4. Bilang atau enggak?

1000 Kata
“Mbak....” Aku dengan cepat memotong ucapan Mbak Retha dengan mata berkaca-kaca. “Eh? Kok lo malah nangis. Lo kenapa, Va?” Mbak Retha mendekatiku dan langsung memelukku membuatku menangis semakin terisak. Otakku penuh dan alih-alih penuh karena kelakuan Fandy, kini otakku malah penuh dengan bagaimana nasibku setelah masuk ke dalam drama produksi Yang Mulia Tuan Mahesa tadi pagi. Apa aku akan jadi artis dadakan atau malah dipecat karena ketahuan menggunakan ruang pribadinya. Aku menangis sejadi-jadinya karena takut kehilangan pekerjaan dan berdampak pada keluargaku nantinya. Aku menangisi kesialanku yang datang berturut-turut ini selama beberapa saat hingga para seniorku khawatir. “Udah tenang?” Suara Mas Bimo terdengar khawatir yang jelas terdengar. “Mending sekarang lo minum dulu baru habis itu cerita. Kenapa pagi-pagi elo nangis kejer begini bikin orang panik?” Aku menatap Mas Bimo sambil menghapus air mata yang membasahi pipiku sambil menerima air putih yang disodorkan Bang Rizal. Aku meminum air putih itu perlahan. Keempat seniorku jelas sudah sampai di kantor karena jam hampir menunjukkan jam delapan pagi dan langsung mendekatiku dan Mbak Retha dengan ekspresi khawatir. “Kenapa pagi-pagi elo nangis begini? Apa terjadi sesuatu sama keluarga lo di Bandung? Abah, Ambu sama Adek lo baik-baik aja, Kan?” tanya Mbak Retha dengan nada yang juga khawatir. Aku menganggukkan kepalaku perlahan. “Terus kenapa elo nangis kejer begini? Ada hubungannya sama Pak Mahes? Tadi pagi gue liat Pak Bos turun dari lift sama cewek pagi-pagi.” Aku langsung menatap Mbak Retha karena ucapannya itu. ‘Iyaaaa. Itu yang bikin gue nangis, Mbak!’ batinku berteriak namun mulutku hanya diam. Aku ragu harus bercerita jujur mengenai kejadian tadi pagi atau tidak. Kalau cerita kok aku ragu ya... Aku tidak mau dimarahi lagi... Duh, lieur... “Elo nginep dikantor semalem, Va?” Mas Satria buka suara sambil menunjuk baju yang aku pakai kemarin terlipat di bawah meja membuatku dan para seniorku yang lain menatap ke arah yang ditunjuk oleh Mas Satria. Baju yang kupakai kemarin memang belum kumasukkan ke dalam tas dan aku menganggukan kepala perlahan sebagai jawaban. Aku masih tetap diam karena masih sibuk merangkai kalimat yang hendak aku gunakan untuk menjawab tangisanku pagi ini. “Eh tunggu,” Bang Rizal yang sedari tadi diam pun buka suara,"Semalem elo nginep di kantor? Bukannya kemarin malem elo pulang? Kemarin malem sebelum pulang gue ngerokok di pos satpam dan gue yakin kalo gue liat elo pulang naik taksi." Bang Rizal bertanya sambil menatapku dengan nada dan wajah bingungnya. Aku berusaha mengatur nafas dalam sambil terus menimbang mengenai apa aku harus menceritakan kejadian tadi pagi atau tidak. Aku menegakkan posisi tubuhku. Mencari posisi duduk yang nyaman sambil berpikir. Aku sungguh takut salah langkah. Kalau aku jujur mengaku kalau aku ketahuan sama Pak Mahesa rasanya kesialanku bertambah lagi. Para seniorku ini pasti akan menceramahiku karena itu atau lebih parahnya, mereka pasti akan marah besar karena bisa-bisanya Pak Mahesa memergoki aku keluar dari ruangan pribadinya saat pria itu sedang ada tamu seorang wanita pula. Tapi kalau dipikir-pikir mana aku tau kalau Pak Mahesa akan datang sepagi itu ke kantor dan bertemu dengan