Kepergian Chandra

1424 Kata
“Mas, nggak usahlah pergi-pergi ke sana. Besok siang saja.” “Dik…” Deny tak suka Karina memohon pada Chandra. Meskipun menyayangi keduanya, Deny lebih dekat secara emosional dengan Karina. Sejak kecil, sejak Deny bisa mengingat, Karina selalu meminta Chandra untuk ini-itu, tak pindah-pindah, menetap lebih lama, atau supaya suaminya lebih dekat dengan Deny. Yah pokoknya semacam itu. Kadang Karina sampai menangis sambil meminta agar suaminya mengabulkan keinginannya. Kebanyakan Chandra yang keras kepala tak mengindahkan omongan istrinya, tapi beberapa akhirnya ia lakukan. Misalnya mendekatkan diri dengan Deny. Diumur Deny yang waktu lima tahun, orang yang terbiasa mengurung diri di kamar setelah bekerja tersebut tiba-tiba duduk di sebelahnya saat sedang menggambar. Ia menatapi Chandra yang kelihatan masih menggunakan kemeja dan celana kerja, bahkan belum melepas kaos kakinya dan wajahnya terlihat kuyu. Bagi Deny kecil kedatangan Chandra bukan sesuatu yang menggembirakan. Maksudnya, Deny sudah terbiasa ditolak sang ayah ketika bekerja, jadi ia merasa sudah terbiasa dengan absennya figure maskulin di rumah. Ia cukup senang dengan kegiatan menemani sang ibu memasak, menonton tv, main sendirian di ruang keluarga, yah… pokoknya gak ada ayah, gapapa. Tapi hari itu Chandra duduk diam memperhatikannya, pria itu kadang tersenyum ketika Deny melirik diam-diam. Membuat Deny malah merasa tidak nyaman karena sepertinya krayon yang sedang ia pakai akan diambil. “Deny, ini apa?” Deny menengok pada Chandra yang sudah ada persis di sebelah kanan. Reflex pertama Deny kecil adalah berlari mencari ibunya kaget dan takut karena ada orang dewasa yang tiba-tiba melakukan hal tak biasa. Setelahnya, Karina berdiskusi dengan Chandra perihal kehadiran Chandra dalam kegiatan sehari-hari Deny. Sang ibu meminta ayahnya untuk lebih sering berinteraksi dengan Deny kecil. Mengingat itu lagi, Deny masih merasa sebal karena harusnya memang itu kewajiban dasar seorang ayah bukan? Mendampingi tumbuh kembang anaknya. Kenapa Karina harus sampai meminta? Memang seorang anak hanya tanggung jawab seorang ibu? Tapi ya sudahlah… Deny sudah memaafkan ayahnya. Berkat kejadian itu, Deny bisa dekat dengan sang ayah meskipun tak akan sedekat ia dengan ibunya. “Ayah mbok jangan ngeyel to.” Deny kali ini ikut ambil suara. Kedua orang tuanya menatap Deny yang sedang duduk bersandar di meja makan sambil menikmati mendoan hangat yang baru di goreng Karina. “Tuh, dengerin anak kamu.” Chandra menepuk jidatnya menatap keluarga kecilnya yang memaksanya tinggal. Mereka tidak mengerti seberapa pentingnya ini untuk masa depan ketignaya.  Ini bukan Cuma soal naik jabatan atau hadiah yang ditawarkan oleh pemerintah jika ia berhasil mengambil alih lahan hutan larangan. Tapi juga soal pembunuhan. Sudah banyak penduduk yang meninggal karena hantu-hantu hutan tersebut. Maka itu, sebelum maghrib, pak Lurah mewajibkan penduduk harus masuk rumah, tidak boleh ada yang di luar. Tentu, Chandra setuju dengan tindakan pencegahan ini. Masalahnya adalah, Chandra sama sekali tak mempercayai mitos hantu tersebut. Menurutnya, hantu mana bisa membunuh? Jadi Chandra yang sangat mengedepankan logika lebih percaya kalau ada dalang di balik meninggalnya orang-orang. Dan yang membuat Chandra semakin semangat adalah karena bukan hanya masyarakat, tapi juga para polisi hutan rekan sejawatnya. Hutan itu memang kebun milik pribadi awalnya, namun kemudian dibeli oleh pihak perhutani. Beberapa tahun setelahnya, hal-hal janggal mulai bermunculan, termasuk salah satunya a*u njegog. Semenjak saat itu, nama “larangan” dipakai sebagai tanda tiada orang yang dapat masuk. Hutan larangan di desa tersebut memang terkenal angker, sudah lima penjaga hutan yang gagal dalam artian tewas ketika masuk hutan tersebut. Dari data yang Chandra dapatkan, sebelumnya, sekitar lima belas sampai dua puluh  tahun yang lalu, hutan tersebut bisa dibilang merupakan hutan yang biasa-biasa saja, tidak ada hantu, tidak ada kemisteriusan, dan tiada hal yang janggal. Hanya saja, penjaga hutan pertama yang ditugaskan, mati secara mendadak di dalam hutan. Sejak itu, setiap penjaga hutan yang ditugaskan akan meninggal saat memasuki hutan. may@tnya akan ditemukan di pinggir hutan beberapa hari kemudian setelah menghilang. Tidak ada autopsy saat itu karena teknologi tersebut belum masuk ke desa dan tidak terkenal, selain itu, may@t polisi hutan akan langsung dikuburkan oleh warga sehingga sulit mengidentifikasi penyebab meninggal orang-orang tersebut. Sudah hampir delapan tahun kursi penjaga hutan tersebut sengaja dibiarkan kosong, pada akhirnya ayah Deny mengisinya karena diimingi mutasi jabatan yang cukup tinggi, dimana ia tak perlu lagi turun menjaga hutan, ia tinggal mengawasi di kantor dan Deny tidak perlu pindah-pindah bersamanya. Ia tidak akan membiarkan hantu-hantu itu mengganggu impian yang sudah ia susun jauh-jauh hari. “Kalian ini nggak ngerti!” “Apanya yang nggak ngerti? Besok pagi aja kenapa sih yah?” “Deny…” Keli ini Deny menghentikan pergerakan memasukkan tempe ke dalam mulutnya. Ia menatap sang ayah yang sudah membawa tas, sebuah bedhil, pentungan, dan senter yang disampirkan. Ayahnya memang keras kepala, dan entah mengapa hari ini Deny yakin ayahnya tak akan mendengarkan baik Deny maupun Karina. Tapi harus dicoba bukan? Remaja itu punya firasat buruk yang tidak bisa dijelaskan, dan firasat itu mengatakan agar ayahnya terus berada di rumah. “Kalau ayah pergi, Deny ikut.” Remaja itu akhirnya memberanikan diri untuk meminta membersamai Chandra. “Den… kamu nggak bisa ikut.” “Kenapa?” “Yang jaga bunda siapa?” Deny kali ini terdiam. Semua orang di ruangan tersebut diam dan merenung. Setengah jam lagi matahari akan terbenam, kentungan sudah dibunyikan tanda bahwa warga diminta masuk ke dalam rumah dan mengunci akses masuknya. “Sebentar lagi magrib, ayah harus segera pergi dan paling tidak sampai ke villa belakang.” “Ayah!” “KAMU DI RUMAH!” Kali ini Deny bisa melihat bahwa Chandra sudah kehabisan kesabaran. Pria itu mengetatkan ransel dan mengecek ulang semua barang. Sepatu hiking yang berwarna loreng itu ia kencangkan talinya. “Ayah pergi dulu,” Ucap Chandra. Karina tak menyalami suaminya dan masuk ke kamar membanting pintu. Wanita itu terdengar tersedu membuat Deny merasa tak senang. Lagi-lagi kekeras kepalaan ayahnya membuat ibunya sedih. “Jangan lupa pintu depan di kunci ya. Jendela ditutup. Lampu depan dimatikan. Kalau kamu mau nyalakan lampu ruang tengah, nggak papa. Ruangan ini nggak kelihatan menyala dari luar.” Tidak bisa mencegah Chandra. Tidak Deny, tidak Karina. Sang ayah tetap berniat pergi. Jadi Deny mengangguk kepala lemah. Ia tak ingin menunda ayahnya dan menyebabkan beliau tak sampai ke villa dan malah diserang a*u njegog di jalanan. ‘Kalau… a*u njegog memang ada,’ bisik batin Deny. Ia sungguh berharap mitos di desa ini bukan sebuah kenyataan. Suara sepatu keras ayahnya menggema di ruangan. Beliau berangkat lewat pintu belakang. “Titip salam buat bunda ya,” pinta Chandra. “Ayah…” “Iya?” “Kalau ayah butuh bantuan, teriak ya. Kalau memang dikejar anjing, balik aja. Pintu belakang nggak akan Deny kunci.” “Den…” “Jangan mati.” Chandra tersenyum dan mengangguk, tubuh tegap tersebut kemudian menghilang dibalik pintu. *** Magrib pun datang, jalanan begitu sepi tapi berbeda dengan sepi di hari-hari sebelumnya, ini sepi yang mencekam. Orang-orang sudah menutup rumah mereka sejak tadi, termasuk Deny. Pintu belakang belum ia kunci, sesuai janji yang ia buat dengan sang ayah. ‘Hantu kan nggak bisa buka pintu.’ Tentu saja ia mencemaskan Chandra, tapi ia berpikiran positif bahwa tak akan terjadi hal mengerikan terhadap orang tuanya. ‘Aaoooo…’ “Den, matikan lampunya!” Karina tiba-tiba berseru keluar kamar. Semua lampu segera Deny matikan, ia sungguh lupa pesan ayahnya soal lampu sehingga anak lelaki itu buru-buru berlarian mencari saklar. Lampu terakhir di ruang tamu. Belum sempat Deny mematikan lampu ruang tamu, ia mendengar derap langkah yang sangat banyak. Seperti berlari cepat, disusul sayup gonggongan yang makin banyak dan makin banyak. Remaja itu membeku di tempatnya. Entah mengapa tangannya terasa dingin, tapi ia tak bisa melakukan apapun. Suara salakan yang begitu banyaknya terdengar di depan pintu, cakar-cakar menerjang seolah ingin masuk. Apa pintunya bisa bertahan ya? ‘Klik’ Karina mematikan lampu dan membuat Deny tiarap di lantai. “Kita ke ruang baca pelan-pelan.” Tersadar, Deny mengangguk. Meskipun sudah lemas, ia berjongkok dan menuju ruang baca. Jujur saja, Deny tidak tahu di mana ruang baca karena kamar di rumah ini hanya ada tiga, kmar miliknya, kamar milik ayah dan ibunya, dan satu kamar lagi yang dipakai untuk menaruh barang alias gudang sementara. Jadi Deny mengasumsikan kamar itulah yang dimaksud oleh Karina. Salah, wanita itu mengarahkan Deny ke sebelah kanan, subuah tembok kayu yang ada di sebelah kamar Deny. Tembok itu memiliki list di tengah yang dirasa Deny tak cocok karena jadi tak enak disendari. Karina mendorong agak keras salah satu bagian tembok dengan tubuhnya sampai berbunyi ‘ceklek’, membuat sebuah ruangan yang tak pernah ia sadari ada, terbuka. “Ayo masuk.” Deny masih terkagum dan hanya manut ketika ditarik sang ibu ke dalam. Ia sempat melihat pintu belakang yang belum terkunci. ‘Semoga tidak terbuka.’  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN