria itu bilang akan menyelesaikan masalahnya dengan Nena sesegera mungkin agar tidak ada yang menganggu hubunganku dan Pak Mahesa lagi. Pak Mahesa mengatakan hal itu dengan santai dan nada lembut sambil terus diriku disaat aku berusaha keras menahan diri untuk tidak berteriak, BODO AMAATTTT! KITA EMANG GAK ADA HUBUNGAN APA SELAIN URUSAN KANTOR, BOS?!
Tapi meneriakkan itu sama aja ajang bunuh diri karena aku tidak paham apa yang sedang terjadi saat ini sampai-sampai Yang Mulia Tuan Mahesa memasukkan diriku dalam drama dadakan tadi pagi. Sungguh sial betul nasibku dari kemarin. Sudah badan lelah karena harus lembur, aku memergoki Fandy yang berselingkuh dengan Lena dan pagi ini mendadak masuk ke dalam drama produksi Yang Mulia Tuan Mahesa.
“Va, ekspresi muka lo pagi-pagi begini kenapa kayak orang abis kena bencana begitu? Tadi gue liat si bos─”