seorang wanita di ruangan kerjanya. “Jangan cuma diem doang dong, Va. Jawab pertanyaan kita-kita. Lo udah bikin orang panik pagi-pagi gini nangis kejer begitu.” Mas Satria yang kesabarannya setipis tissue dibelah dua itu akhirnya ngegas juga. “Jangan bilang lo balik nginep ke kantor terus elo ketauan sama si Mahesa. Lo kena damprat Mahesa karena pake ruangan dia, kan, Va?” tanya Mas Bimo dengan nada tajam dan wajah seriusnya ikutan buka suara. Sepertinya Mas Bimo juga mulai tidak sabar menunggu jawabanku karena aku masih tetap diam. Akhirnya aku pun mengangguk lalu menggelengkan kepala dengan cepat untuk menjawab pertanyaan Mas Bimo. “Gue emang balik ke kantor buat nginep dikantor, Mas. Tapi Pak Mahesa gak damprat gue karena pake ruangan dia, Kok.” Aku menundukkan kepala, “Gue nangis karena... Fandy.” Ya... Akhirnya aku memilih menyembunyikan apa yang terjadi tadi pagi karena mendadak takut dengan ekspresi serius Mas Bimo tadi. “F─Fandy?” Mbak Retha menatapku dengan nada bingung. Aku pun menganggukkan kepala. Aku menarik nafas dalam lalu mengitarkan pandanganku pada keempat seniorku sebelum menceritakan bagaimana perjalananku semalam. Aku memulai ceritaku dari kabar Fandy yang tugas keluar kota sehingga aku lebih memilih ke apartemen Fandy alih-alih ke kostan sehabis lembur semalam. Aku akhirnya menceritakan mengenai apa yang kulihat semalam. Ingatan akan Fandy dan Lena yang sedang asik bergulat diatas tempat tidur tanpa sehelai benang yang masih membekas dalam kepalaku. Aku menceritakan semua yang terjadi dengan detail namun anehnya aku sama sekali tidak menangis. Aku marah tapi tidak menangis tapi teringat akan apa yang terjadi tadi pagi dengan Pak Mahesa lalu memikirkan nasib pekerjaanku setelah kejadian tadi pagi dengan mudahnya mataku berkaca-kaca. Aku ingin menangis lagi. “Sialan! Berengsek! Laknat banget kelakuan si Fandy! Pengen gue hajar!” Mbak Retha marah besar mendengar ceritaku mengenai kejadian semalam. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun yang duduk di sebelah kubikelku semenjak hari pertama aku bekerja di perusahaan ini tidak bisa menahan luapan kemarahannya dan wajar jika itu terjadi. Aku pun akan berespon sama dengan Mbak Retha jika berada disituasi yang sama. “Sebenernya gue udah ada feeling kalo itu anak gak beres, si Vanala aja yang kecintaan kadang mau aja jadi babu dia beresin apartemennya pas dia gak ada, bayarin tagihan dia alesannya gaji belum turun padahal lo masih harus ngehidupin keluarga lo,” ucap Mas Bimo dengan nada sinis. Keempat seniorku emosi berat karena ulah Fandy yang mereka dengar dari ceritaku tadi. Satu per satu, keempat seniorku secara bergantian mengeluarkan unek-unek kekesalan mereka yang dipendam selama ini karena memikirkan perasaanku. Aku diam mendengarkan dan membiarkan mereka berpikir bahwa aku memang menangis disebabkan patah hati karena si sialan Fandy yang berselingkuh itu. Aku hanya diam mendengarkan setiap umpatan yang dilontarkan para seniorku untuk Fandy. Dalam diam, aku malah jadi menyadari kebodohanku selama ini. Aku baru sadar dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya terjadi didalam hubunganku dengan si berengsek itu. Sial! Cinta itu buta ternyata memang benar. Kenapa aku baru sadar sekarang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN